Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalteng, 37 Orangutan Kena ISPA

Selasa, 17 September 2019 21:33 Reporter : Saud Rosadi
Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalteng, 37 Orangutan Kena ISPA Orangutan di Kalimantan dikepung kabut asap. ©2019 foto : Yayasab BOS

Merdeka.com - Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah sudah masuk dalam taraf membahayakan kesehatan masyarakat sekitar. Tak hanya manusia, puluhan Orangutan terjangkit ISPA akibat kabut asap yang ditimbulkan kebakaran hutan.

"Kejadian itu tidak mengendurkan semangat kami, terus bekerja melindungi Orangutan Kalimantan, dan habitatnya. Kami terus patroli, dan pengawasan ketat kemungkinan munculnya kembali titik api, di seluruh wilayah kerja kami. Sebanyak 37 orangutan muda, ditengarai telah terjangkit infeksi saluran pernapasan ringan," kata CEO Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) Jamartin Sihite, Selasa (17/9) malam.

Jamartin merinci, 80 hektare itu tersebar di daerah Sei Daha dekat pusat penelitian Tuanan seluas 20 hektare, dan 60 hektare di Sei Mentangai. Di mana, kedua kawasan itu, masuk wilayah kabupaten Kapuas, di Kalimantan Tengah.

"Sejauh ini, total sekitar 80 hektare hutan gambut di wilayah kerja kami terbakar," tutur dia.

"Tapi tim kami di program Konservasi Mawas, bekerjasama dengan masyarakat sekitar, dan tim di Pusat Penelitian Tuanan mengendalikan, mengisolasi, dan memadamkan kebakaran," tambah dia.

Kendati demikian, sampai hari ini, semua tim pegiat satwa orangutan belum melakukan penyelamatan, atau evakuasi Orangutan yang terancam kebakaran hutan dan lahan.

Jamartin mengungkapkan, menilik ke belakang, api sempat mengancam pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng, yang berlokasi tidak jauh dari kota Palangka Raya, ibu kota provinsi Kalimantan Tengah. "Itu di pekan pertama Agustus, api sempat mendekat si jarak sekitar 300 meter dari Nyaru Menteng. Empat jam baru berhasil dipadamkan," sebut Jamartin.

Karhutla yang demikian masif, mengakibatkan kabut asap pekat. Sehingga, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU), masuk kategori berbahaya. "Asap tebal ini tidak hanya membahayakan kondisi kesehatan para staf kami di Nyaru Menteng, tapi juga 355 orangutan yang kami rawat di pusat rehabilitasi itu, dan pulau-pulau pra-pelepasliaran di sekitarnya," pungkas Jamartin.

Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) juga melanda Kampung Empas, kecamatan Melak, kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur yang mengakibatkan tidak kurang 100 hektare lahan hangus terbakar. Pemadaman akhirnya selesai dini hari tadi.

"Empat hari baru berhasil kita padamkan. Yang terbakar sekitar 120 hektare," kata Petugas Pusdalops BPBD Kutai Barat Erwin Sutanto, dikonfirmasi merdeka.com, Selasa (17/9) malam ini.

Erwin menerangkan, ada beragam kesulitan dihadapi tim gabungan antara lain BPBD Kutai Barat, Manggala Agni serta tim Damkar UPTD Kesatuan Pengelola Hutan Produksi (KPHP) Dinas Kehutanan Provinsi Kaltim.

"Akses ke lokasi memang sulit. Kami harus menyambung selang demi selang supaya dekat titik api. Apalagi, minim sumber air di lokasi dan ditambah angin kencang," ujar Erwin.

"Yang terbakar itu, semak, pepohonan dan tanaman liar. Lahan memang cukup luas, dan bukan lahan gambut. Tim gabungan baru selesai dan pulang sekitar jam 1 dini hari tadi," tambahnya.

Kobaran api itu sendiri, memang sempat mendekati kawasan permukiman warga di sekitarnya. "Untuk itu, kami segera lokalisir api, dan harus bisa selesai memadamkan," jelasnya lagi.

Sederetan kejadian Karhutla di kabupaten Kutai Barat sejak Februari - September 2019 ini, sudah menghanguskan tidak kurang dari 1.000 hektare. Baik lahan semak belukar, maupun hutan.

"Benar, ada sekitar 1.000 hektare. Ditambah lagi siang ini tadi, masih di kawasan kampung Empas, ada titik api lainnya yang harus kita padamkan agar tidak membesar, karena lokasinya sekitar Cagar Alam Kersik Luway. Akhirnya bisa kita padamkan," pungkas Erwin. [ded]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini