Kurir 53 Kilogram Sabu-Sabu di Medan Dituntut Hukuman Mati

Selasa, 21 Mei 2019 23:48 Reporter : Yan Muhardiansyah
Kurir 53 Kilogram Sabu-Sabu di Medan Dituntut Hukuman Mati Kurir 53 Kg Sabu-Sabu Dituntut dengan Hukuman Mati. ©2019 Merdeka.com/Yan Muhardiansyah

Merdeka.com - Dua warga Tanjung Balai dituntut dengan hukuman mati. Mereka terancam dikenakan pidana maksimal itu karena dinilai telah menyelundupkan sekitar 53 Kg sabu-sabu dari Malaysia ke Kota Medan.

Dua terdakwa yang dituntut dengan hukuman mati, yakni Junaidi Siahaan alias Edi (37) warga Keramat Kubah, Sei Tualang Raso, Tanjung Balai, dan Elpi Darius (49), warga Kapias Pulau Buaya, Teluk Nibung, Tanjung Balai.

Tuntutan hukuman mati terhadap Junaidi dan Elpi disampaikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rahmi Syafrina di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (21/5).

"Kedua terdakwa dinilai telah melakukan perbuatan diatur dan diancam Pidana Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 132 (1) UU RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, karena telah melakukan percobaan atau permufakatan jahat, menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan sabu-sabu yang beratnya melebihi 5 gram," katanya.

"Meminta kepada majelis hakim memeriksa dan mengadili perkara ini menjatuhkan hukuman kepada terdakwa dengan pidana mati," lanjut Rahmi di hadapan majelis hakim yang diketuai Morgan Simanjuntak.

Seusai pembacaan tuntutan, majelis hakim menunda persidangan hingga pekan depan. Sidang selanjutnya mengagendakan pembelaan (pledoi) terdakwa.

Berdasarkan dakwaan, tindak pidana narkotika ini bermula pada 29 September 2018 saat seseorang di Malaysia menelepon Junaidi dan menyuruhnya menyewa boat untuk menjemput 50 bungkus ke Port Klang, Malaysia. Junaidi dijanjikan upah Rp 50 juta.

Dia diperintahkan berhubungan dengan Darwin (belum tertangkap), yang akan menjadi tekong boat sewaan itu. Junaidi menyewa boat milik warga Tanjung Balai sebesar Rp 25 juta. Uang itu didapat dari Febri (belum tertangkap) yang menerima transfer orang yang memberi perintah di Malaysia.

Singkat cerita, Darwin membawa boat dan langsung berangkat ke Port Klang, Malaysia untuk menjemput sabu-sabu. Pada 3 Oktober 2018 dia menelepon Junaidi dan menyatakan boatnya rusak. Narkotika yang dibawanya terpaksa diturunkan di Tanjung Sarang Elang, Labuhan Batu, Sumut.

Junaidi pun menyuruh Elpi untuk menghubungi Darwin. Mereka sepakat narkotika itu diambil di tangkahan boat di Tanjung Sarang Elang. Untuk menjemput sabu-sabu itu, Junaidi kembali berhubungan dengan Febri. Dia dipinjamkan mobil Honda CRV dengan nomor polisi BK 630 DZ.

Junaidi juga diberi handphone. Penerima sabu-sabu itu nantinya akan menelepon melalui perangkat itu. Junaidi dan Elpi pun menjemput sabu-sabu itu di lokasi yang ditentukan. Setelah memuat narkotika itu, mereka bergerak ke Medan, namun sempat singgah ke Padang Sidimpuan, Rantau Prapat, dan Berastagi.

Di perjalanan, Junaidi menerima telepon dari Zainal Abidin alias Zainal (penuntutan terpisah). Komunikasi itu menggunakan handphone yang diberikan Febri. Zainal menyatakan sabu-sabu itu akan diterima Bahlia Husen alias Iwan (penuntutan terpisah).

Di perjalanan, tepatnya di kawasan Pancur Batu, mobil mereka dikejar petugas Badan Narkotika Nasional (BNN). Mereka akhirnya di hadang dan dihentikan di Jalan Brigjen Zein Hamid, Titi Kuning, Medan Johor, pada Jumat (5/10/2018) sekitar pukul 01.15 Wib.

Junaidi dan Elpi ditangkap bersama barang bukti 6 jeriken berisi 50 bungkus sabu-sabu dengan berat bruto 53.386 gram. Keduanya diproses dan diadili dan dituntut dengan hukuman mati. [fik]

Topik berita Terkait:
  1. Kasus Narkoba
  2. Hukuman Mati
  3. Medan
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini