Ketika Sampah di Tangan Emak-Emak

Selasa, 7 Juli 2020 13:37 Reporter : Adi Nugroho
Ketika Sampah di Tangan Emak-Emak Bank sampah di Bekasi. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Kantor sekretariat RW 16 di Perumahan Griya Persada Elok, Kelurahan Mustikajaya, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, ramai didatangi ibu-ibu setiap Selasa pagi. Bukan arisan atau hanya sekedar kongkow, melainkan sibuk mengurus bank sampah.

Namanya Bank Sampah Wijaya Kusuma, didirikan sejak 2014 silam. Penggagasnya adalah Mimin Karmini, seorang ibu rumah tangga, sekarang berusia 52 tahun.

Ide itu muncul ketika melihat sebuah tayangan di televisi mengenai bank sampah. Golnya lingkungan menjadi bersih, mengurangi beban petugas sampah dari pemerintah, dan paling menyenangkan, ibu-ibu mempunyai penghasilan tambahan.

"Saya kumpulin ibu-ibu PKK, diajak ngobrol buat kegiatan. Alhamdulillah responsnya baik," kata perempuan yang akrab disapa Mini ini ketika berbincang dengan merdeka.com, Selasa (7/7).

Rupanya mengaplikasikan bank sampah tidak mudah. Harus ada buku tabungan nasabah sampai buku besar catatan nasabah. Karena itu, ia lalu merumuskan semuanya dengan matang. Ketika sudah siap, masih ada kendala lain. Yaitu, sepi peminat.

"Saya berinisiatif membuat doorprize, yang mengantar pertama sampai sepuluh dapat hadiah," katanya.

Doorprize ala kadarnya berupa gula hingga minyak goreng rupanya menarik minat ibu-ibu di perumahan untuk menyetor sampah dan menjadi nasabah. Kendala belum selesai, pengurus masih harus belajar lagi kepada pengepul barang bekas supaya sampah lebih memiliki nilai jual.

Di pengepul, kata dia, pengurus diajari memilah berbagai macam jenis sampah. Hasilnya, ketahuan paling mahal besi alumunium dihargai Rp 7-10 ribu, kardus Rp 2.000, botol plastik bersih Rp 4.000-5.000, kemudian kantong plastik Rp 500.

"Sampah anorganik yang terbuang sekarang hanya popok bayi, sterofoam dan pembalut," ujar dia.

1 dari 3 halaman

Beromzet Sampai Rp 3 Juta per Bulan

Alhasil, Bank Sampah Wijaya Kusuma berkembang sampai sekarang. Sebulan sekali pengepul datang. Sekali 'narik' uang dari setoran sampah ke pengepul bisa mencapai Rp 2-3 juta. Uang itu lalu dimasukkan ke dalam tabungan. Dicatat ke buku besar dan buku tabungan setiap nasabah.

Dalam setahun, nilai tabungan nasabah bervariasi mulai Rp 500 ribu sampai jutaan rupiah. Dari hasil ini pula, pengurus bisa menyantuni kaum duafa, memberikan bingkisan kepada pengurus lingkungan setiap Lebaran.

"Alhamdulilah sampai sekarang pengurus yang rata-rata ibu rumah tangga tidak sampai mengeluh, prinsipnya niat kita membantu dan beribadah," kata dia.

Nasabahnya telah mencapai 130 dari jumlah keluarga di sana sebanyak 320 di lingkungan itu, bahkan ada nasabah di luar perumahan. Meski ada yang tidak menjadi nasabah, mereka tetap mengumpulkan sampah layaknya nasabah bank sampah. "Sampahnya dikasih ke tetangganya yang menjadi nasabah," kata Mini.

2 dari 3 halaman

Terus Berkembang

Setelah mengolah sampah anorganik menjadi nilai ekonomis, Bank Sampah Wijaya Kusuma mengembangkan sampah organik menjadi pupuk kompos sejak akhir tahun lalu. Karena mayoritas pengurusnya ibu-ibu, pengolahan kompos membutuhkan tenaga, sehingga harus melibatkan bapak-bapak di sana.

Ia mengatakan, banyak manfaat adanya bank sampah yang menampung sampai delapan RT di perumahan tersebut. Sebelumnya, warga selalu komplain ketika truk pengangkut sampah telat datang karena sampah menumpuk.

"Sekarang biasa-biasa saja, lingkungan tetap bersih, enggak ada botol plastik tercecer," katanya.

Tidak berhenti di sini, Mini mempunyai program baru. Ia ingin mengembangkan tanaman hidroponik yang tengah nge-hits di tengah pandemi Covid-19, lalu lanjut ke budidaya ikan lele dalam ember. "Sekarang baru mulai," ucapnya.

3 dari 3 halaman

Bayar PBB Pakai Sampah

Lurah Mustikajaya, Muhammad Faried Wajdi mengagumi semangat ibu-ibu mengolah sampah lingkungan. Ia lalu mencetuskan ide membayar pajak bumi dan bangunan dengan sampah. Program diberi nama 'Trash For Tax', diluncurkan pada pertengahan November tahun lalu.

"Alhamdulillah, warga merespons dengan baik," kata dia.

Tabungan nasabah secara otomatis di-autodebit ketika tagihan pajak sudah terbit. "Misalnya ada yang tagihan SPPT Rp 220 ribu, sementara tabungannya sudah mencapai Rp 500 ribu," kata Lurah.

Menurut dia, program 'Trash For Tax' tidak menutup kemungkinan dikembangkan di wilayah lain. Di 33 RW yang ada di Kelurahan Mustikajaya baik di lingkungan perumahan maupun perkampungan.

Ia yakin dengan percontohan di RW 16, lingkungan lain akan mengikutinya. Tinggal, pemerintah melakukan pendekatan kepada pengurus maupun nasabah bank sampahnya.

"Rata-rata tabungannya jauh lebih besar dibandingkan tagihan SPPT-nya," ucap dia.

[cob]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini