Harum Kebinekaan di Atas Daun Pisang

Selasa, 17 September 2019 21:46 Reporter : Angga Yudha Pratomo
Harum Kebinekaan di Atas Daun Pisang Makan Alas Daun Pisang. ©2019 Liputan6.com

Merdeka.com - Terpal biru menutupi seluruh bagian jalan di Gang Ruhana, Paledang, Kota Bandung. Hampir semua warga duduk lesehan saling berhadapan di atasnya. Mereka asyik berbincang dan tertawa satu sama salin sambil menanti azan Magrib tiba.

Di hadapan mereka, terpajang daun pisang diatur memanjang. Satu persatu makanan dibawa mayoritas kaum ibu mulai datang. Menyajikan hidangan khas rumahan. Mulai dari cemilan hingga makanan utama. Semua disajikan demi bisa buka puasa bersama di pekan ketiga Ramadan.

Azan Magrib pun berkumandang. Seorang warga memimpin doa sebagai bentuk rasa bersyukur diberi kesempatan bisa berkumpul untuk buka puasa bersama. Kemudian hidangan mulai disantap. Sambil menikmati tiap makanan, raut wajah bahagia mereka semakin terpancar.

Kebahagiaan dirasakan warga Gang Ruhana ketika buka puasa bersama tentu berbeda. Di atas lebar jalan lebih kurang 1,5 meter, mereka benar-benar menjaga kerukunan. Tidak semua warga menganut agama Islam. Apalagi di dalam gang itu berdiri Klenteng, Gereja dan Musala dengan jarak berdempetan.

"Sudah dua tahun kami melakukan buka bersama. Di sana kami hidup akur sudah sejak lama," cerita Ketua RW 2, Rini Ambar Wulan, kepada merdeka.com pada Senin (16/9) kemarin.

Menurut Rini, makan bersama di atas daun pisang merupakan tradisi Botram. Biasanya dilakukan ketika ada acara besar untuk menjaga rasa kebersamaan. Dengan cara itu, antar warga semakin saling menghormati meski berbeda keyakinan.

Tidak jarang inisiatif menggelar buka puasa bersama muncul dari kalangan pengurus gereja. Mereka, kata Rini, biasanya ingin sekaligus melakukan bakti sosial dengan melibatkan warga sekitar.

Sudah lama terpupuk rasa saling menghormati, membuat wilayah itu mendapat predikat Kampung Toleransi dari Pemerintah Kota Bandung sejak tahun 2018. Bukan hanya unik karena adanya rumah ibadah yang berdempetan. Keharmonisan wilayah dengan jumlah 125 kepala keluarga itu juga terasa indah.

"Terlihat sekali kebinekaan di Gang Ruhana. Dari sana juga memberi dampak positif ke wilayah sekitar kami," ungkap Rini.

Botram atau makan bersama dengan alas daun pisang, menjadi salah satu tradisi khas masyarakat Sunda. Sebenarnya budaya makan bersama ini juga dilakukan banyak masyarakat Pulau Jawa.

Untuk di wilayah Jawa Tengah, masyarakat di sana biasanya menyebut tradisi itu sebagai Kembulan. Lewat cara makan seperti ini, menjadi momen berharga bagi siapa saja yang ikut menikmati.

Tradisi Botram di Kampung Toleransi Paledang ©2019 Dok. Kelurahan Paledang

Dosen Sejarah dan Kebudayaan Jawa FIB UI, Prapto Yuwono, melihat Tradisi Botram atau Kembulan biasanya memang mengutamakan sisi sosial. Biasanya dilakukan pada ruangan terbuka setelah mengadakan kegiatan gotong royong di suatu wilayah.

Arti tradisi Kembulan sebenarnya sederhana, yakni makan bersama. Adapun alasan pakai daun pisang, itu dikarenakan sesuatu paling mudah di dapat dan paling merakyat.

Tradisi makan bersama itu memang untuk menyatukan warga dalam satu wilayah. Prapto menjelaskan, tradisi Kembulan berbeda ketika disandingkan dengan upacara Selametan. Walaupun di dalam kedua acara itu konteksnya makan, tetapi dalam Selametan lebih mengutamakan unsur spiritual.

"Acara Selametan itu ada sisi spiritual dan sisi sosial. Sedangkan Kembulan, hanya sisi sosial saja. Dengan tujuan, bagaimana menyatukan silaturahmi satu kampung," ujar Prapto menerangkan.

