Kelasnya Ambruk, Siswa SDN di Jember Diberi Trauma Healing
Merdeka.com - Pasca peristiwa ambruknya atap salah satu kelas di SDN Keting 02 Kecamatan Jombang, Jember, pemerintah setempat selama beberapa hari ke depan terus memberikan pendampingan psikologis. Tujuannya, untuk menghilangkan trauma sehingga siswa tidak lagi takut berada di dalam ruang kelas.
Alasannya, ambruknya atap kelas V yang baru beberapa hari selesai di rehab oleh kontraktor itu, terjadi pada Sabtu (14/12) pagi. Di mana siswa sedang mengikuti latihan upacara di halaman sekolah.
"Kita berikan proses pemulihan trauma (trauma healing) agar siswa di SDN Keting 02 ini bisa kembali ceria seperti sedia kala. Sehingga hak anak untuk tetap memperoleh akses pendidikan tetap terpenuhi," kata Kepala Bidang (Kabid) SD Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Jember, Sri Kantono di SDN Keting 02.
Yang menarik, Sri juga menyebut ada hikmah tersendiri di balik musibah tersebut. Yakni membuat siswa bisa sesekali merasakan suasana belajar di luar ruang kelas.
"Ini bisa menjadi momentum, di mana ambruknya atap kelas yang kita anggap sebagai musibah, bisa dimanfaatkan untuk mengadakan KBM di luar kelas," ujarnya.
Dia menambahkan, proses trauma healing ini juga melibatkan pihak lain, yakni Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak serta Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Jember, serta Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Cabang Jember.
"Pemulihan untuk anak ini agar melupakan kejadian ambruknya atap kelas, secara bertahap. Sehingga mereka bisa tenang belajar di kelas nantinya," terang Kepala DP3AKB Jember, Nur Cahyoadi.
Proses trauma healing ini, juga akan melihat perkembangan terhadap anak, secara satu persatu. Nantinya akan ada penilaian atau profiling terhadap masing-masing siswa.
"Jadi nanti akan diketahui, siswa mana saja yang membutuhkan pendampingan lebih lanjut dari para psikolog," terangnya.
Hasil profiling nantinya akan menjadi bahan untuk tindakan lebih lanjut. Jika hasil profiling menyatakan anak-anak sudah mulai pudar dari trauma berat, maka tahapan selanjutnya bisa cukup diserahkan kepada oleh para guru yang ada di sekolah.
"Karena itu, kita juga melibatkan psikolog, meski tidak setiap hari. Nanti ada jadwal bersama dengan para psikolog. Karena DP3AKB Jember belum memiliki tenaga ahli psikolog," pungkas Cahyo.
(mdk/fik)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya