Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur, Irjen Pol Nanang Avianto, menegaskan bahwa kericuhan yang terjadi dalam aksi unjuk rasa di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, pada Jumat (29/8), bukanlah cerminan dari aspirasi murni komunitas ojek online (ojol).
Pernyataan ini disampaikan Irjen Nanang Avianto setelah membandingkan situasi di Grahadi dengan aksi ojol yang berlangsung kondusif di Markas Kepolisian Daerah Jawa Timur (Mapolda Jatim) pada hari yang sama. Kericuhan di Grahadi menimbulkan pertanyaan besar mengenai dalang di balik perusakan fasilitas umum.
Aksi unjuk rasa ini digelar oleh komunitas ojek online di Surabaya untuk menyampaikan tuntutan terkait kasus meninggalnya pengemudi daring bernama Affan Kurniawan dalam insiden tragis di Jakarta sehari sebelumnya.
Advertisement
Advertisement
Perbedaan Aksi Damai dan Kericuhan Aksi Ojol Grahadi
Irjen Pol Nanang Avianto menyoroti perbedaan mencolok antara dua lokasi aksi ojek online di Surabaya. Aksi di Mapolda Jatim berlangsung damai, murni, dan kondusif, dengan aspirasi yang ditampung secara terbuka oleh pihak kepolisian.
Sebaliknya, kericuhan aksi ojol Grahadi berujung pada perusakan fasilitas umum dan simbol kebesaran Provinsi Jawa Timur. Insiden ini merusak citra komunitas ojol yang seharusnya menyampaikan aspirasi dengan tertib.
Kapolda menegaskan bahwa komunitas ojol tidak boleh didiskreditkan akibat ulah oknum perusak. Pihak kepolisian akan melakukan investigasi mendalam untuk mengungkap siapa pelaku di balik kericuhan dan perusakan tersebut.
Advertisement
Simbol provinsi yang rusak di Grahadi harus dijaga bersama oleh seluruh elemen masyarakat. Peristiwa ini menjadi perhatian serius bagi aparat penegak hukum di Jawa Timur.
Advertisement
Prosedur Pengamanan dan Penggunaan Gas Air Mata
Irjen Nanang Avianto menjelaskan bahwa aparat kepolisian telah berupaya melakukan langkah persuasif sebelum mengambil tindakan tegas. Proses pengamanan dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.
Langkah-langkah tersebut meliputi imbauan simpatik, pembentukan barikade pengamanan, hingga penyemprotan air. Namun, massa yang ricuh di Grahadi justru semakin beringas, merusak kawat pengaman, melakukan pembakaran, dan pelemparan paving.
Bahkan, sebuah sepeda motor sempat dibakar oleh oknum perusak dalam kericuhan aksi ojol Grahadi tersebut. Situasi yang tidak terkendali ini memaksa aparat untuk melepaskan gas air mata.
Advertisement
Kapolda Jatim memastikan bahwa aparat sama sekali tidak menggunakan senjata api atau peluru, baik tajam maupun karet. Penggunaan gas air mata murni bertujuan untuk membubarkan massa dan mengendalikan situasi agar tidak semakin parah.
Advertisement
Ajakan Menjaga Kondusivitas dan Fasilitas Publik
Menyikapi insiden kericuhan aksi ojol Grahadi, Irjen Nanang Avianto mengajak seluruh elemen masyarakat Jawa Timur untuk bersama-sama menjaga kondusivitas. Penting untuk tidak melakukan perusakan fasilitas publik.
Fasilitas umum adalah milik bersama yang seharusnya dijaga dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Perusakan hanya akan merugikan semua pihak dan mengganggu ketertiban umum.
Kapolda juga menekankan bahwa anggaran negara sebaiknya dialokasikan untuk sektor-sektor penting seperti kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat, bukan untuk perbaikan fasilitas yang rusak akibat ulah oknum.
Advertisement
Pihak kepolisian berharap masyarakat Jawa Timur dapat menunjukkan rasa sayang terhadap provinsi dengan menjaga keamanan dan ketertiban. Investigasi terhadap pelaku kericuhan akan terus berlanjut untuk memastikan keadilan ditegakkan.
Sumber: AntaraNews