Komnas KIPI: Tidak Benar KIPI Anak Lebih Tinggi dari Dewasa

Sabtu, 22 Januari 2022 16:49 Reporter : Intan Umbari Prihatin
Komnas KIPI: Tidak Benar KIPI Anak Lebih Tinggi dari Dewasa Ilustrasi Vaksin. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Ketua Komnas KIPI Hinky Hindra menepis kabar kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) lebih banyak dialami oleh anak-anak dibandingkan dengan orang dewasa. Hal itu terlihat dari data, laporan terbanyak KIPI pada kelompok usia 31-45, kemudian diikuti dengan kelompok usia 18-30 tahun.

"Jadi tidak benar KIPI pada anak itu lebih tinggi, data yang kami terima menunjukan proporsi KIPI pada remaja dan anak lebih rendah dibandingkan dengan yang dewasa," kata Hinky dalam diskusi 'IDAI menjawab kegalauan tentang vaksin Covid-19 pada anak' dalam siaran teleconference, Sabtu (22/1).

data rentang usia alami kipi vaksin

Hinky menuturkan KIPI serius setelah vaksin yang dialami pada anak jarang ditemui. Biasanya bukan karena vaksinasi, melainkan penyakit lain.

"Karena memang ada serius itu jarang banget, kalau enggak udah keliatan ini di fase 1," bebernya.

Hinky menjelaskan, jika ditemukan kejadian KIPI serius pihaknya akan mendeteksi terlebih dahulu. Apakah anak tersebut mengalami KIPI karena vaksinasi.

"Karena biasanya serius illness itu jarang menyebabkan terkait imunisasi. Karena biasanya reaksinya bersifat ringan atau menengah reaksinya, nyeri ditempat suntikan demam, atau nyeri kepala," pungkasnya. [lia]

Baca juga:
Orangtua Tak Perlu Panik, Ini Cara Atasi KIPI Vaksin Covid-19 Pada Anak
Cegah Lonjakan Omicron, Mendagri Minta Camat di Pekanbaru Kebut Vaksin Booster & Anak
Kasus Dugaan Suntikan Vaksin Kosong di Medan, Menkes sudah Tahu Pelakunya
Respons Kemenkes soal Viral Suntikan Kosong Vaksinasi Anak di Medan
Siswa SD di Makassar Mulai Disuntik Vaksin, Target 132 Ribu Orang

2 dari 2 halaman

Masyarakat Diminta Segera Melakukan Vaksinasi Covid-19

Ketua Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Sri Rezeki Hadinegoro memastikan vaksin Covid-19 yang digunakan di Indonesia aman. Memiliki efikasi yang telah melewati uji klinis fase kedua.

"Kalau, misalnya jelek atau misalnya efek sampingnya tinggi mungkin ini enggak jadi vaksin berhenti sampai di sini, tetapi kalau ini semuanya baik maka masuk tahap produksi vaksin," katanya dalam diskusi 'IDAI menjawab kegalauan tentang vaksin Covid-19 pada anak' dalam siaran telekonference, Sabtu (22/1).

Sri menuturkan, pada tahap produksi vaksin Covid-19, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) melakukan pengawasan mulai tahap penyimpanan hingga tahap distribusi vaksin. Proses pembuatan vaksin Covid-19 tidak mudah membutuhkan waktu panjang dan sangat ketat.

"Jadi jangan menganggap bahwa membuat vaksin sederhana, pengamanannya betul-betul luar biasa," bebernya.

Itu sebabnya, dia mendorong masyarakat melakukan vaksinasi. Harapannya, mengurangi sebaran kasus Covid-19 dan melindungi sistem kesehatan.

Tidak lupa dia juga mengingatkan agar masyarakat terus menerapkan protokol kesehatan.

"Ini konsep 5M mengapa harus dikerjakan dengan vaksinasi," pungkasnya.

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini