Jika Ada Unsur Pidana, Insiden Peluru Nyasar ke Mahasiswa akan Diproses Hukum

Minggu, 11 Agustus 2019 17:06 Reporter : Yunita Amalia
Jika Ada Unsur Pidana, Insiden Peluru Nyasar ke Mahasiswa akan Diproses Hukum Ilustrasi Penembakan. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Propam Polda Lampung masih mendalami insiden peluru nyasar melukai mahasiswa Universitas Bandar Lampung (UBL), Rahmat Herianto. Personel polisi sebagai pemilik senjata itu sudah diperiksa secara etik, namun akan dikembangkan untuk mencari tahu ada tidaknya unsur pidana terkait insiden tersebut.

"Kita akan proses setelah itu (pemeriksaan) selesai di Propam. Begitu selesai, pelanggaran pidananya juga diproses, bila terbukti melanggar hukum," ujar Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Mohammad Iqbal, di Mabes Polri usai melaksanakan salat Idul Adha, Jakarta, Minggu (11/8).

Iqbal menjelaskan, kepolisian memastikan seluruh anggota secara rutin mengikuti evaluasi psikologi. Tujuannya, memastikan psikologis anggota tersebut dalam keadaan normal tidak ada tekanan.

Seperti diberitakan sebelumnya, Rahmat Herianto mengalami luka akibat tertembak peluru nyasar dari senjata milik anggota Polres Lampung Selatan, Bripka Duansyah. Saat ini Rahmat masih menjalani perawatan di RS Urip Sumoharjo, Bandar Lampung.

Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Zahwani Pandra Arsyad menjelaskan kejadian tersebut berawal saat dua anggota Polres Lampung Selatan Brigpol Patiko Jayadi dan Bripka Duansyah janjian bertemu di pelataran UBL. Keduanya janjian ketemu ingin mengembalikan senjata api milik Bripka Duansyah.

"Mungkin, kayaknya di antara mereka (diduga pelaku) kuliahan. Mereka itu kuliah, karena UBL itu kampus yang diperuntukan oleh para pegawai negeri sipil, tni, polri kuliah untuk menambah ilmu. Jadi tak menutup kemungkinan, biasanya brigadir-brigadir di Polda itu atau di Polres itu mereka kuliah," kata Pandra saat dihubungi merdeka.com, Sabtu (10/8).

Dia menambahkan Bripka Duansyah sebelumnya meminta tolong kepada Brigadir Patiko untuk memperbaiki senjata api miliknya. Namun, sebelum dikembalikan ternyata tertinggal satu peluru di dalam senjata api tersebut.

"Lalu waktu saya ke Maluku, bertemu masyarakat. Saya tanya udah sarapan belum katanya, baru makan roti, belum makan, lalu akan makan nasi. Ternyata kalau makan nasi belum makan. Loh itu belum kenyang. Kalau makan itu makan apa, makan sagu. Hebat ya, roti iya, sagu iya, sagu iya," ungkap Mega sembari tertawa.

"Maka itu saya apreasi pemerintah dan DPR RI terkait UU Sistem Ilmu Pengetahuan dan Teknologi," sambungnya. [lia]

Topik berita Terkait:
  1. Peluru Nyasar
  2. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini