Kisah Miris Atlet Peraih Emas PON asal Sumbar, Relakan Bonus untuk Bayar Utang

Rabu, 13 Oktober 2021 22:26 Reporter : Yan Muhardiansyah
Kisah Miris Atlet Peraih Emas PON asal Sumbar, Relakan Bonus untuk Bayar Utang Kenshi Sumatera Barat Ari Pramanto usai berlaga. ©ANTARA/Muhammad Zulfikar

Merdeka.com - Selalu ada cerita di balik kemenangan para atlet yang berlaga di Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua. Salah satunya datang dari peraih medali emas pada cabang olahraga shorinji kempo asal Sumatera Barat (Sumbar), Ari Pramanto yang harus merelakan bonusnya untuk membayar utang.

Ari baru saja memenangkan pertandingan shorinji kempo kategori randori (tarung) kelas 70 kilogram di Gedung Olahraga (GOR) Sekolah Sekolah Tinggi Teologi Gereja Injili Di Indonesia STT GIDI, Kabupaten Jayapura, Rabu (13/10).

Air mata bahagia tak mampu ia bendung seusai dinyatakan menang atas lawannya kenshi Papua Barat, Julifan Prastyo Nugroho.

Saat laga berakhir, ia langsung melakukan penghormatan kepada dewan juri dan panitia pertandingan serta penonton di GOR STT GIDI. Tak lupa, ia beranjak ke salah satu sudut GOR untuk memberikan sapaan hangat kepada pendukungnya yang senantiasa bersorak-sorai.

Saat ditemui, Ari tersenyum tipis dan mulai membuka pembicaraan-pembicaraan ringan. Sungguh tidak disangka, di balik kemenangan yang ia raih, Ari menyimpan beban dan tanggung jawab luar biasa. Ia terlilit utang.

Ari memang tidak menyebutkan dengan detail nominal yang mesti ia lunasi. Namun yang pasti, kala PON XX berakhir, utang itu harus pula segera ia selesaikan.

Kemenangan emas PON baginya tentu memberikan secercah harapan. Pemuda kelahiran Kota Sawahlunto itu mengaku bonus yang akan ia terima dari pemerintah Provinsi Sumatera Barat nantinya hendak digunakan untuk membayar utangnya itu. Dia mengaku berutang kepada beberapa pihak.

"Kalau bicara bonus, mungkin semuanya untuk bayar utang saja lagi," kata Ari seperti dilansir Antara.

Dirinya mengaku terpaksa meminjam sejumlah uang untuk biaya selama latihan persiapan PON XX. Sejak dua tahun terakhir, Ari bolak dari Kota Arang, julukan Sawahlunto, menuju Padang. Lokasi dua daerah itu sekitar 97 kilometer atau tiga jam perjalanan lebih menggunakan mobil.

Selama berlatih, Ari harus tetap menafkahi anak dan sang istri. Tidak hanya itu, sebagai anak laki-laki tertua dalam keluarga, ia juga melaksanakan kewajiban terhadap orang tuanya.

Pemuda 34 tahun itu mengeluarkan cukup banyak uang selama dua tahun terakhir. Sebenarnya, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumatera Barat memberikan uang saku untuk persiapan PON XX. Namun, uang itu sering terlambat atau ditunggak. Imbasnya, ia terpaksa meminjam uang demi menutupi kebutuhan sehari-hari.

Bahkan, untuk berangkat ke PON XX, ia hanya diberi Rp2,5 juta oleh KONI Sumatera Barat. Dengan jumlah itu, tentu saja tidak mencukupi segala kebutuhan selama berada di ujung timur Indonesia.

"Jangankan untuk berbagi dengan anak istri di kampung, untuk biaya hidup selama di Papua saja tidak cukup," kata dia.

Padahal demi memberikan yang terbaik untuk daerah, Ari rela tidak bekerja sebagai tenaga honorer di Pemerintah Kota Sawahlunto agar dapat fokus menjalani latihan demi latihan jelang PON XX.

Kerelaan Ari untuk daerah tentu berimbas kepada pendapatan yang ia peroleh. Dia tidak punya pemasukan, tapi harus bolak-balik Sawahlunto-Padang. Akibatnya dia terpaksa meminjam uang kepada orang lain.

Sedikit menilik ke belakang, sebelum turun di PON edisi ke-20, Ari sebenarnya menerima bonus atas kemenangannya di Pekan Olahraga Wilayah (PorwiL) yang diadakan di Bengkulu pada 2019.

Tragisnya, alih-alih menikmati bonus dari kerja kerasnya, Ari mesti menggunakan uang itu untuk melunasi semua utangnya. Ari tetap enggan menceritakan seberapa besar utang yang tengah melilit perekonomiannya.

"Jadi biaya saya bolak-balik dari Kota Sawahlunto ke Kota Padang itu saya yang tanggung," ujarnya.

Berharap Lapangan Kerja

Sebagai orang yang berhasil meraih medali emas di PON XX, tentu saja Ari akan dihadiahi bonus. Tetapi, sebagaimana dikatakannya, uang itu hanya akan digunakan untuk membayar utang-utangnya yang menggunung.

Oleh karena itu, dengan capaian dan keberhasilannya di pesta olahraga terbesar di Tanah Air, ia sangat berharap pemerintah pusat maupun daerah memerhatikan nasib para atlet, terutama memberikan pekerjaan.

Selepas PON, ia berencana menagih janji pemerintah provinsi setempat yang sebelumnya menjanjikan peraih medali emas di PON XX akan diangkat menjadi aparatur sipil negara (ASN).

"Saya mau menagih itu. Benar tidak atau sesuai tidak dengan janjinya," kata dia.

Meskipun perjalanan Ari tergolong pahit, ternyata Pemerintah Kota Sawahlunto masih peduli dengan nasibnya. Ia didukung penuh mengikuti PON demi memberikan yang terbaik bagi Ranah Minang.

Ari yang sehari-harinya bekerja sebagai honorer di Pemerintah Kota Sawahlunto diberi kemudahan dan kelonggaran. Pemerintah setempat tidak mempermasalahkan ia libur selama dua tahun.

Nasib Ari sepertinya tak jauh beda dengan yang dihadapi Muswar Iwan alias Iwan Samuray binaragawan Sumatera Barat yang juga penyumbang medali emas dari cabang olahraga yang diikutinya. Binaragawan itu terlilit utang Rp1,7 miliar.

Dari pengalaman hidup dua atlet tersebut maka sudah sepatutnya pemerintah lebih memerhatikan nasib para atlet di Tanah Air. Mereka telah berdarah-darah memberikan yang terbaik. Para atlet rela mengorbankan harta dan benda, berpisah dengan anak istri, demi ibu pertiwi. [yan]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini