Ini hasil pertemuan Hamdan Zoelva-Kapolri soal pidato viral ormas Islam

Rabu, 31 Januari 2018 17:11 Reporter : Nur Habibie
Ini hasil pertemuan Hamdan Zoelva-Kapolri soal pidato viral ormas Islam Hamdan Zoelva bertemu Kapolri. ©2018 Merdeka.com/Nur Habibie

Merdeka.com - Ketua Umum Syarikat Islam Hamdan Zoelva bertemu Kapolri Jenderal Tito Karnavian, di rumah dinas terkait klarifikasi soal video pidato Tito yang viral di media sosial. Pertemuan itu dilakukan di Rumah Dinas Kapolri, Jalan Pattimura, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

"Saya bersama Ketua Dewan Pusat dan Wakil Ketua Dewan Pusat, memang meminta bertemu dengan bapak Kapolri untuk mendapatkan klarifikasi atau tabayun terhadap pernyataan Pak Kapolri yang menjadi viral di media saat sekarang ini dan menjadi pembicaraan umat di kalangan bawah," kata Hamdan di Rumah Dinas Kapolri, Jalan Pattimura, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (31/1).

Dirinya menjelaskan bahwa pihaknya sudah mendapatkan klarifikasi dari Tito tentang pernyataan atau pidato yang menjadi viral tersebut. Dan saat itu Tito juga menyampaikan kronologi atau cerita yang lengkap tentang bagaimana pernyataan itu sebenarnya.

"Pertama disampaikan bahwa pernyataan itu disampaikan di Pondok Pesantren Kiai Ma'aruf Amin dalam sebuah acara internal dari Nahdlatul Ulama pada bulan Februari tahun yang lalu 2017, jadi pernyataan sudah cukup lama," jelasnya.

Video pidato Tito yang sebenarnya, lanjut Hamdan, berlangsung selama 26 menit. Dan video yang menjadi viral di media sosial menurut Tito tidak sesuai dengan inti yang disampaikan karena memang video tersebut terpotong-potong.

"Kemudian yang kedua sebenarnya pidato Kapolri berlangsung selama 26 menit yang di jadi viral itu adalah bagian pidato yang menurut keterangan pak Kapolri tidak sesuai dengan jiwa inti yang disampaikan dalam pidato itu dan karena itu pidato itu adalah terpotong-potong sebagiannya yang sehingga menghilangkan seluruh rangkaian cerita pidato yang, yang pada saat itu dilakukan," ucapnya.

Dirinya pun mengungkapkan bahwa pihaknya sempat marah dengan pidato yang disampaikan oleh Tito. Dan sebelum Tito memberikan penjelasan, pihaknya sempat melakukan protes yang sangat keras bahwa apa yang disampaikannya itu tidaklah benar.

"Tetapi dengan dapatkan penjelasan itu kami bisa memahami tidak ada niat sama sekali seperti disampaikan oleh beliau (Kapolri) untuk menyampingkan adanya ormas-ormas Islam yang lain dan untuk menyatakan bahwa Ormas yang lain itu adalah merontokkan negara, sama sekali tidak ada," ungkapnya.

"Dan yang dimaksudkan dengan merontokkan negara itu adalah awal pembicaraan yang berkaitan dengan kelompok-kelompok takfiri ya, yang kita tahu kalau kelompok takfiri itu yang kelompok-kelompok yang apa yang sangat radikal gitu, jadi tidak dimasukkan kepada ormas-ormas itu," sambungnya.

Dalam hal ini, nantinya Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'aruf Amin akan melakukan juga klarifikasi akan pidato sambutan Tito. Karena menurut Hamdan adalah Ma'aruf merupakan saksi dalam pidato yang Tito sampaikan.

"Dan nanti karena saksi hidupnya ada, kami bisa percaya akan disampaikan langsung oleh pak Ma'aruf Amin, pak Ma'aruf Amin yang akan menyampaikan secara langsung bagaimana jalan ceritanya. Oleh karena itu kami dari Sarikat Islam dapat memahami klarifikasi oleh bapak Kapolri dari apa, dari pembicaraan diskusi yang tadi sudah berlangsung cukup lama," tandasnya.

Sebelumnya, Wakil Sekjen (Majelis Ulama Indonesia) MUI KH Tengku Zulkarnain membuat surat terbuka untuk Kapolri melalui akun Facebooknya terkait pidato tersebut. Zulkarnain menulis surat terbuka tersebut atas nama warga negara Indonesia tertanggal 29 Januari 2018.

Dalam surat terbuka yang ia tulis di Facebook untuk Kapolri bahwa dirinya kecewa terhadap pernyataan Tito yang tidak menganggap perjuangan umat Islam di luar ormas NU dan Muhammadiyah. Apalagi ada ucapan miring dari Tito terhadap ormas Islam di luar NU dan Muhammadiyah.

"Benar itu saya yang menuliskan. Langsung dengan tangan saya. Saya sangat kecewa dan keberatan atas pidato Kapolri yang saya nilai provokatif , tidak mendidik, buta sejarah, tidak berkeadilan, dan rawan memicu konflik," ujar Zulkarnain saat dikonfirmasi, Selasa (30/1).

Dirinya juga menolak soal rencana Polri yang akan mengumpulkan perwakilan ormas Islam di Indonesia terkait pidato Tito. Menurutnya, pertemuan tersebut juga tidak akan menyelesaikan masalah.

Pertemuan itu juga menurutnya justru akan menimbulkan permasalahan atau persoalan yang baru. Saat ini yang dibutuhkan olehnya adalah sikap keberanian mantan Kepala BNPT untuk meminta maaf kepada umat secara terbuka.

"Saya dan umat sekarang menunggu pernyataan maaf dari Kapolri," tandasnya. [ian]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini