Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) mendesak pemantauan berkelanjutan terhadap daerah terdampak bencana di Sumatera, termasuk Kabupaten Aceh Tamiang. Desakan ini muncul menyusul keprihatinan mendalam atas banjir bandang yang melumpuhkan sebagian wilayah tersebut.
Ketua Umum LTKL, Rizal Intjenae, menyoroti pentingnya kesiapsiagaan kolektif menghadapi bencana hidrometeorologi. Ia menekankan bahwa situasi di Aceh Tamiang saat ini sangat memprihatinkan dan memerlukan dukungan cepat dari berbagai pihak.
Banjir yang melanda sejak Rabu (26/11) telah menyebabkan Kota Kualasimpang lumpuh dengan ketinggian air mencapai tiga meter di beberapa titik. Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang telah menetapkan Status Tanggap Darurat untuk mempercepat penanganan bencana.
Advertisement
Advertisement
Dampak Luas Banjir Aceh Tamiang dan Kesiapsiagaan Daerah
Banjir bandang di Aceh Tamiang telah menimbulkan dampak signifikan, merendam setidaknya 70 rumah warga di berbagai lokasi. Selain itu, fasilitas umum vital seperti sekolah dan rumah ibadah, serta jaringan kelistrikan, turut terganggu akibat genangan air yang tinggi dan angin kencang. Kondisi ini memperlihatkan kerentanan infrastruktur daerah terhadap intensitas bencana hidrometeorologi yang semakin meningkat.
Bupati Aceh Tamiang, Armia Pahmi, secara langsung memimpin operasi pengendalian bencana di lapangan. Penetapan Status Tanggap Darurat sejak Rabu (26/11) merupakan respons cepat pemerintah daerah. Hal ini menunjukkan keseriusan dalam menghadapi potensi risiko yang dilaporkan dari seluruh kecamatan.
Rizal Intjenae dari LTKL menegaskan bahwa bencana ini harus menjadi perhatian bersama untuk perbaikan tata kelola lahan. Pendekatan berkelanjutan diperlukan demi membangun daerah yang lebih tangguh terhadap ancaman bencana di masa depan. Upaya mitigasi jangka panjang menjadi krusial untuk mengurangi risiko serupa.
Advertisement
Advertisement
Tantangan Penanganan dan Solidaritas Nasional
Akses menuju sejumlah wilayah terpencil di Aceh Tamiang masih terputus secara total, baik akibat genangan banjir yang tinggi maupun longsor di beberapa titik. Hal ini secara signifikan menghambat upaya evakuasi warga yang terjebak, serta menyulitkan distribusi logistik dan pengiriman bantuan tambahan. Akibatnya, sebagian besar warga di daerah terisolasi masih sulit dijangkau oleh petugas penyelamat dan tim medis.
Terputusnya jaringan komunikasi juga menjadi masalah serius, menyebabkan banyak keluarga di luar daerah khawatir. Mereka belum dapat memperoleh kabar terbaru dari anggota keluarga yang berada di lokasi bencana. Situasi ini menuntut perhatian intensif dan pemulihan infrastruktur komunikasi segera agar informasi dapat tersampaikan.
Direktur Eksekutif Apkasi, Sarman Simanjorang, menyatakan solidaritas nasional untuk membantu wilayah terdampak. Apkasi saat ini tengah menggalang dukungan dan dana untuk mempercepat penanganan serta pemulihan masyarakat Aceh Tamiang. Kolaborasi antar-lembaga diharapkan dapat meringankan beban korban dan mempercepat proses rehabilitasi.
Advertisement
Sumber: AntaraNews