Ini alasan mengapa dilarang melihat gerhana matahari langsung
Merdeka.com - Pelajar SMP Islam Al Azar 13 Surabaya, Jawa Timur mendapat bekal cara melihat gerhana matahari total pada 9 Maret besok secara aman. Ilmu melihat fenomena alam itu, didapat dari ahli astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB). Ternyata, fenomena matahari tertutup bayangan bulan itu, juga bisa dilihat dengan kamera lubang jarum terbuat dari kardus.
Kenapa melihat gerhana matahari wajib dipelajari? Menurut ahli astronomi ITB, Andi Siti Maryam, melihat gerhana matahari secara langsung, bisa merusak mata. Cahayanya mampu membakar retina dan menyebabkan kebutaan.
"Posisi aman adalah ketika gerhana matahari total. Ini adalah tahap aman melihatnya secara langsung. Tapi saat piringan matahari kembali terbuka, akan menjadi lebih berbahaya. Karena kondisi pupil masih terlalu besar setelah melihat kegelapan," terang Maryam di hadapan 60 pelajar kelas 8 SMP Al Azar 13 Surabaya, Senin (7/3).
Lanjut dia, posisi gerhana matahari, sama halnya dengan kaca pembesar yang meneruskan cahaya matahari menuju satu titik. Benda yang tertimpa cahaya di titik fokus, akan terbakar. Begitu juga yang terjadi ketika gerhana dilihat langsung dengan mata telanjang. "Selama ini, anak-anak tidak pernah tahu bentuk matahari yang asli. Mereka juga tidak tahu cara melihat matahari secara langsung," jelas alumnus ITB tersebut.
Nah, masih kata perempuan yang konsen di bidang astronomi ini, untuk melihat gerhana, anak-anak bisa melihatnya menggunakan teleskop, kaca mata filter matahari dan kamera lubang jarum terbuat dari kardus. "Kalau teleskop jarang dimiliki oleh anak-anak. Yang paling sederhana dan gampang didapat adalah menggunakan kaca mata filter dan kamera lubang jarum. Dua alat ini mudah didapat karena murah."
"Dengan kamera lubang jarum, selain mudah dibuat dari kardus dan kertas, anak-anak juga bisa dengan aman melihat bayangan induksi matahari dari sinar yang masuk melalui lubang kecil yang ada pada kardus," sambungnya.
Selain menjelaskan cara aman melihat fenomena tertutupnya matahari oleh bulan itu, Maryam juga memaparkan jenis-jenis gerhana matahari. Ada gerhana matahari total, cincin, sebagian dan gerhana matahari hibrida. "Meski sering terjadi, gerhana matahari adalah fenomena alam yang cukup langka. Di Indonesia, setelah terjadi di tahun ini (2016), akan kembali terjadi di Tahun 2042," terangnya.
Tahun ini, kata dia, gerhana matahari akan melewati beberapa pulau di Tanah Air, seperti di Sumatera Selatan, Kalimantan, Sulawesi dan Ternate. Untuk di Pulau Jawa, tidak terjadi gerhana matahari total, tapi hanya sebagian, yaitu sekitar 83 persen.
"Di Jawa 83 persen bayangan matahari akan tertutup bayangan bulan. Kira-kira tahap pertama gerhana matahari akan dimulai sekitar pukul 06.30 WIB, yaitu tahap bulan akan memasuki piringan matahari, dan akan mencapai 83 persen sekitar pukul 07.30 WIB. Gerhana akan berakhir pada pukul 08.30 WIB," pungkasnya.
Ilmu melihat gerhana yang disampaikan Maryam ini, mendapat apresiasi dari para pelajar Al Azar 13. Salah satunya Deanya Parahita. "Saya pernah dengar gerhana matahari. Katanya, saat ada gerhana bumi akan gelap, tapi belum pernah lihat. Setelah mendapat pengetahuan hari ini tentang gerhana matahari, saya senang, dan tidak akan coba-coba melihatnya secara langsung, karena bisa merusak mata," akunya.
(mdk/hhw)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya