Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Jenderal Gatot dinilai lebih potensial sebagai cawapres

Jenderal Gatot dinilai lebih potensial sebagai cawapres Jenderal TNI Gatot Nurmantyo. ©2017 puspen tni

Merdeka.com - Dalam beberapa bulan terakhir nama Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo semakin santer digadang-gadang sebagai calon alternatif di gelaran Pemilihan Presiden 2019. Baik sebagai calon presiden maupun calon wakil presiden.

Namun, Jenderal Gatot dinilai lebih tepat jika mengambil posisi sebagai orang nomor dua di gelaran Pilpres. "Kalau dilihat memang posisinya paling potensial menjadi cawapres. Kalau misalnya dia tidak antiklimaks atau tren elektabilitasnya seperti apa," kata Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda di Jakarta, Kamis (19/10).

Peta politik jelang Pemilu dan Pilpres 2019 baru mulai terlihat jelas pada Agustus 2018. Jika Joko Widodo menyatakan bakal kembali maju pada Pilpres 2019, dia harus memilih pasangan yang memiliki basis elektabilitas. Gatot berpotensi menjadi pendamping Jokowi maupun Prabowo asalkan elektabilitasnya terus meningkat.

"Kalau tidak, lewat juga. Antiklimaks juga. Jadi yang bisa naik ke arena Pilpres itu yang elektabilitasnya tinggi," jelasnya.

Kehadiran figur berbasis militer seperti Gatot tidak serta merta dapat menahan atau mengganjal elektabilitas calon presiden dari kalangan militer yakni Prabowo Subianto. Peta politik sangat dinamis seiring semakin dekatnya pelaksanaan Pemilu.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Indikator Burhanuddin Muhtadi menilai, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo cocok berpasangan dengan Jokowi di Pilpres 2019. Sosok Gatot dinilai bisa melengkapi kelemahan Jokowi.

Burhan mengatakan, karakteristik pemilih Panglima Gatot mirip dengan lawan berat Jokowi, Prabowo. Mayoritas pemilih Gatot berasal dari kalangan yang tidak memilih Jokowi.

"Kalau kita zoom mereka yang memilih Gatot itu cenderung berasal dari pemilih muda, Islam, tinggal di Sumatera dan Jawa Barat," ujar Burhanuddin di kantornya, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (11/10).

Jika Gatot menjadi pasangan Jokowi, tentu mengancam suara untuk Prabowo. Kendati, suaranya saat ini masih tidak terlalu masif. Melihat manuver Gatot belakangan ini, bukan mustahil suara Gatot akan melambung.

"Menurut saya, kalau Gatot makin melambung, itu yang patut khawatir Prabowo. Nah sekarang Prabowo masih nyaman di peringkat kedua, karena kebetulan pak Gatot disurvei sampai tanggal 24 september kemarin, tingkat kedikenalannya masih sangat minimal," ucap Burhanuddin. (mdk/noe)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP