Kapolri harap Jawa Timur jadi contoh kebhinekaan
Merdeka.com - Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian berharap Jawa Timur bisa menjadi contoh daerah-daerah lain di Tanah Air dalam menjaga stabilitas keamanan dan kehidupan Berbhineka Tunggal Ika.
Harapan ini disampaikan jenderal polisi bintang empat itu saat menjadi pembicara di Forum Sinergitas Nasional bertema, 'Membangun Nilai-Nilai Kebangsaan Indonesia dalam Bingkai Kebhinekaan' di Gedung DPRD Jawa Timur, Jalan Indrapura, Surabaya, Sabtu (19/11).
Di hadapan Ketua DPRD Jawa Timur Abdul Halim Iskandar, Gubernur Soekarwo, Pangdam V Brawijaya, tokoh-tokoh politik dan beberapa Ormas Islam di Jawa Timur serta seluruh undangan, Tito menegaskan perlunya menjaga keutuhan NKRI.
Menurutnya, aksi 4 November (411) di Jakarta lalu, bisa menjadi pelajaran berharga. Demonstrasi yang dipicu perkataan Gubernur non-aktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok itu menjadi seperti 'bola salju' yang terus berkembang mengatasnamakan kebebasan berdemokrasi.
Dalam aksi damai 411 itu, juga terjadi aksi saling menghina satu sama lain, bahkan presiden sebagai simbol negara juga tak luput dari olok-olokan. Aksi anarkisme juga terjadi. Pasca-aksi, semua pihak saling lapor, saling tuding dan sebagainya.
Gambaran yang terjadi dan masih memanas hingga saat ini, meski Ahok sudah ditetapkan sebagai tersangka, dampak aksi 411 memberi 'ketakutan' akan ancaman kebhinekan di Indonesia.
Akhirnya, sejumlah kalangan menilai aksi bela Islam, yang rencananya akan berlanjut pada 2 Desember itupun bernuansa politis. Sehingga, untuk ke depan, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara perlu ada kontrol.
"Nah, saya berharap Jawa Timur ini, masyarakatnya, seperti disampaikan Pak Gubernur (Soekarwo) dan Pak Ketua DPRD (Abdul Halim Iskandar) faksinya hanya satu, yaitu faksi Jawa Timur," kata Tito usai acara.
Dengan hanya satu faksi, yaitu Jawa Timur itulah, menurut Tito, akan memudahkan pemerintah membentuk peraturan daerah (Perda) anti-radikalisme. "Sehingga pembuatan Perda akan lebih mudah. Komitmennya akan lebih mudah dicapai."
Menurut Tito, Jawa Timur adalah barometer kekuatan mempertahankan NKRI. Sejarah telah membuktikan itu: Betapa dahsyatnya perlawanan Kota Surabaya, yang menjadi napas Jawa Timur dalam mempertahankan kemerdekaan di masa pertempuran 10 November 1945.
"Nah sebaliknya, kita berharap Jawa Timur menjadi kota yang sangat penting dalam sejarah kita, yaitu Kota Pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan. Ini bisa menjadi titik tolak, justru untuk menjadi contoh, menjadi motor daerah-daerah lain dalam mempertahankan kebhinekaan, terutama di bawah bapak gubernur," katanya.
Tito juga menekankan betapa pentingnya mengontrol aksi radikalisme, yang berkembang menjadi kepentingan-kepentingan kelompok dengan alasan kebebasan berpendapat dan mengeluarkan ekspresi.
"Untuk itu perlu ada mekanisme kontrol, melalui rule of law, aturan-aturan hukum, baik aturan hukum di tingkat nasional, maupun di sini DPRD tingkat provinsi," tandasnya.
(mdk/tyo)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya