'Kasihan Anak Kami Jadi Bodoh dan Tidak Sehat Gara-Gara Asap'

Jumat, 20 September 2019 14:23 Reporter : Abdullah Sani
'Kasihan Anak Kami Jadi Bodoh dan Tidak Sehat Gara-Gara Asap' Ilustrasi

Merdeka.com - Kabut asap masih menyelimuti Kota Pekanbaru dan beberapa kabupaten lain di Riau. Kualitas udara masuk kategori tidak sehat hingga ke level berbahaya. Itu semua diakibatkan dari kebakaran hutan dan lahan.

Imbasnya, seluruh sekolah dan kampus di Pekanbaru meliburkan pelajar dan mahasiswanya. Para pelajar tidak mendapat pendidikan selama dua pekan terakhir, atau lebih dari 10 hari. Para orang tua khawatir anak mereka jadi bodoh.

"Kasihan anak-anak kami jadi bodoh dan tidak sehat gara-gara asap akibat karhutla. Anak kami tidak sekolah sudah beberapa hari walaupun mereka diberi PR selama libur, tapi tetap juga pendidikan itu terganggu," kata Zulkarnain Kadir kepada wartawan, Jumat (20/9).

Tak hanya itu, Zul kecewa dengan lambannya kinerja pemerintah dalam menangani karhutla sehingga banyak anak-anak terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

"Banyak anak-anak kena ISPA, sehingga mereka sakit. Ke depan kalau masih ada juga karhutla yang berakibat asab di Indonesia khususnya di Riau, kami para orang tua dan anak-anak yang jadi korban, meminta kepada Allah SWT, agar si pembakar dan si penyuruh termasuk yang memberi izin, yang harusnya menjaga ditimpakan dosa yang besar," pinta Zul.

Zul mendoakan agar para pelaku karhutla diberi azab yang setimpal atas kelakuannya. Dia juga berharap, ke depan jangan ada lagi pemerintah yang saling menyalahkan, saling lempar tanggung jawab kalau karhutla terjadi. Seperti pemerintah pusat menyalahkan pemerintah daerah dan juga sebaliknya.

"Si A menuduh si B, dan sebaliknya. Tidak ada satupun yang mau tanggung jawab siapa yang salah. Untuk korporasi dan pengusaha sawit, jagalah hutan itu, sudah banyak kalian mendapat rezeki, kalian rusak juga mereka. Jagalah seperti kalian menjaga diri dan keluarga kalian. Jangan untung saja yang dipikir," ucap Zul.

Wali murid lainnya, Heri Susanto setuju keputusan pemerintah meliburkan anak sekolah lantaran kondisi udara di Pekanbaru di level berbahaya.

"Tentunya dengan memberikan tugas (Pekerjaan Rumah) yang wajib mereka kerjakan di rumah," ujar Heri Susanto.

Menurut Heri, dia dan warga Pekanbaru lainnya sebagai orang tua harus mampu dan tegas menjaga anak-anaknya agar tetap berada di rumah.

"Anak saya ada dua, yang satu MTs (Madrasah Tsnawaiyah setara SMP), satu lagi MA (Madrasah Aliyah setara SMA). Mereka diberi tugas oleh gurunya," kata Heri.

Selain itu, kata Heri, orang tua juga mesti memberi pemahaman kepada anak-anak bahwa efek dari asap yang berada di level berbahaya berdampak pada kesehatan hari ini dan ke depannya.

"Persoalan hari ini adalah dimana sebagai orang tua seolah-olah beranggapan asap ini tidak berbahaya dan membiarkan anak-anaknya bermain di luar. Jangan begitu, kita harus didik anak kita di rumah, ajarkan ilmu yang bermanfaat, juga tentang kebakaran hutan dan kondisi sekarang ini. Supaya di masa depan anak-anak, tidak ada lagi kebakaran hutan," kata Heri.

Sebelumnya, Dinas Pendidikan Pemko Pekanbaru memperpanjang masa libur anak sekolah mulai dari Paud, Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama.

"Berdasarkan hasil rapat, disepakati libur sekolah kembali diperpanjang hingga Sabtu 21 September," ujar Kepala Dinas Pendidikan Pemko Pekanbaru Abdul Jamal, Kamis (19/8).

Disdik Pemko Pekanbaru memutuskan kebijakan itu sudah lima kali. Setiap kali keputusan, libur dilakukan selama dua hari karena mengingat kondisi kabut asap, dalam dua pekan terakhir. [cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini