Mangkrak 3 bulan, proyek galian pipa perparah kemacetan di Bogor
Merdeka.com - Hampir tiga bulan proyek galian pipa gas alam di sejumlah ruas jalan di Kota Bogor tak kunjung selesai. Bahkan, kondisi tersebut selain menghambat kelancaran arus lalu lintas, keselamatan para pengguna jalan juga menjadi terancam.
Terlihat tumpukan tanah serta pipa-pipa yang hendak dipasang dibiarkan begitu saja di bahu jalan.
Berdasarkan pantauan, keluhan warga dan pengguna jalan terhadap proyek yang bertujuan memenuhi kebutuhan gas alam di wilayah Kota maupun Kabupaten Bogor itu, sebagian besar di jalur atau jalan nasional. Seperti di Jalan KS Tubun-Pomad, Kedunghalang Talang, Kelurahan Kedunghalang, Bogor Utara, dan Jalan Raya Tajur-Ciawi, Bogor Selatan, Kota Bogor.
Bahkan, aparat terkait baik dari Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Bogor Kota maupun Dinas Lalu Lintas Angkutan dan Jalan (DLLAJ) Kota Bogor seolah acuh dengan keluhan kemacetan dan kekhawatiran masyarakat terkait proyek tersebut.
Hampir setiap hari di ruas Jalan KS Tubun-Jalan Raya Bogor-Jakarta, tepatnya di Simpang Kedunghalang Talang, kemacetan parah yang biasanya terjadi saat akhir pekan, sejak ada proyek tersebut hampir setiap hari tak mengenal waktu mengalami kemacetan sepanjang dua kilometer.
Selain dikarenakan terjadinya penyempitan badan jalan dikarenakan tumpukan tanah dan pipa dibiarkan memakan bahu jalan.
"Saya juga bingung kemana aparat terkait baik kepolisian maupun DLLAJ Kota Bogor, kenapa tidak ada upaya untuk mengantisipasinya. Sudah jelas, di Jalan KS Tubun, Simpang Kedunghalang Talang ini, tidak ada galian saja macetnya cukup menyiksa. Sekarang ada galian yang sudah lebih dari dua bulan, tapi terkesan tak ada kordinasi satu sama lain cara mengatasinya," ketus Hamdani (27) warga Kedunghalang Talang, Kedunghalang, Bogor Utara, Kota Bogor, Rabu (19/10).
Hal senada diungkapkan Ahmad Rifai (36), warga Kelurahan Ciparigi, Bogor Utara, Kota Bogor. Ia mengaku cukup kesal dan hampir setiap hari harus melintasi kemacetan saat keluar dari rumah untuk beraktifitas.
"Selain tidak ada pemberitahuan kapan proyek galian pipa gas itu selesai, di sepanjang jalan tersebut saya lihat tidak ada sama sekali pekerja, maupun petugas yang mengatur lalu lintas, akibatnya kemacetan dan keselamatan pengendara roda dua terancam. Kemana mereka ini," ungkapnya.
Tak hanya itu, di Jalan Raya Sukasari-Ciawi, Bogor Selatan, Kota Bogor, bekas galian proyek pipa gas itu terlihat sudah banyak ditumbuhi tanaman. Seolah pekerjaan pembangunan jaringan gas alam, dibiarkan mangkrak.
"Selain, membahayakan juga mengakibatkan kondisi jalan licin saat turun hujan. Saya beberapa kali nyaris terpeleset saat melintas di ruas sebelah kanan arah Sukasari ke Ciawi. Saya paham proyek itu untuk kepentingan masyarakat juga, tapi jangan sampai proyek ini mengganggu para penguna jalan," ujarnya Asep Saepulloh, warga Tajur, Bogor Timur, Kota Bogor.
Tak hanya penguna jalan, megaproyek pembangunan jaringan pipa gas alam ini juga berdampak terhadap penghasilan pemilik usaha warung nasi di sepanjang Jalan Raya Sukasari-Tajur hingga Ciawi.
"Sebab tak sedikit pembeli yang akhirnya memilih tempat lain saat hendak ke warung makan. Karena mereka yang membawa kendaraan kesulitan untuk parkir," keluh Firman (45), warga Batu Tulis, Bogor Selatan, Kota Bogor.
Sementara, di sepanjang Jalan Sukasari menuju Ciawi, tidak nampak terlihat para pekerja proyek galian pemasangan gas tersebut. Namun, tanah bekas galian dibiarkan menumpuk di pinggir jalan.
Proyek rehabilitasi pipa itu terlihat makin kurang jelas. Akibatnya, lebih dari satu bulan galian di ruas Jalan Pemuda hingga Jembatan Situ Duit, Warung Jambu pun mengganggu arus lalu lintas maupun pejalan kaki.
"Seharusnya, galian jangan dibiarkan terbuka," keluh Sunandar (29), salah satu pengendara sepeda motor saat ditemui di simpang Jambu Dua, Bogor Utara, Kota Bogor. (mdk/rhm)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya