Saat wabah corona sudah mulai merebak ke negara-negara tetangga, Bayu (23) sudah merasakan kondisi pekerjaannya yang mulai terancam bila pandemi ini sampai masuk ke Indonesia.
Bekerja sebagai seles produk kartu kredit di Jakarta, dengan gaji pokok dan lebih mengandalkan gaji intensif sebagai besaran pemasukan. Baginya pandemi virus corona ini seperti bencana ekonomi kehidupannya.
Benar saja, tanggal 1 April kemarin, Bayu telah menerima surat dari atasannya untuk merumahkan sebagian karyawan karena kondisi keuangan yang menurun.
Merumahkan sebagian karyawan karena takut tidak sanggup membayar gaji pokok bulanan dan rentannya bagi para seles bekerja saat wabah virus corona jadi pilihan perusahaan. Hari itu jadi hari terakhir Bayu dan beberapa sales lainnya bekerja.
"Gw udah ngerasa semenjak virus corona rame di Wuhan dan negara tetangga. Tapi ya gw pada saat itu cuman bisa pasrah dan percaya kepada pemerintah Indonesia tidak akan masuk, eh ternyata kebobolan juga," ujar Bayu kepada merdeka.com, Selasa (14/4).
Walaupun keputusan dirumahkan dengan catatan saat pandemi ini selesai, ia bisa bekerja kembali. Tanpa dapat pesangon dari perusahaan hanya mendapatkan hasil kerja di bulan Maret kemarin. Bayu telah menyepakati keputusan perusahaan untuk merumahkan dirinya.
"Cuman dapet hasil kerja bulan kemarin, sekarang kita bisa survive dengan hasil gaji kita gimana caranya puterin terus," ungkap Bayu.
Selain itu, Bayu mengatakan untuk mendapatkan penghasilan setiap harinya, lewat berjualan masker dan handsanitizer via online, dari modal dari gaji terakhirnya bekerja.
Satrio (23) juga mengalami nasib serupa, terpaksa di PHK sebagai montir mobil di Jakarta, karena omset bengkel tempatnya bekerja mengalami penurunan pendapatan.
"Terpaksa di PHK karena bengkel sudah tidak mampu bayar lagi, padahal baru dapet kerja di awal tahun ini. Tapi saya paham kondisinya memang sulit," kata Satrio.
Dari lima pekerja di bengkel Satrio kerja, pemilik bengkel terpaksa harus merumahkan tiga karyawannya termasuk Satrio, karyawan baru dan muda.
Walaupun demikian, Satrio merasa masih lebih baik, karena status lajangnya dan kehidupan sehari-hari masih bisa ditanggung orang tuanya.
"Alhamdulillah belum ada tanggungan masih bisa minta orang tua walaupun itu engga enak. Jadi lima tiga dirumahkan, tapi saya paham keputusan bos karena kita masih muda dan masih bisa lah cari-cari kerja," tuturnya.
"Jadi biar keahlian tetap terasa, saya buka aja jasa servis lewat temen-temen di sosmed aja. Dan alhamdulillah kadang ada yang mau, lumayan hasil servisnya kan engga kalah lah sama bengkel beneran," tambah Satrio.
Bayu dan Satrio merupakan salah satu dari sekian banyak korban pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat wabah virus corona di Tanah Air.
Harapan Dari Kartu Prakerja
Bayu dan Satrio bisa dibilang sangat membutuhkan pekerjaan untuk mendapatkan pemasukan ekonomi secara konsisten. Tidak hanya mengadu nasib lewat penjualan maupun jasa usaha mandiri yang mereka lakukan.
Saat ditanya soal program Kartu Prakerja dari pemerintah, ternyata Bayu dan Satrio sudah dua hari kemarin mendaftar mengikuti program tersebut.
Bayu mengaku, cukup bersemangat dengan program itu. Mungkin, itu adalah jalan bagi dirinya untuk kembali mendapatkan pekerjaan ditempat yang lain.
Akan tetapi, ia menyayangkan adanya selektifitas untuk mengikuti program kartu prakerja. Sedangkan kondisi pengangguran saat ini semakin bertambah dan bagaimana nasibnya semisal yang tidak lolos.
"Sudah daftar di hari pertama, tapi yang jadi pertanyaan saya itu ini kan diluncurin niatnya kalo dilihat pemerintah buat bantuan masyarakat akibat corona. Tapi kenapa make seleksi, harusnya ya dibuka aja semuanya. Dengan kategori aja yang disesuaikan bukan seleksi, nanti yang engga lolos gimana," imbuh Bayu.
Ia pun menjelaskan niatnya mengikuti program kartu prakerja karena kondisi saat ini yang tidak memiliki kerjaan tetap.
"Saya ikut karena saya kena dampak corona. Kalau saya engga kena dampak saya engga ikut program tersebut, lebih baik dikasih ke yang lain," ujarnya.
Bayu pun sampai saat ini telah mengikuti seluruh tahapan mulai dari pengisian form hingga ujian online dan hanya tinggal mendapatkan kabar apakah lulus atau tidak, nanti di tanggal 16 April 2020.
Hal senada juga dilakukan Satrio yang sangat mengharapkan dirinya bisa mengikuti program kartu prakerja. Berharap mendapatkan skill tambahan dan link kerjaan dikemudian hari.
"Udah daftar, tinggal nunggu pengumuman. Soalnya lumayan bisa mengisi waktu luang yang produktif. Dapet duit lagi, semoga aja masuk," kata Satrio.
Rasa antusiasnya mengikuti program Kartu Prakerja Satrio mengharapkan dari pemerintah tidak hanya menyiapkan pelatihannya tetapi penyaluran lowongan pekerjaan juga harus disiapkan.
Menurutnya, kalau hanya mengandalkan pelatihan-pelatihan dari program Kartu Prakerja ini masih sangat berat jika diajak bersaing dengan lulusan perguruan tinggi yang punya skill lebih.
"Karena kalo cuman membuat pelatihan bisa cuman buang-buang anggaran, karena persaingan juga berat apalagi dengan mahasiswa. Jadi saya mah, lebih mengharapkan chanel kerjaan," harap Satrio.


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9377904/original/001485900_1792481944-IMG-20261020-WA0053.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9377898/original/039264800_1792481676-596842.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9377932/original/080776300_1792482621-Screenshot_20261020-075057_Instagram.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5139940/original/094416600_1740130119-IMG-20250221-WA0003.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9377915/original/031496000_1792482219-SE200146.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9377711/original/084650600_1792476397-000_D3T98HM.jpg)