Menumbuhkan Rasa Persatuan

Tradisi Botram maupun Kembulan bukan hanya dilakukan di desa. Bagi warga ibu kota, momen ini tentu dirasa istimewa. Mereka bisa bergembira menikmati makan dan menghentikan pekerjaan sejenak.

Endang, seorang karyawan perusahaan startup bilangan Tebet, Jakarta Selatan, mengaku kantornya beberapa sengaja menggelar Botram. Dilakukan ketika istirahat makan siang. Dari tradisi itu dirinya juga merasakan kuatnya kebinekaan.

Ketika mengadakan Botram, setiap karyawan memang membawa makanan buatan keluarga di rumah. Tiap rantang berisi beragam menu. Mulai dari ayam dan ikan goreng, berbagai macam sayur, semur jengkol, petai sampai lalapan. Tidak lupa, sambal menjadi hidangan wajib agar semakin nikmat.

Setelah selesai salat Zuhur berjemaah, Endang mulai mengajak seluruh rekan kerjanya menuju teras belakang kantor. Biasanya lembaran daun pisang sudah terlentang di atas ubin. Disiapkan rekan kantornya yang beragama Katolik bernama Wisnu.

Menurut Endang, rekan kerjanya itu sampai keliling Tebet demi mendapat daun pisang ketika banyak kawan di kantor menjalankan ibadah salat.

"Ketika kami salat, teman kami Wisnu bela-belain ke pasar beli daun pisang. Kita gelar Botram, makan sambil lesehan," cerita Endang kepada kami, Sabtu pekan lalu.

Dalam acara makan bersama itu, bisa sampai 20 orang lebih. Jejeran daun pisang bisa mencapai 3 meter. Kemudian makanan ditata rapi dan merata agar tidak ada rasa merasa lebih banyak.

Memang sebagian temannya tidak menyukai makanan seperti jengkol dan petai. Justru itu tidak menjadi permasalahan. Dengan kondisi itu Endang memahami pentingnya rasa toleransi. Biasanya buat dua jenis makanan itu sengaja dipisahkan dalam piring. "Kita ingin menikmati Botram tanpa ada rasa risih, dan nanti jadi masalah tersendiri," ungkapnya.

Dalam tradisi Kembulan memang membawa makanan dari rumah. Ada proses tukar menukar makanan yang pantas untuk dimakan. Biasanya di wilayah tertentu, para masyarakatnya membuat makanan ciri khasnya.

Menjaga Persatuan

Botram atau Kembulan, memang bukan sekedar tradisi makan bersama. Selain menjaga kerukunan, tiap orang terlibat dalam kegiatan itu harus mengutamakan persatuan.

Menurut Prapto, wujud kebinekaan juga sudah tergambar dari makanan yang disajikan. Tiap orang membawa makanan berbeda dan semua bisa merasa bahagia. "Mereka merasa tukar menukar ini kebersamaan. Silaturahmi itu yang dipentingkan," Prapto menjelaskan.

Tidak menutup kemungkinan, melalui makan bersama bisa menyelesaikan permasalahan sosial di Indonesia. Cara ini bahkan sudah beberapa kali dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan cara mengundang masyarakat ke Istana Negara.

Di tengah konflik di beberapa wilayah Papua, Presiden Jokowi justru membuat terobosan. Dengan mengundang dua orang pemenang Festival Gapura Cinta Negeri 2019 Asal Papua, yaitu Tekius Heluka dari Kabupaten Nduga dan Otniel Kayani dari Kabupaten Yapen. Keduanya diajak makan siang bersama di Istana Merdeka pada Selasa, 3 September 2019 lalu.

Jokowi makan siang bersama warga Nduga dan Yapen ©Liputan6.com/Angga Yuniar

Tidak hanya sekedar makan siang dan beri penghargaan, kesempatan itu menjadi ajang tukar pikiran antara presiden dan rakyat. Terutama Presiden Jokowi mendengar sejumlah usulan terkait pembangunan di daerah paling timur Indonesia itu.

Upaya menjaga persatuan sebelumnya telah ditegaskan Presiden Jokowi ketika Hari Ulang Tahun ke-74 Republik Indonesia. Dia mengingatkan bahwa masyarakat harus mengutamakan keutuhan negara.

"Keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia adalah segala-segalanya. Jangan sampai dikorbankan yang namanya keutuhan NKRI karena pilihan bupati, pilihan gubernur, pilihan presiden, keutuhan NKRI harus ditempatkan di tempat yang paling penting," ucap Jokowi menerangkan. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini