Luhut Ceritakan Kegarangan Jenderal Benny Moerdani di Era Soeharto
Merdeka.com - Luhut Binsar Panjaitan masih berpangkat mayor. Namun dia kerap dipanggil menghadap oleh Panglima ABRI Jenderal Benny Moerdani. Keduanya bisa berbincang hingga berjam-jam. Kebiasaan ini rupanya membuat para senior sewot.
Jebolan terbaik Akabri 1970 itu mulai sadar diri. Luhut memberanikan diri berbicara dengan Benny. Dia meminta jika ada keperluan dipanggil melalui komandan di kesatuan. Rupanya Benny kesal mendengar itu.
"Suatu hari ketika mood Pak Benny sedang bagus, saya beranikan diri bertanya, 'Pak, mohon izin, lain kali kalau memanggil saya bisakah melalui atasan saya?" saran Luhut dikutip dari akun facebooknya, Kamis (25/7).
"Saya curi pandang wajahnya, dan mukanya lalu mengeras. Kedua tangannya mulai menyapu-nyapu mejanya, dan saya menyesal kok berani-beraninya membuat beliau marah."
Melihat itu perasaan Luhut tidak enak. Dia menyadari sosok begitu dikaguminya naik pitam. Nasi sudah jadi bubur. Luhut pun pasrah.
"Luhut, saya jenderal bintang empat, kamu letkol," tegas Benny sambil menunjukkan tanda pangkatnya di bahu seperti ditirukan Luhut.
Luhut hanya menjawab, "Siap!". Sejak itu Luhut tidak pernah berani lagi menanyakan hal tersebut.
Pengalaman lain dirasakan Luhut ketika mendapat penugasan memimpin operasi khusus mengamankan Presiden Soeharto dalam KTT ASEAN di Manila, Filipina. Benny yang dikenal jarang senyum dengan dingin menyampaikan pesan ke Luhut.
"Luhut, sejak dua atau tiga tahun lalu, sudah banyak yang antre untuk menggantikan saya, tetapi orang ini (sambil menunjuk foto Pak Harto di dinding) kalau terjadi sesuatu pada dirinya, Republik itu menjadi kacau."
"Jadi Luhut, taruhan keselamatan Pak Harto adalah lehermu," ancam Benny. Sebagai perwira Luhut cuma menjawab, "Siap. Laksanakan."
Kepercayaan Benny ke Luhut sudah terlihat ketika dikirim dikirim belajar mengenai pasukan anti-teror di GSG-9 di Jerman Barat, bersama Kapten Prabowo Subianto. Setelah itu Luhut ditunjuk memimpin Datasemen 81 (Den-81), pasukan anti-teror pertama di Indonesia.
"Saya sering dipanggil menghadap Pak Benny di kantornya di Jalan Saharjo (sekarang lokasinya menjadi Balai Prajurit TNI), entah menanyakan pelatihan pasukan yang baru itu, atau lain-lain," katanya.
Luhut mengaku terkesan dengan wibawa serta loyalitas Benny kepada pimpinan negara dan NKRI. "Setiap kata atau tindakannya mencerminkan, menurut istilah masa kini, kesetiaan yang tegak lurus ke atas," katanya.
Hubungan dekat ini rupanya berdampak pada perjalanan karier Luhut. Benny dicopot Soeharto sebagai Panglima. Soeharto marah karena Benny mengingatkan bisnis putra dan putrinya yang sudah kelewat batas.
Setelah itu bisa diprediksi, bintang terang Luhut perlahan meredup. Sepanjang karier di TNI, Dia tidak pernah memegang tongkat komando, seperti jadi Danjen Kopassus, Pangdam, Pangkostrad apalagi Kasad.
"Saya menerima konsekuensi karena jadi 'golden boys' Pak Benny. Tapi saya terima itu dengan besar hati," tandasnya.
(mdk/did)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya