Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kisah pertempuran dan perdamaian di balik Balada Cenderawasih

Kisah pertempuran dan perdamaian di balik Balada Cenderawasih Tarian Balada Cenderawasih Papua. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Pandangan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa seperti enggan melepaskan diri dari keceriaan puluhan anak-anak baik lelaki maupun perempuan, yang dengan lincah berjoget di hadapannya. Seolah tak ada satu gerakan pun ingin dilewatkan. Dia lantas mengambil telepon genggamnya. Tangan kanan Menteri Khofifah sigap mengabadikan gerakan tarian anak-anak muda Papua menggunakan telepon genggam miliknya.

Setiap gerakan memiliki makna tersendiri. Namun tidak semua warga Papua tahu arti dari gerakan tersebut. Tarian ini menceritakan konflik antar suku di bumi Cenderawasih. Dikisahkan, ada seorang wanita dan sudah bersuami, diculik sekelompok orang.

Sang suami meminta bantuan kelompoknya untuk mencari istrinya. Peperangan pun tak terhindarkan. Di tengah medan pertempuran, sekelompok perempuan datang dan melerai mereka. Sampai akhirnya, kedua suku bertikai sepakat berdamai. Perdamaian pun dirayakan dengan tarian Balada Cenderawasih.

Namun ada pula yang mengartikan lain. Tarian itu diartikan sebagai semangat dan harapan warga Papua melestarikan burung Cenderawasih yang mulai punah. Warga Papua percaya, dalam setiap tarian tertanam semangat dan harapan para leluhurnya.

"Ini tarian ciri khas Papua pada umumnya, tarian ini biasa dimainkan saat menghibur tamu undangan," kata Ernes salah satu warga Sorong, Papua Barat saat berbincang dengan merdeka.com, beberapa waktu lalu.

tarian balada cenderawasih papua

Lantunan musik etnik membuat tamu yang menyaksikannya seolah terhipnotis eksotisme gerakan yang ditampilkan. Suara musik itu berasal dari alat musik tradisional yang cukup sederhana. Warga Papua khususnya masyarakat Sorong mengandalkan alat musik tradisional berupa Tifa, Gitar, dan Jul Lele untuk mengiringi mereka menari.

Bagi masyarakat awan, semua tarian di Papua dipandang punya maksud dan arti sama. Selain itu, juga digunakan semua suku untuk menyambut tamu. Kenyataannya tidak demikian. Suku Mee suku yang mendiami wilayah pegunungan di Papua punya cara sendiri dalam menyambut tamu kehormatan. Jarang sekali Suku Mee menggunakan tarian Balada Cenderawasih ini.

"Ini beda sama tarian yang pakai koteka, itu Suku Mee atau wilayah pegunungan Papua," ucapnya.

Selain seniman, tarian ini biasanya dimainkan warga Papua yang sudah terlatih, khususnya oleh orang-orang yang dididik di sanggar tari Balada Cenderawasih. Sanggar itu menjadi tempat pelestarian budaya sekaligus kesenian lokal agar tidak mati tergerus zaman. Tidak ada batasan dan larangan untuk ambil bagian dalam tarian ini.

"Itu dilatih di sanggar, semua umur bisa menggunakan tarian itu," ujar dia.

Tidak sedikit warga Papua mulai terbuai kemajuan zaman yang serba praktis sehingga menggerus seni dan budaya peninggalan leluhurnya. Hanya segelintir orang tua yang masih mau mengajarkan tarian ini ke anaknya. (mdk/noe)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP