Mangoendiprodjo, kakek Indroyono dapat gelar pahlawan nasional
Merdeka.com - Menyambut hari pahlawan yang jatuh pada 10 November mendatang, Presiden Joko Widodo akan menyerahkan gelar pahlawan kepada empat pejuang kemerdekaan. Keempatnya adalah Letjen TNI (Purn) Djamin Ginting, Sukarni Kartodiwirjo, HR Mohammad Mangoendiprojo dan Kiai Haji Abdul Wahab Hasbullah
Dalam keterangan pers yang diterima merdeka.com, Jumat (7/11), salah satu pejuang kemerdekaan yang akan menerima gelar tersebut dari Presiden Joko Widodo adalah Haji R. Mohamad Mangoendiprodjo. Dia adalah ayah dari Letjen Himawan Soetanto, mertua dari mantan Menko Polkam Soesilo Soedarman, eyang dari Menko Maritim Indroyono Soesilo, dan Eyang dari anggota DPR Aroem Hadiati.
Mangoendiprodjo merupakan cicit Setjodiwirjo atau Kyai Ngali Muntoha, keturunan Sultan Demak dan Prabu Brawidjaja. Setjodiwirjo merupakan tokoh pejuang yang melakukan pemberontakan terhadap Belanda bersama-sama dengan Pangeran Diponegoro dari Yogyakarta ke Kertosono, Ngawi dan Banyuwangi.
Sebelum bergabung dengan para pejuang, Mangoendiprodjo merupakan lulusan OSVIA pada 1927 dan diangkat menjadi pegawai pemerintah, sebagai sebagai Wakil Kepala Jaksa dan kemudian Asisten Wedana, di Jombang, Jawa Timur. Namun, dia memilih melepas jabatan tersebut dan memilih bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) ketika usianya masih 38 tahun.
Setelah Jepang menyerah dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Mohamad bersama para pemimpin TKR lainnya, seperti Bung Tomo, Doel Arnowo, Abdul Wahab, Drg Moestopo melakukan perlawanan sekutu.
Pertempuran mencapai puncaknya pada akhir Oktober, hingga tentara sekutu dikepung seluruh pejuang dan rakyat. Kondisi itu membuat sekutu memutuskan melakukan gencatan senjata. Atas perintah pimpinan TKR, Mangoendiprodjo diminta mewakili Indonesia untuk melaksanakan perjanjian tersebut.
Pada 29 Oktober 1945 sore, Mangoendiprodjo bersama Brigadir Mallaby berpatroli keliling kota Surabaya untuk melihat progres gencatan senjata. Rombongan ini berhenti di Jembatan merah depan Gedung Internatio.
Dalam gedung, tentara Inggris dari kesatuan Gurkha, sedang dikepung oleh pemuda-pemuda Indonesia di luar gedung, untuk diminta menyerah. Mangoendiprodjo masuk ke dalam gedung yang dikuasai Inggris untuk melakukan negosiasi.
Tanpa disangka, Mangoendiprodjo kemudian disandera oleh tentara Ghurka dan terjadilah tembak-menembak antara tentara Inggris dan pemuda Surabaya. Mobil Mallaby meledak dan terbakar. Mallaby tewas di dalam mobil.
Inggris dan sekutu marah dan mengultimatum tentara dan Rakyat Indonesia di Surabaya menyerah, ultimatum ini tentunya ditolak oleh Mangoendiprodjo, serta jajaran TKR dan pemuda Surabaya, sehingga terjadilah pertempuran 10 Nopember 1945, hingga Surabaya dihancurkan Inggris melalui darat, laut dan udara dan pecahlah perang terbuka.
Pertempuran di Surabaya ini nantinya berlangsung selama 22 hari dengan korban TKR 6315 pejuang. Mangoendiprodjo walaupun terkena pecahan mortir di pelipisnya, tetap terus memimpin pertempuran melawan tentara Sekutu.
Setelah mengakhiri karier militer, Mangoendiprodjo menerima tugas Soekarno menjadi Bupati Ponorogo. Tugas Mangoendiprodjo adalah untuk mengamankan daerah Madiun setelah pemberontakan PKI Muso. Ia kemudian menerima tugas sebagai Residen (Gubernur) pertama Lampung, untuk juga mengendalikan keamanan di daerah ini.
Mangoendiprodjo meninggal Pada 13 Desember 1988 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di kota Bandar Lampung. Terkait anugerah pahlawan nasional tersebut, cucu Mangoendiprodjo, Tri Haryo Susilo yang juga CEO PT Supreme Energy mengaku bersyukur dan berterima kasih pada Jokowi.
"Kami sangat bersyukur kepada Allah SWT atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional ini oleh Pemerintah Republik Indonesia. Dengan penuh kerendahan hati kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah RI khususnya kepada Presiden Joko Widodo atas penganugerahan gelar pahlawan nasional ini," tuturnya.
Sementara, Indroyono Susilo yang kini diangkat sebagai Menteri Koordinator Kemaritiman mengatakan pengusulan Mangoendiprodjo sudah berlangsung sejak 3 tahun lalu. Namun, baru terealisasi saat ini.
"Setahu kami sudah dilakukan sejak lebih dari 3 tahun yang lalu oleh berbagai kalangan dan lapisan masyarakat di Jawa Timur, hari pahlawan yang jatuh tanggal 10 November nanti sangat terkait dengan perjuangan eyang di Palagan, Surabaya," pungkas Indroyono. (mdk/tyo)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya