Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Jelang Ramadan, Pedagang Bunga Tabur di Solo Sepi Pembeli

Jelang Ramadan, Pedagang Bunga Tabur di Solo Sepi Pembeli Pedagang Bunga Tabur di Solo. ©2020 Merdeka.com/Arie Sunaryo

Merdeka.com - Menjelang bulan Ramadan, masyarakat Jawa khususnya di Kota Solo dan sekitarnya mempunyai tradisi Nyadran atau ziarah ke makam keluarga. Namun di tengah pandemi Corona, tradisi tersebut tak dilakukan. Masyarakat lebih memilih di rumah agar terhindar dari penularan Covid-19.

Kondisi tersebut mengakibatkan para penjual bunga tabur di Pasar Kembang dan sejumlah lokasi lainnya sepi pembeli. Bahkan harga bunga tabur sejumlah pedagang di pasar yang ada Jalan Honggowongso itu anjlog.

"Saya sudah 16 tahun berjualan bunga tabur, baru pada tahun ini sepi pembeli. Biasanya kurang 15 hari puasa sudah ramai," ujar Mursinah (39), salah satu penjual bunga di Pasar Kembang Solo, Selasa (14/4).

Menurut warga Ampel, Boyolali tersebut, dalam sehari hanya ada 15 sampai 20 orang pembeli. Kondisi tersebut berbeda sangat jauh jika dibandingkan dengan musim ziarah tahun lalu. Di mana pembeli bunga tabur saat itu bisa mencapai ratusan orang dalam sehari.

"Mungkin daya beli masyarakat turun. Banyak warga terdampak Covid-19 lebih menggunakan uangnya membeli kebutuhan pokok dan menunda ziarah," keluhnya.

Akibat sepinya pembeli, dikatakannya, harga bunga tabur yang biasanya naik kali ini anjlok. Harga bunga tabur mawar merah ukuran keranjang kecil hanya dijual Rp25.000 dari sebelumnya Rp60.000. Kemudian bunga mawar putih ukuran keranjang kecil Rp20.000 dari sebelumnya Rp40.000. Bunga mawar jambon keranjang kecil hanya Rp20.000 dari sebelumnya Rp50.000.

"Bunga melati juga ikut turun, biasanya dijual Rp75.000 per setengah kilogram turun drastis Rp40.000. Bunga kenanga Rp50.000 per keranjang kecil jadi Rp20.000," pungkas dia.

Senada diungkapkan pedagang lainnya, Ngadiem (52) warga Musuk, Boyolali yang mengaku omzetnya turun drastis sampai 70 pesen di musim sadranan tahun ini. Ia membandingkan pada musim sadranan tahun lalu omzetnya naik dua kali lipat.

"Banyak orang dari luar kota biasanya pulang kampung sebelum Ramadan untuk mengadakan sadranan tahun ini tidak berani karena takut Covid-19," kata dia.

Ia menambahkan banyaknya bunga yang tidak laku terjual dibiarkan layu begitu saja dan dibuang. Padahal, saat ini puncak panen bunga tabur.

(mdk/fik)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP