Hutan bakau rusak akibat pencemaran minyak di perairan teluk Balikpapan
Merdeka.com - Hutan bakau di pesisir Balikpapan, rusak akibat pencemaran minyak di perairan teluk Balikpapan. Bahkan, kelompok mamalia laut pesut endemik, juga terperangkap di perairan yang tercemar.
Danielle Kreb, peneliti satwa mamalia perairan asal Belanda, sekaligus Co-Founder Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI), menyusuri perairan yang terpapar minyak pada Selasa (3/4) kemarin.
"Kami lakukan penelitian independen mulai daerah Kampung Baru, kami sudah disambut bau menyengat pekat," kata Danielle, kepada merdeka.com, Rabu (4/4) sore.

Perjalanan menggunakan kapal motor, berlanjut ke kawasan Kariangau, menyusuri hutan bakau. Terlihat, paparan minyak merusak hutan bakau yang menjadi habitat ikan, termasuk mamalia perairan.
"Sebagian makanan terpapar minyak, makanan berkurang. Sebaran minyak di mana-mana. Kami juga pantau menggunakan drone," ujar Danielle, yang sudah lebih 20 tahun ini tinggal di Kalimantan Timur, meneliti satwa mamalia perairan.
Penelusuran terus berlanjut ke hulu teluk Balikpapan yang juga ikut terpapar minyak. "Tadi pagi, tim berlanjut lagi. Juga ada paparan minyak di sekitar pulau Balang, dan kelompok pesut sedikit terjebak di hulu perairan pulau. Susah gerak hilir, karena paparan minyak," ungkap Danielle.
Danielle berharap, upaya melokalisir paparan minyak tidak hanya di lokasi perairan yang strategis. "Mestinya juga di hulu, minyak diblokir. Kawasan ekologi juga penting, dan itu vital. Karena penyediaan makanan satwa laut, dan untuk kepentingan nelayan mencari ikan," terangnya.

Danielle menginginkan semua pihak segera membersihkan minyak di perairan. "Secepatnya habiskan minyak di laut. Itu hutan bakau di Kariangau parah sekali. Bakau tidak bisa bernafas otomatis mati. Karena bakau juga tempat ikan bertelur. Jadi fungsi bakau sangat banyak," jelasnya.
Danielle mengingatkan, satwa mamalia pesut di teluk Balikpapan, sudah diakui dunia masuk kategori endangered atau terancam punah. "Populasinya sangat rawan. Karena pesut pesisir bergantung hidup di pesisir, tidak bisa ke perairan dalam. Teluk Balikpapan diakui dunia, untuk satwa mamalia perairan," tutup Danielle.
(mdk/lia)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya