KPK sita mobil Alphard milik Eddy Rumpoko

Senin, 18 September 2017 20:07 Reporter : Intan Umbari Prihatin
KPK sita mobil Alphard milik Eddy Rumpoko Penggeledahan KPK di Rumah Dinas Eddy Rumpoko. ©2017 merdeka.com/darmadi sasongko

Merdeka.com - Usai resmi menetapkan Wali Kota Batu Eddy Rumpoko sebagai tersangka, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga menyita satu unit mobil Alphard miliknya. Juru bicara KPK, Febri Diansyah mengatakan, mobil tersebut disita saat tim penyidik menggeledah rumah dinas Wali Kota Batu di Jalan Panglima Sudirman, Suberejo, Kota Batu, Jawa Timur, Senin (18/9).

Selain mobil mewah, kata Febri, dalam penggeledahan di rumah dinas Wali Kota Batu, tim satgas juga menyita uang tunai 10 ribu USD. Tidak hanya rumah dinas, tim penyidik juga menggeledah beberapa lokasi lainnya.

Yaitu Balai Kota Among Tani di Kantor Pemerintah Kota Batu yang beralamat di Jalan Panglima Sudirman, Kota Batu, dan rumah atau kantor PT Amarta Hills Hotel milik Filipus yang beralamat di Jalan Brigjen Katamso, Kota Malang.

"Penggeledahan ini dilakukan secara serentak oleh tiga tim sejak pukul 12.00 WIB," kata Febri ketika dikonfirmasi, Senin (18/9).

Tidak hanya menggeledah tiga lokasi. Tim KPK kata Febri juga sedang melakukan penyitaan CCTV di Hotel Amarta. "Penyitaan tersebut terkait pemberian uang kepada EDS (Kabag ULP Kota Batu, Eddy Setiawan)," pungkas Febri.

Diketahui sebelumnya, Wali Kota Batu, Edy Rumpoko sudah jadi tersangka. Dia diduga menerima komisi 10 persen atau Rp 500 juta dari proyek belanja modal dan pengadaan meubel air di Pemkot Batu Tahun Anggaran 2017.

"Pemberian uang terkait fee 10 persen untuk Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko (ER) dari proyek belanja modal dan mesin pengadaan reguler di Pemkot Batu tahun anggaran 2017 yang dimenangkan oleh PT Dailbana Prima (DP) nilai proyek sebesar Rp 5,26 miliar," ujar Wakil Ketua KPK Laode M Syarif di Gedung KPK, Minggu (17/9).

Laode menjelaskan dari Operasi Tangkap Tangan (OTT) tersebut pihaknya menyita uang tunai dengan pecahan Rp 50.000 sebesar Rp 200 juta. Kemudian, sisanya kata dia sebesar Rp 300 juta sudah diberikan terlebih dahulu untuk melunasi mobil Alphard milik Edy.

Tidak hanya uang sebesar Rp 200 juta yang disita oleh KPK. Pihaknya juga menyita uang tunai Rp 100 juta yang diduga diterima oleh Edy (EDS), Kepala Bagian Layanan dan Pengadaan (Kabag ULP) Pemkot Batu. Uang tersebut diduga diterima Edy dari pengusaha Filipus Djap (FHL). "Fee tersebut diduga untuk panitia pengadaan," jelas Laode.

Diketahui, Wali Kota Batu Eddy Rumpoko, Kepala Bagian Layanan dan Pengadaan (Kabag ULP) Pemkot Batu Edi Setiawan ditetapkan sebagai tersangka penerima suap.

Keduanya diduga melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Sementara itu, pengusaha Philip ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap. Dia diduga melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. [fik]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini