Kisah Siswi SMA Jualan Pentol Demi Makan dan Hidupi Ayahnya

Rabu, 5 Oktober 2022 23:32 Reporter : Saud Rosadi
Kisah Siswi SMA Jualan Pentol Demi Makan dan Hidupi Ayahnya Sutardi Warga Samarinda Penderita Stroke. ©2022 Merdeka.com/Saud Rosadi

Merdeka.com - Sutardi (64) warga yang tinggal indekos di Jalan Lambung Mangkurat, Samarinda, Kalimantan Timur, tidak bisa lagi berjualan pentol rebus akibat stroke sejak Januari 2020 lalu. Kini dia hanya dirawat putrinya, yang terpaksa juga harus berjualan untuk makan dan kebutuhan sehari-harinya.

Eren Kristiana Dinar Betti (16), anak kandung Sutardi, kini duduk di bangku kelas 1 SMA swasta di Samarinda. Dia tidak hanya berpangku tangan menunggu bantuan atau sumbangan tetangganya.

Ketua RT 27, Syahruni (62) menerangkan, Sutardi memang dirawat putrinya. Setiap hari sebelum bersekolah, Eren keluar rumah untuk membantu orang lain berjualan makanan.

"Tiap subuh, dia bantuin orang buka warung makan. Jadi sebelum jam 7 dia pulang, jam 7 dia berangkat sekolah," kata Syahruni saat berbincang bersama merdeka.com di kediamannya Jalan Lambung Mangkurat Gang Syahdan Thoyib, Rabu (5/10) sore.

2 dari 3 halaman

Situasi dan kondisi yang tidak mudah itu dilakoni Eren untuk kebutuhan sehari-hari, misal untuk makan dirinya dan bapaknya. Meski ibu kandungnya memilih pergi ke Balikpapan dan mengirimkan uang, kiriman itu tidak bisa benar-benar diharapkan.

Syahruni menerangkan warganya menaruh iba dan peduli dengan kondisi Sutardi. Apalagi Sutardi sudah bermukim lama di RT 27. Meskipun dia sejatinya bukan warga kota Samarinda.

"Memang Pak Sutardi ini pindahan dari Kalimantan Selatan. Kemudian pindah ke Samarinda dan tinggal di sini (RT 27). Kesehariannya memang berjualan pentol. Sempat awalnya sakit-sakitan sampai sekarang, jadi tidak lagi berjualan," ujar Syahruni.

"Cuma memang dari ketua RT sebelum saya sejak lama minta untuk Pak Sutardi dan istrinya mengurus administrasi kependudukan. Tapi saya tidak mau alasan kenapa tidak mau," tambah Syahruni.

3 dari 3 halaman

Tertib administrasi kependudukan memang menjadi sangat penting. Baik itu kepengurusan pekerjaan, bantuan sosial, kesehatan hingga soal pendidikan. Apalagi, Eren dan Sutardi, berkeinginan pulang dengan pindah ke Mojokerto, Jawa Timur. Di mana daerah itu adalah tanah kelahiran Sutardi.

"RT hanya memberi surat keterangan domisili, selanjutnya yang bersangkutan atau keluarganya yang mencabut berkas (kependudukan) di Kalimantan Selatan kalau mau dibawa ke Jawa," ujarnya.

Apabila nantinya diputuskan Sutardi dan putrinya pulang ke Jawa, Syahruni berharap Eren tetap melanjutkan pendidikannya untuk bekal masa depannya.

"Iya tentu, anaknya jangan sampai putus sekolah untuk masa depannya," tutup Syahruni.

Kisah Sutardi cukup memprihatinkan. Di saat Eren, anak ketiga dari empat bersaudara itu tidak ada di indekos, Sutardi mesti merangkak ke kamar mandi lantaran sakit stroke. Belum lagi tunggakan bayar kamar kos dua bulan yang mesti ditanggung Sutardi dan Eren.

Sementara istri Sutardi, tak lain ibu kandung Eren, memilih pergi ke kota Balikpapan dengan alasan mencari penghasilan setelah Sutardi terkena stroke. Ketimbang tinggal di kamar kos yang hanya berukuran sekitar 5x5 meter itu. Kini Eren dan Sutardi hanya berharap bisa pulang ke Mojokerto. [fik]

Baca juga:
Potret Sekolah Perkotaan Rakyat Kediri, Ajak Warga Beternak dan Bertani di Lahan Kota
Kisah Pendiri Whatsapp Jan Koum, Pernah Melamar di Facebook Tapi Ditolak
Kisah Anak Gadis Penjual Pentol di Samarinda Rawat Ayah yang Sakit Stroke
Kisah Pasutri Beli Mobil Impian Rp168 Juta Pakai Uang Koin Seribu usai 2 Tahun Nabung
Kisah Sukses Milton, Tak Lulus SD Kini Jadi Orang Kaya Raya
Cara Ibu-ibu di Kota Bandung Kurangi Sampah Rumah Tangga, Ubah Baju Bekas Jadi Kebaya

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini