Kuasa hukum sebut kasus Asma Dewi tak ada kaitannya dengan Saracen

Rabu, 13 September 2017 22:40 Reporter : Raynaldo Ghiffari Lubabah
Tim pengacara Asma Dewi. ©2017 merdeka.com/renald ghiffari

Merdeka.com - Direktur Lembaga Bantuan Hukum Kebangkitan Jawara dan Pengacara (LBH Bang Japar) sekaligus pengacara Asma Dewi, Juju Purwantoro menegaskan kliennya tidak terkait dengan kasus yang menjerat kelompok penyebar ujaran kebencian di media sosial, Saracen.

Sebab, tuduhan yang disangkakan kepada Dewi hanya terkait konten ujaran kebencian dan penghinaan agama dan ras tertentu.

Sebagaimana tercantum dalam pasal 45 ayat (2) Jo pasal 28 ayat (2) UU No. 11 Tahun 2008 tentang ITE dan Pasal 45A ayat (2) Jo pasal 28 ayat(2) UU No. 19 tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No. 11 tahun 2008 tentang ITE dan/atau pasal 16 Jo pasal 4 huruf b angka 1 UU No. 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan/atau pasal 156 KUHP dan/atau pasal 207 KUHP dan/atau pasal 208KUHP.

"Menurut kami kasus ini hanya sebatas kasus dugaan ujaran kebencian terhadap ras, etnis atau SARA tidak ada hubungannya dengan kasus Saracen," kata Juju di Kantor LBH Bang Japar, Pasar Minggu, Jakarta, Rabu (13/9).

Juju juga membantah rumor adanya transfer uang sebesar Rp 75 juta dari Asma Dewi ke Saracen untuk memesan ujaran kebencian.

"Jika itu benar maka logikanya Tersangka Kasus Saracen harus disangkakan dengan pasal pembuat dan penyebar ujaran kebencian bukan mengakses komputer atau sistem elektronik dengan cara tanpa hak," tegasnya.

Oleh karena itu, kata Juju, kasus Dewi tidak ada korelasinya dengan kasus Saracen.

"Karena kasus Saracen dan kasus Asma Dewi adalah dua kasus yang berbeda dan berdiri sendiri. Tidak ada kaitan satu sama lainnya," pungkasnya.

Diketahui, Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menangkap Asma Dewi, Jumat (8/9). Awalnya, polisi menangkap Dewi karena mengunggah konten ujaran kebencian dan penghinaan agama dan ras tertentu.

Berdasarkan pengembangan kepolisian, Asma Dewi yang ditangkap di Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan tersebut diduga pula pernah mentransfer uang sebesar Rp 75 juta ke pengurus inti kelompok Saracen.

Kelompok tersebut sebelumnya telah diciduk akibat menyebarkan ujaran kebencian dan konten berbau SARA di media sosial. [bal]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.