Kasus Dugaan Investasi Bodong Robot Trading Net89, Polisi Tetapkan 8 Tersangka

Kamis, 6 Oktober 2022 19:55 Reporter : Merdeka
Kasus Dugaan Investasi Bodong Robot Trading Net89, Polisi Tetapkan 8 Tersangka Rilis kasus Indra Kenz. ©Liputan6.com/Herman Zakharia

Merdeka.com - Direktur Tipideksus Bareskrim Polri, Brigjen Pol Whisnu Hermawan menyampaikan penyidik menetapkan 8 orang tersangka kasus dugaan tindak pidana penipuan, penggelapan, perdagangan dan pencucian uang melalui investasi robot trading Net89. Perkiraan total kerugian 300 ribu member senilai Rp 2,7 triliun.

"Tim penyidik telah melakukan gelar perkara dan menetapkan AA sebagai pemilik Net89 dan sebagai pendiri PT SMI sebagai tersangka," jelas Brigjen Whisnu Hermawan di Jakarta, Kamis (6/10/2022).

Dirtipideksus mengungkapkan, para pelaku menawarkan paket investasi trading dengan skema ponzi dan investasi forex robot trading berkedok MLM Ebook (Net89).

"Mereka menjanjikan keuntungan dari paket investasi robot trading sekitar 1 persen per-hari, 20 persen per-bulan hingga 200an persen per-tahun sebagai modus penipuan untuk menarik minat korbannya," jelas Whisnu Hermawan.

Sementara itu, Karopenmas Divisi Humas Polri Brigen Ahmad Ramadhan mengatakan para pelaku terancam pasal berlapis.

"Mereka dikenakan Pasal 378 KUHP (penipuan) dan/atau Pasal 372 KUHP (penggelapan) dengan ancaman hukuman masing masing 4 tahun. Pasal 106 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan (perdagangan tanpa ijn) dengan ancaman 5 tahun. Pasal 105 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan (skema piramida/ponzi) dengan ancaman 10 tahun. Kemudian Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5 dan Pasal 6 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian (TPPU) dengan ancaman maksimal 20 tahun," jelas dia.

Ahmad menuturkan, modus yang digunakan oleh pengurus Net89 berupa profit menggiurkan. Karenanya, mereka menjanjikan profit 1 persen per hari, 10-20 persen per bulan, hingga 120-240 persen per tahun.

"Hari Sabtu dan Minggu tidak dihitung trading. Dan, bagi hasil 50 banding 50, sampai dengan 90 banding 10. Ini dilakukan selama rentang waktu 2017 sampai dengan 2022," tuturnya.

"Banyak bukti-bukti dokumen transaksi, rekening koran dan bukti digital yang sudah disita penyidik untuk keperluan penyidikan," tambah dia.

2 dari 3 halaman

Dalam hal ini, calon member disebutnya melakukan deposit exchanger yang tidak dilisensikan oleh perusahaan penukaran mata uang. Lebih lanjut, exchanger Net89 tidak memiliki izin untuk menghimpun dana dari anggota dan pimpinan Bank Indonesia atau Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Calon member melakukan deposit exchanger yang tidak memiliki izin perusahaan pertukaran valuta asing. Dan, exchanger yang tidak memiliki izin kegiatan menghimpun dana para member dan pimpinan Bank Indonesia atau pun OJK,” sebutnya.

“Adapun potensi kerugian dengan total member sebanyak 300 ribu orang, yang masing-masing member diasumsikan membeli paket termurah dengan harga Rp9 juta. Maka, potensi kerugian sebanyak Rp2,7 triliun,” tutupnya.

Berdasarkan pelaksanaan gelar perdana yang telah dilaksanakan pada Selasa (4/10), kedelapan tersangka berikut ini:

- AA, pendiri atau pemilik Net89

- LSH, Direktur Net89

- ESI, member dan exchanger Net89

- LS, sub exchanger Net89

- AL, sub exchanger Net89

- HS, sub exchanger Net89

- FI, sub exchanger Net89

- D, sub exchanger Net89

3 dari 3 halaman

Sebelumnya, ratusan korban dugaan investasi bodong Net89 milik PT Simbiotik Multitalenta Indonesia (PT SMI) membuat laporan polisi ke Bareskrim Polri. Mereka mendesak Polri segera menangkap bos perusahaan investasi bodong tersebut. Pasalnya, para korban mengaku, uang mereka sekitar Rp369 miliar masih mengendap di perusahaan tersebut dan tak bisa dicairkan.

"Kami tim Advokasi Korban Net89 meminta pengembalian seluruh dana milik klien kami secara sekaligus, yang mana pada saat ini dana milik klien kami tersebut berada di dalam penguasaan PT SMI tanpa ada kejelasan apapun," ujar tim kuasa hukum korban Net89, Evelin Hutagalung, Jumat (26/8).

Baik korban ataupun tim kuasa hukum juga menyayangkan sikap menutup diri PT SMI terkait kejelasan pengembalian dana milik para nasabahnya.

Menurutnya, akan jauh lebih baik bagi semua pihak apabila PT SMI membuka diri dan melakukan komunikasi dengan jujur tanpa ada upaya-upaya untuk menyalahkan para nasabah.

"Kami menduga adanya dugaan tindakan penipuan, sebagaimana dimaksud pada Pasal 378 KUHPidana, dengan cara mengumpulkan dana dari para member dengan rangkaian kebohongan dan keadaan palsu. Lalu ada lagi dugaan penggelapan, pencucian uang dan lainnya," kata Evelin.

Reporter Magang: Syifa Annisa Yaniar [ded]

Baca juga:
Kasus Investasi Bodong, Ketua dan Anggota KSP Sejahtera Bersama Jadi Tersangka
Indra Kenz Dituntut 15 Tahun Penjara dan Denda Rp10 Miliar
Waspada Modus Baru Penipuan Investasi Ilegal, Berikut Ciri-Cirinya
Mengenal Indra Kenz di Medsos, Saksi Tergiur Kesuksesan dari Binomo
Tips Investasi, Cek 5 Tanda ini Agar Tak Tertipu Investasi Bodong
Kasus Investasi Bodong Rp5,6 Miliar, Dirut Perusahaan Properti di Malang Ditangkap

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini