Makna hari pernikahan Kahiyang Ayu menurut penanggalan Jawa

Jumat, 13 Oktober 2017 17:37 Reporter : Arie Sunaryo
Makna hari pernikahan Kahiyang Ayu menurut penanggalan Jawa Konpers pernikahan Kahiyang. ©Setpres RI

Merdeka.com - Di sebagian kalangan masyarakat, khususnya Kota Solo dan sekitarnya, penanggalan Jawa atau pawukon masih menjadi pertimbangan tersendiri, saat akan memulai aktivitas penting. Dalam melakoni pernikahan, memulai usaha atau kegiatan penting lainnya, hari baik harus diperhitungkan melalui ahlinya.

Presiden Joko Widodo ( Jokowi) dan Ibu Negara Iriana telah menetapkan hari pernikahan putrinya, Kahiyang Ayu dan Muhammad Bobby Afief Nasution pada 8 November mendatang. Pemilihan hari yang diyakini baik tersebut diakuinya telah melalui pertimbangan matang, seperti dikatakan keduanya saat konferensi pers, Minggu (17/9) lalu. Tanggal pernikahan Kahiyang, bertepatan dengan hari Rabu Pahing dalam perhitungan penanggalan Jawa.

Pengasuh pawukon Museum Radya Pustaka Solo, Totok Yasmiran pun mengakui, tanggal pernikahan putri Presiden Jokowi itu merupakan hari baik. Ada sifat-sifat baik dalam hari itu.

"Untuk pernikahan Kahiyang dan Bobby itu jatuh pada hari Rabu Pahing 8 November, bertepatan dengan 17 Sapar 1951 tahun Dal, Windu Sengoro. Itu pangrasan lakuning banyu cenderung mengalir dan selalu merendah. Kemudian panca sudanya wasesa segara, itu artinya pemaaf, jika dicaci pun tidak sakit hati, disanjung pun tidak sombong," ujar Totok, Jumat (13/10).

Menurut Totok, hari tersebut juga termasuk hitungan sanggar waringin, yang artinya bisa saling mengayomi. Harapannya, lanjut dia, Kahiyang dan Bobby akan menjadi keluarga sakinah mawadah warrahmah.

Totok menjelaskan, penghitungan tersebut merupakan bagian dari budaya Jawa dan ikhtiar. "Yang menentukan Tuhan Yang Maha Kuasa," katanya.

Totok menambahkan, penghitungan tersebut bersumber pada sejumlah kitab kuno. Salah satu yang digunakan adalah Serat Pawukon yang ditulis oleh Ki Padmosusastro. Menurutnya penghitungan penanggalan Jawa juga menggunakan acuan dari Kitab Primbon yang ditulis oleh R Tanoyo.

"Primbon ini merupakan sari dari sejumlah kitab kuno lain, termasuk Serat Centhini yang merupakan ensiklopedianya Jawa," jelas dia.

Selain untuk penghitungan saat akan melangsungkan pernikahan, ada juga yang menggunakan untuk memilih hari untuk pindah rumah, memulai usaha dan lainnya. [rnd]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini