Hasyim Muzadi Institute dibangun untuk pengkaderan ulama dan santri

Minggu, 23 April 2017 19:14 Reporter : Nur Fauziah
Hasyim Muzadi Institute dibangun untuk pengkaderan ulama dan santri Pemakaman KH Hasyim Muzadi. ©2017 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Merdeka.com - Keluarga besar memperingati 40 hari meninggalnya mantan Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi, Minggu (23/4). Rangkaian peringatan 40 hari dimulai dengan bedah buku di pesantren Al Hikam, Kelurahan Kukusan, Depok. Ada empat buku yang dibedah antara lain Biografi KH Hasyim Muzadi (Ngaji Hidup Mengasah Kehidupan), Dakwah Bil Hikmah (Reaktualisasi Ajaran Walisongo), Islam Moderat untuk Perdamaian Global (Jembatan Islam dan Barat), Kearifan Lokal Sebagai Modal Sosial dan Bahaya Gerakan Islam Transnasional.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Arif Zamhari mengatakan, ada pesan yang ditinggalkan Hasyim sebelum wafat. Mantan Wantimpres itu berpesan agar memperkuat pengkaderan pesantren dan ulama di bidang politik kebangsaan dan pengetahuan ahli sunnah waljamaah.

"Kami mendapat kesempatan terhormat untuk meneruskan pesan beliau dan nantinya kami juga akan membentuk Hasyim Muzadi Institute (HMI) untuk meneruskan apa yang menjadi pesan beliau," katanya, Minggu (23/4).

Kedua pesan penting karena banyak ulama saat ini belum begitu memiliki ilmu politik kebangsaan serta pengetahuan ahli sunnah waljamaah secara mendalam. "Itu pesan beliau pada kami," tukasnya.

Di tempat sama, Salahudin Wahid atau Gus Solah mengenang Hasyim sebagai sosok yang mampu menjadi penengah kelompok di luar Islam. Almarhum juga bisa menjadi juru damai di tengah konflik.

"Jika ada gesekan dari tiap kelompok di dalam islam, Kiai Hasyim mampu menyelesaikan masalah itu tanpa mendatangkan masalah lainnya. Intinya Kiai Hasyim itu merupakan penengah jika ada konflik yang sulit diselesaikan di Indonesia," katanya. [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini