Ilham Kiai dan Kreativitas Milenial di Batik Sokaraja
Merdeka.com - Sanggar Batik Bawor Sokaraja tak pernah sepi. Aktivitas membatik tercium dari aroma lelehan malam yang menguar. Perempuan-perempuan berkerudung duduk melingkari wajan kecil di atas kompor minyak tanah berukuran mini. Mereka menorehkan cairan malam di permukaan kain. Lalu membentuk motif bunga menggunakan canting.
Ahmad Taefur Anwar (65), si empunya sanggar, duduk mengamati puluhan mahasiswi yang tengah belajar membatik. Sesekali ia menyontohkan cara memegang canting.
Ahmad Taefur seorang pembatik asal Sokaraja Lor, Kabupaten Banyumas. Mendiang ayahnya, Kiai Anwar Ibnu Umar selain dikenal sebagai ulama juga seorang desainer batik. Pengalaman dan pengetahuan Taefur tentang batik membuat ia diminta menjadi dosen di salah satu Universitas swasta di Kabupaten Banyumas. Ia mengajar muatan lokal tentang teori dan praktik batik Banyumas bagi calon sarjana pendidikan guru sekolah dasar.
"Perkembangan batik di Sokaraja sangat lekat dengan dunia pesantren," ujar Taefur.
Taefur memaparkan, batik sudah dikenal di Sokaraja sejak tahun 1830. Sejarahnya bermula dari pengikut-pengikut Pangeran Diponegoro yang menetap di Sokaraja usai Perang Jawa. Salah satunya, Najendra yang mengembangkan batik celup di Sokaraja. Lama kelamaan kepengrajinan batik menjalar pada warga Sokaraja.
Sokaraja juga dikenal sebagai pusat menimba ilmu agama Islam bagi para santri. Di tahun 1960-an, batik pun mulai jadi bagian kemandirian usaha pondok pesantren serta peningkatkan ekonomi warga di wilayah sekitarnya. Itu sebabnya, sentra batik paling populer di Sokaraja berada di sekitar Masjid Besar Baitul Mumin atau yang kerap disebut daerah Kauman Sokaraja.
Selain di Kauman, batik juga berkembang di Sokaraja Lor. Tokoh yang berperan, salah satunya Kiai Haji Ilyas. Ia mendirikan pesulukan kajian tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah. Selain mengajarkan tasawuf, Kiai Ilyas mulai menjadikan batik bagian dari industri kecil dan menengah (IKM) bagi warga sekitar.
Batik dinilai strategis sebagai industri kecil dan menengah (IKM) bagi pesantren dan warga sebab padat karya. Pasalnya, pengerjaan batik mesti melibatkan banyak orang, mulai dari pendesain, pengobeng atau artisan, pewarna.
"Para Kiai di Sokaraja memadukan kecerdasan intelektual dan spiritual tak semata untuk rohani tapi juga pemberdayaan warga secara ekonomi," kata Taefur.
Jejak kecerdasan kiai, juga nampak pada pencarian solusi ketika motif binatang tengah marak diminati pasar tetapi di sisi lain berbenturan dengan syariat Islam yang melarang penggambaran mahluk hidup pada pakaian.
Batik Sokaraja
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comKiai mengambil jalan tengah bahwa binatang tetap dapat digambar tetapi dalam kondisi mati. Itu sebabnya, motif burung berak yang kerap muncul di batik Sokaraja ditandai dengan kondisi kepala terpotong. Bagian tubuh yang terpotong menyimbolkan makhluk yang tak lagi bernyawa.
"Di Sokaraja batik juga fesyen muslim kan. Santri di sini kerap memakai sarung batik," ujar Taefur.
Menjalankan praktik ekonomi yang mengedepankan sisi sosial dan religius sebagaimana para kiai jadi panduan Taefur mengelola Sanggar Batik Bawor. Itu sebabnya, ia tak hanya fokus memproduksi batik tulis tetapi juga edukasi batik tulis. Selain memproduksi kurang lebih 60 batik tulis perbulan, Taefur mengajarkan batik tulis pada warga setempat, pelajar atau mahasiswa. Tujuannya pembelajaran untuk menjaga regenerasi pembatik.
"Misi saya menjadikan batik sebagai sumber kebaikan bagi masyarakat dan lingkungan. Para kyai terdahulu di Sokaraja kan sudah membuktikan bahwa mereka berhasil mengangkat batik sebagai industri kreatif warga," ujarnya.
Edukasi batik tulis yang difokuskan Taefur setidaknya memberi pengaruh tersendiri pada putranya, Nahdi Duta Ahmad (21). Nahdi mulai menekuni kepengrajinan membatik untuk mengembangkan wirausaha kaus oblong atau T-shirt. Tujuannya, mengubah persepsi bahwa batik tulis tak semata untuk pakaian formal. Tetapi juga dapat digunakan untuk busana casual bagi anak-anak muda.
Mahdi bereksperimen membuat batik tulis dengan motif tokoh-tokoh wayang atau pahlawan super dari komik dan film untuk memperindah kaos oblong. Menurutnya, generasi milenial saat ini memiliki apresiasi tinggi terhadap lokal konten. Batik ia nilai punya daya tarik tersendiri jika diusung ke dalam gaya kontemporer atau pop art.
"Teknik membatik di atas kaos tetap menggunakan malam. Pengerjaannya manual dengan canting," ungkap Nahdi, Rabu (13/11).
Mulanya Nahdi menjual kaos batiknya sesuai pesanan dari teman-teman di lingkungan sekolahnya. Saat ini, Ia mulai memasarkan produk kaos batiknya lewat aplikasi berbagi foto dan video, layanan jaring sosial, serta di perusahaan e-commerce marketplace. Kaos batik jadi ekspresinya menjaga kelestarian budaya serta pengetahuan seni keluarga secara turun temurun. Hanya pengemasannya lebih modern
"Abi saya mendukung. Kadang kami diskusi dan dia memberi bantuan untuk menyelesaikan batiknya," ujar Mahdi.
Perjalanan Batik Sokaraja merupakan ilham dari semangat para kyai mendorong dan menumbuhkan perajin dan pelaku batik untuk terus mengembangkan warisan budaya tak benda asli Indonesia. Seiring bergulirnya era revolusi industri 4.0, yang memunculkan berbagai teknologi informasi digital, batik Sokaraja di tangan milenial berkembang jadi ekspresi kreatif sekaligus inovatif.
Batik Sokaraja setidaknya merepresentasikan perjalanan panjang praktik sosial yang beriringan dengan sisi religius untuk pemberdayaan ekonomi warga.
(mdk/did)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya