Kenapa Hujan Masih Mengguyur Padahal Sudah Masuk Musim Kemarau, Ini Penjelasan Ilmiah BMKG

Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani menjelaskan penyebab musim hujan masih melanda kota Jakarta dan sekitarnya.

Rahmat Baihaqi
Oleh Rahmat Baihaqi - Reporter
Kenapa Hujan Masih Mengguyur Padahal Sudah Masuk Musim Kemarau, Ini Penjelasan Ilmiah BMKG
Saat hujan turun di Jakarta seringkali dimanfaatkan beberapa warga, termasuk anak-anak, untuk mengais rezeki dengan memberikan jasa sewa payung. (Liputan6.com/Angga Yuniar) (© 2024 Liputan6.com)

Kota Jakarta dan sekitarnya masih saja kerap dilanda hujan deras terkadang disertai angin kecang juga. Bahkan beberapa waktu sempat dilanda angin puting beliun di kawasan Kalideres, Jakarta Barat per bulan Mei. Padahal semestinya kota Jakarta sudah memasuki bulan kemarau

Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani menjelaskan penyebab musim hujan masih melanda kota Jakarta dan sekitarnya.

Kata dia sebagian besar wilayah di Indonesia masih masuk dalam fase musim hujan berdasarkan data BMKG per 20 Mei 2025. Namun ada juga beberapa wilayah yang sudah memasuki musim kemarau.

"Hanya sekitar 11% wilayah yang telah memasuki musim kemarau. Di Pulau Jawa, sebagian besar wilayah, termasuk Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Timur, masih mengalami kondisi musim hujan, dan sebagian kecil sudah mulai masuk kriteria musim kemarau," kata Andri kepada merdeka.com, Selasa (27/5).

Kata Andri potensi terjadinya curah hujan tinggi juga masih dirasakan pada periode 10 hari ketiga di bulan Mei 2025. Diantaranya sebagian Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat, dan Papua Tengah.

Musim Hujan, Berkah Tersendiri bagi Pengojek Payung
Biasanya, para pengojek memberikan payungnya untuk digunakan penyewa sambil menemani ke titik tujuan. (Liputan6.com/Angga Yuniar) © 2024 Liputan6.com

Sulawesi Selatan dan Maluku

Kemudian untuk wilayah Sulawesi Selatan dan Maluku bahkan berstatus potensi siaga dan awas.

Kondisi ini disebabkan karena lemahnya monsun Australia yang belum kuat, aktivitas beberapa dinamika atmosfer seperti gelombang Rossby ekuatorial di sekitar Indonesia, serta suhu muka laut yang masih relatif hangat di perairan Indonesia.

Ditambah dengan terbentuknya pola tekanan rendah di wilayah selatan Indonesia yang menimbulkan pusaran angin dan pola belokan dan konvergensi, sehingga mengakibatkan pertumbuhan awan hujan yang cukup intens di wilayah tersebut dan hujan masih terjadi di beberapa wilayah.

"Disisi lain labilitas atmosfer skala lokal di sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan juga turut meningkatkan mekanisme konvektif yang mampu membentuk awan-awan hujan pada skala lokal di Indonesia bagian selatan," terang Andri.

Sementara itu, lanjut Andri, pada skala regional, terjadi interaksi di atmosfer yang dipengaruhi oleh terbentuknya front dingin di Australia bagian selatan, yang kemudian secara tidak langsung ikut mentrigger terbentuknya sirkulasi siklonik/sistem tekanan rendah di wilayah selatan Indonesia.

Kondisi inilah yang menyebabkan curan hujan di beberapa provinsi di Indonesia masih tinggi khususnya di wilayah selatan Indonesia mencakup Sumatera bagian selatan dan Pulau Jawa.

"Terpantaunya intrusi udara kering dan dingin dari Samudera Hindia selatan Jawa Barat juga meningkatkan pengangkatan massa udara basah dan lembab di Sumatera bagian selatan, dan sebagian besar Jawa," pungkas Andri

Rekomendasi