Kepala BNPT: Saat ini proses radikalisasi lebih terbuka

Senin, 17 Juli 2017 17:54 Reporter : Didi Syafirdi
Kepala BNPT datangi Komnas HAM. ©2016 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Merdeka.com - Penanggulangan terorisme tidak semata-mata menjadi tugas pemerintah, tetapi harus melibatkan beberapa pihak termasuk masyarakat. Sinergi kebangsaan melalui partisipasi seluruh elemen masyarakat penting untuk mewujudkan Indonesia damai dalam bingkai Kebhinekaan.

"Kami ingin menegaskan bahwa penanggulangan terorisme saat ini tidak hanya butuh sinergi lintas sektoral, tetapi sinergi kebangsaan yang melibatkan seluruh komponen bangsa dari berbagai latar belakang untuk mewujudkan Indonesia bebas dari kekerasan dan terorisme," ujar Komjen Suhardi Alius.

Hal tersebut dikatakan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) itu dalam sambutannya pada acara memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) BNPT ke-7 tahun yang berlangsung di kantor BNPT, kompleks Indonesia Peace and Security Center (IPSC), Citeurep, Kabupaten Bogor, Senin (17/7).

Mantan Sekretaris Utama (Sestama) Lemhanas ini menjelaskan, tantangan terorisme yang sedang dihadapi oleh negara ini tidak pernah surut. Terorisme terus menjadi ancaman serius bagi bangsa Indonesia yang tidak hanya menyasar keamanan masyarakat, tetapi secara ideologis sebagai ancaman laten bagi keutuhan dan kedaulatan NKRI.

"Tentunya dinamika lingkungan strategis pada lingkup regional maupun global serta perkembangan teknologi informasi yang cukup pesat telah memberikan warna baru bagi munculnya fenomena transformasi terorisme lama menuju terorisme baru yang lebih kompleks," ujar alumni Akpol tahun 1985 ini.

Lebih lanjut pria yang pernah menjadi Kapolda Jawa Barat ini menjelaskan bahwa jika dicermati ancaman terorisme pada era terdahulu lebih bersifat lokal domestik, namun pada saat ini jaringan terorisme telah menampakkan diri dalam jaringan yang bersifat regional dan bahkan global.

"Jika terdahulu proses radikalisasi dan indoktrinasi terjadi melalui sel tertutup dan garis komando yang jelas saat ini proses radikalisasi lebih terbuka dengan munculnya fenomena lone wolf tanpa jaringan dan garis komando," katanya.

Dalam konteks tantangan baru tersebut, BNPT sebagai leading agency dalam mengoordinasikan instansi terkait dalam penanggulangan terorisme harus menyadari pentingnya penguatan sinergi dalam rangka penyelenggaraan program-program yang efektif dan tepat sasaran.

"Luasnya wilayah Indonesia menjadi sejalan dengan luas potensi ancaman terorisme di Indonesia," kata mantan Kadiv Humas Polri ini.

Pria yang pernah menjadi Wakapolda Metro Jaya ini mengatakan, momentum ulang tahun ke-7 BNPT ini harus dapat dimaknai sebagai penguatan sinergi BNPT dengan lembaga dan masyarakat dalam upaya menanggulangi terorisme.

"Kehadiran perwakilan kementerian/lembaga dan masyarakat pada acara ini merupakan salah satu wujud nyata kami mengajak seluruh komponen masyarakat untuk bersama-sama bersinergi untuk mewujudkan Indonesia Damai dalam Bingkai Kebhinekaan yang kita jadikan tema pada peringatan ulang tahun ini," jelasnya.

Sementara itu Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Jenderal TNI (Purn) Wiranto yang hadir dalam acara tersebut dalam sambutannya menegaskan bahwa terorisme telah menjadi musuh utama yang harus segera diatasi, karenanya ia berjanji tidak akan membiarkan BNPT bekerja sendiri dalam memberantas terorisme.

"Saya sampaikan apresiasi yang sangat mendalam kepada stakeholder dari BNPT yang telah memberikan dukungan selama ini. Karena kinerja BNPT tanpa dukungan stakeholder tentunya tidak mungkin dapat melaksanakan tugas dengan baik," ujarnya

Bagi mantan Panglima ABRI ini, ulang tahun ke-7 BNPT ini perlu disambut dengan kerja yang lebih keras lagi. Ia menyebut capaian 7 tahun memang layak diapresiasi, namun tidak dengan cara berhura-hura, melainkan dengan meningkatkan kinerja.

Dikatakan alumni Akademi Militer Nasional tahun 1968 ini, apa yang telah dilakukan BNPT selama ini sungguh sangat membanggakan dan telah mendapatkan berbagai apresiasi tidak hanya dari dalam negeri, tetapi dari luar negeri.

"Banyak undangan-undangan mengalir untuk meminta penjelasan, meminta pengalaman, meminta hal lain yang dibutuhkan untuk melawan terorisme secara menyeluruh," ujarnya.

Menurutya, melawan terorisme tidak bisa sendirian. Melawan terorisme dibutuhkan tiga hal. Yang pertama yakni sinergi atau kerjasama.

"Negara lain dengan Indonesia sudah sepakat untuk melawan terorisme dengan kerjasama, maka di Indonesia harus juga bersinergi, kebersamaan baik dengan instansi dan juga bersama masyarakat," ujar.

Hal yang kedua yakni melawan terorisme secara total. Hal tersebut dikarenakan aksi yang dilakukan kelompok terorisme sudah menggunakan spektrum kehidupan di masyarakat.

"Melawan mereka tidak bisa sepotong-sepotong. Karena cara mereka melakukan teror sudah masuk ke semua sendi kehidupan masyarakat, baik sistem komunikasi, pendidikan, ekonomi dan sebagainya," tuturnya.

Dan cara melawan terorisme yang terakhir, menurutnya, yakni harus dilakukan secara serius. Karena secara tidak sadar sel-sel kelompok teroris ini telah ada disekitar kita.

"Keseriusan dan kewaspadaan harus tetap ada pada kita pada saat kita melawan terorisme. Jadi tiga hal ini harus kita kembangkan," tandasnya.

Selain Wiranto, hadir pula dalam acara perayaan HUT BNPT tersebut yakni Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo, beserta sejumlah tamu undangan lainnya yang terdiri dari tokoh nasional, duta besar negara-negara sahabat, anggota komisi III DPR, dan sejumlah tokoh agama. [did]

Topik berita Terkait:
  1. BNPT
  2. Jakarta
  3. Suhardi Alius
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.