Kisruh Pasar Turi Baru tak berujung, nasib pedagang terancam
Merdeka.com - Sengkarut kasus Pasar Turi masih menjadi perhatian publik. Mulai soal izin oprasional dari Pemkot Surabaya yang tak kunjung turun, hingga masalah bos PT Gala Bumi perkasa (GBP), Henry J Gunawan, yang masih bergelut di meja hukum.
Henry selaku pengelola Pasar Turi Baru, terjerat dua kasus penipuan dan penggelapan. Satu kasus dilaporkan sesama investor, yaitu PT Joyo Mashyur (Tegus Kinarto) dan PT Siantar Top (Heng Hok Soei alias Asoei). Kasus lain, juga penipuan dan penggelapan, dilaporkan para pedagang.
Akibat persoalan yang menjerat Henry dan belum turunnya izin operasional dari Pemkot Surabaya ini, beribas pada nasib para pedagang Pasar Turi Baru.
Banyak pedagang terpaksa gulung tikar alias bangkrut. Ada juga yang terpaksa meninggalkan stan mencari usaha baru.
Seperti curhatan Akbar Maghrobi (28), pengusaha konveksi yang kini berprofesi sebagai sopir. "Biasanya saya dan ibu yang jaga stan. Tapi karena semakin sepi, saya banting setir jadi sopir. Dan ibu saya sekarang jaga sendiri," ungkap Robi, sapaan Akbar Maghrobi, Rabu (5/9).
Diceritakan Robi, stan miliknya di Pasar Turi Baru ditinggalkan karena sepi pengunjung. Dia dan ibunya lantas pindah ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang ada di depan gedung.
Namun ternyata, kondisnya tetap sama. "Hampir tiap hari itu tidak ada pembeli baru. Yang beli itu tinggal pelanggan lama saja," ungkap warga Pucang Sewu, Surabaya ini.
Robi memutuskan mencari penghasilan lain. Sempat bekerja di distributor air mineral kemasan, Robi kemudian beralih menjadi sopir perusahaan di Pasuruan.
"Saya tiap hari pergi-pulang dari Surabaya ke Pasuruan. Ya bagaimana lagi, kalau tidak begini dari mana saya dapat penghasilan, wong dagangan sepi," keluh pemuda yang mengaku tengah menabung untuk biaya menikah ini.
Berharap konflik selesai
Robi berharap, kasus yang menjerat Henry selesai dan Pemkot Surabaya segera memberi izin operasional Pasar Turi Baru agar para pedagang bisa kembali berjualan. "Yang penting (pengunjung) bisa ramai lagi," harapnya.
Keluhan sama juga disampaikan pedagang lain di Pasar Turi Baru. Yudia, misalnya. Perempuan 47 tahun ini lebih memilih mengurus rumah tangganya karena sudah tak punya modal untuk membuka usaha lain. "Mau cari kerja lain, juga bingung mau kerja apa. Akhirnya ya begini, nganggur. Paling ngurus rumah," keluh ibu dua anak ini.
Yudia mengaku tak menyangka nasibnya sebagai pedagang hancur pasca-kebakaran Pasar Turi. Terakhir, kebakaran hebat terjadi di tahun 2012. Gedung baru Pasar Turi dibangun kembali oleh PT GBP, selaku pemegang tender.
Nahasnya, meski gedung baru sudah dibangun dan selesai tahun 2014, geliat perekonomian di pasar legendaris ini makin terpuruk. Gairah jual-beli di Pasar Turi kian lesu. "Sehari laku satu sudah syukur. Saya gak bisa ngarep dari situ lagi," kata pedagang grosir dan eceran ini.
Yudia kembali berharap pada pemkot Surabaya dan semua pihak agar kembali menghidupkan Pasar Turi yang kini mati suri. "Kepada siapa lagi kami (pedagang) mengeluh? Gak ada yang perhatikan nasib kami," kata Yudia berharap.
Sekadar diketahui, kisruh pengelolaan Pasar Turi Baru antara pengembang PT GBP dan Pemkot Surabaya belum juga menemui titik temu. Akibatnya, revitalisasi Pasar Turi terhambat hingga kini, salah satunya belum dibongkarnya TPS yang berada di depan gedung.
(mdk/lia)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya