Istri Gus Dur: Puasa Mengajarkan Saling Menghargai Tidak Bergunjing

Jumat, 31 Mei 2019 21:37 Reporter : Imam Mubarok
Istri Gus Dur: Puasa Mengajarkan Saling Menghargai Tidak Bergunjing Shinta Nuriyah, istri almarhum Presiden Republik Indonesia ke-4 Abdurrahman Wahid. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Shinta Nuriyah, istri almarhum Presiden Republik Indonesia ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur), menggelar sahur bersama tokoh lintas agama dan masyarakat di Klenteng Tri Dharma Tjoe Hwie Kiong, Jalan Yos Sudarso No 148, Kota Kediri, Jawa Timur, Jumat (31/05).

"Kegiatan ini sudah saya lakukan selama 20 tahun sejak saya mendampingi Gus Dur di Istana Negara dulu," Kata Shinta kepada ratusan peserta sahur.

Dalam kegiatan yang bertajuk "Dengan Berpuasa Kita Padamkan Kobaran Api Kebencian dan Hoax" ini, Shinta mengingatkan pentingnya menjaga kerukunan antara umat beragama dan masyarakat.

Menurut Shinta beberapa orang menganggap selama ini puasa hanya sebagai ibadah tahunan. Puasa hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban saja. Padahal makna sesungguhnya adalah mengajarkan manusia untuk saling menolong, menghargai, mengasihi dan menjaga kehormatan satu sama lain.

"Puasa mengajarkan kita tentang moral dan budi pekerti yang luhur. karena puasa mengajarkan tentang kesabaran, kejujuran, ikhlas, saling tolong-menolong, saling menghormati, saling menghargai tidak bergunjing, tidak korupsi dan tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama" papar Shinta.

Shinta juga mengatakan, jika itu semua sudah bisa dilakukan dan diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari, maka tidak hanya mendapatkan pahala puasa saja, namun bisa melindungi diri bahkan melindungi semua anak bangsa Indonesia.

"Apabila kita mengajak saudara-saudara kita untuk berbuat yang seperti itu bersama-sama sehingga kerukunan kebersamaan dan persaudaraan dapat terjaga dengan sebaik-baiknya. Negara aman dan sejahtera karena apa, karena kerukunan kebersamaan persaudaraan itu merupakan pilar utama dari tegaknya sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sekalipun kita berbeda suku dan agama kita adalah satu. Satu nusa, satu bangsa, itulah kita wajah wajah masyarakat Indonesia," tambahnya.

Sementara itu ditemui usai acara, Ketua Yayasan Tri Dharma Tjoe Hwie Kiong Kediri, Prayitno Sutikno menuturkan kebanggaannya dengan adanya sahur bersama bersama Shinta.

"Ini adalah bukti kita bisa menjaga kebersamaan dengan teman-teman dari semua unsur agama yang lain. Harapan Kita Semoga dengan kegiatan seperti ini kita tetap selalu bisa menjaga kebersamaan dan kekondusifitasan Kota Kediri khususnya dan Indonesia umumnya. Kegiatan ini akan menjadi bukti bahwa masyarakat Kediri bisa bersama sama menjaga kebersamaan antar umat beragama dan lintas masyarakat," terang Prayitno.

Kehadiran istri almarhum Gus Dur mendapat pengawalan dari Paspampres, Kepolisian dan puluhan Banser. Usai menyampaikan pesan-pesan kedamaian Shinta menutup acara dengan mengajak warga yang hadir dengan membaca Syi'ir Abu Nawas, menirukan kebiasaan Gus Dur, yang diiringi oleh grup musik cangkir gading dan dilanjutkan doa bersama lintas agama yang dipimpin Ketua PCNU Kota Kediri KH Abu Bakar Abdul Djalil. [cob]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini