Islam konservatif plus militer vs kelompok pluralisme di pemilu 2019

Selasa, 7 November 2017 22:47 Reporter : Ahda Bayhaqi
Islam konservatif plus militer vs kelompok pluralisme di pemilu 2019 Sosiolog UI Dr Thamrin Amal Tomagola. ©2017 Merdeka.com/Ahda Bayhaqi

Merdeka.com - Sosiolog Universitas Indonesia Thamrin Amal Tomagola melihat pengaruh besar kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam kontestasi politik di 2019 mendatang. Kendati telah dibubarkan oleh pemerintah dengan UU Ormas, gerakan mereka di akar rumput masih hidup.

HTI, menurut Thamrin, bersemayam di balik gerakan 212. Mereka merupakan kelompok muslim perkotaan konservatif yang juga terdidik. Berusaha merangkul masyarakat akat rumput. Salah satu tujuannya adalah memenangkan kandidat mereka.

"Mereka akan memobilisir warga yang mereka pikir blok 212 untuk mendukung kandidat tertentu. Operasi akar rumputnya sudah besar enggak kepegang rektor, menteri, presiden. Benar-benar ngambang di bawah. Mereka memiliki organisasi rapi, terstruktur, sistematis, masif," ujar Thamrin dalam diskusi di gedung KPU, Jakarta Pusat, Selasa (7/11).

Thamrin menilai yang sesungguhnya bisa melawan gerakan seperti HTI adalah kelompok dari militer. Sayangnya, kata Thamrin ada kesamaan musuh bersama antara kelompok Islam konservatif tersebut dengan militer yakni komunisme.

Thamrin pun menuturkan gabungan dua kelompok tersebut bisa menghasilkan kandidat di 2019. Dia menyebut, bisa muncul pasangan seperti Prabowo Subianto dan Anies Baswedan. Ataupun Panglima Gatot Nurmantyo dengan Anies Baswedan.

"Sejauh ini dari ucapan Gatot, militer dasarnya anti komunis PKI. Siapa yang anti komunis, muslim perkotaan siapa yang usung sejalan dengan militer. Kemungkinan untuk bergabung besar sekali untuk memuluskan jalan ke 2019 lewat manuver pasangan tertentu di lokasi tertentu, operasi mulai sekarang," jelas Thamrin.

Polarisasi ini bisa terjadi lantaran pilkada DKI Jakarta lalu. Gerakan 212, kata Thamrin, lahir karena kemarahan masyarakat miskin kalangan menengah ke bawah yang tidak terangkul pemerintah. Dari sini HTI masuk.

NU dan Muhammadiyah, kata Thamrin kecolongan oleh gerakan ini. Dua kelompok agama besar di tanah air itu, terlalu mendekatkan ke politik kenegaraan. Kurang mengawasi yang berada di akar rumput.

"NU sibuk di menengah, Muhammadiyah sibuk di pendidikan. NU sibuk mendekati negara, meninggalkan umat di akar rumput. Umat diambil FPI, HTI. Muncul gerakan 212 kegagalan NU dan Muhammadiyah mengurus umat akar rumput, lahan diambil," kata dia.

Hal yang terjadi pun luput dalam politik Presiden Joko Widodo. Sosok yang lahir dengan embel-embel rakyat kecil, gagal merangkul golongannya. Alih-alih Jokowi malah mendekat ke elite politik nasional dekat masa jabatannya habis. Seperti sikap Jokowi yang tidak memihak dalam polemik pansus hak angket KPK.

"Jokowi berhasil ambil elite politik tapi ditinggalkan rakyat," ucap Thamrin.

Akhirnya, ujar dia, polarisasi politik 2019 makin terlihat dengan dua kubu. Pertama kubu muslim konservatif dari gerakan 212, dan militer. Melawan, kelompok yang berbicara kebhinekaan, pluralisme dan Pancasila. [bal]

Topik berita Terkait:
  1. Pilpres 2019
  2. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini