Hamzah bin Abdul Muththalib, Singa Allah dan Panglima Syuhada
Merdeka.com - Hamzah bin Abdul Muththalib merupakan paman Nabi Muhammad SAW dan saudara sesusuannya. Hamzah masuk Islam dengan penuh keyakinan.
Sejak masuk Islam, Hamzah bertekad membaktikan hidupnya untuk Allah, Islam dan Nabi Muhammad. Dia bagai batu karang yang kukuh menjulang, berani membela Rasulullah dan para sahabatnya yang lemah.
Karena keberanian membela Islam, Nabi Muhammad memberikan julukan istimewa kepada Hamzah, yakni 'Singa Allah dan Singa Rasulnya'. Demikian dalam buku Biografi 60 Sahabat Nabi yang ditulis Khalid Muhammad Khalid.
Suatu ketika, Nabi Muhammad menugaskan Hamzah menghadapi musuh dalam Perang Badar. Hamzah melakukannya dengan baik. Sisa-sisa tentara Quraisy kembali dari Perang Badar ke Makkah berjalan terhuyung-huyung membawa kegagalan dan kekalahan.
Namun, kaum Quraisy tidak sudi menelan kekalahan pahit begitu saja. Mereka mulai mempersiapkan diri, menghimpun segala dana dan daya untuk menuntut balas dan menebus kekalahan mereka pada perang berikutnya, Perang Uhud.
Saat Perang Uhud tiba, kaum Quraisy memburu Rasulullah dan Hamzah. Quraisy mengutus budak Habasyah bernama Wahsyi yang memiliki kemahiran luar biasa dalam melemparkan tombak untuk membunuh Rasulullah dan Hamzah. Wahsyi dijanjikan pembebasan dan harta jika berhasil menjalankan misinya.
Kala Perang Badar meletus, Hamzah berada di tengah-tengah medan yang menjadi sarang maut dan pembunuhan. Dia memakai pakaian perang, sedangkan di dadanya terdapat bulu burung unta yang biasa diambilnya sebagai penghias dadanya dalam peperangan.
Hamzah mulai menyerbu dan menyerang kiri kanan. Setiap kepala yang menjadi sasaran, putus oleh pedangnya. Pukulannya terhadap orang-orang musyrik tiada henti-hentinya.
Seluruh kaum muslimin maju dan menyerbu ke baris depan, hingga kemenangan menentukan telah hampir berada di tangan. Sisa-sisa Quraisy terpukul mundur dan lari porak-poranda.
Namun, sebelum meraih kemenangan gemilang, pasukan panah muslimin meninggalkan posisi di puncak bukit dan turun untuk memungut harta rampasan.
Saat mereka lengah dan tidak waspada, pasukan berkuda Quraisy menyerang kaum muslimin dari belakang hingga menjadi sasaran dan bulan-bulanan pedang yang menari-nari berkelebatan.
Kaum muslimin berupaya keras mengatur barisan kembali dan memungut senjata yang telah ditinggalkan. Hamzah menyadari apa yang telah terjadi. Semangat, tenaga maupun perjuangannya semakin berlipat ganda.
Ia menerjang ke kiri dan ke kanan, ke muka dan ke belakang, sementara Wahsyi sedang mengintainya dan menunggu waktu yang tepat untuk melemparkan tombak ke tubuhnya.
Setelah Hamzah menebas kepala Siba' bin Abdul Uzza, Wahsyi melemparkan tombaknya hingga mengenai pinggang bagian bawah dan tembus ke bagian muka di antara dua paha Hamzah. Hamzah mencoba bangkit, tetapi dia tidak berdaya lalu roboh dan meninggal.
Singa Allah dan Singa Rasulullah akhirnya gugur. Rasulullah saat melihat jasad pamannya merasa sangat sedih.
"Aku tidak akan menderita karena musibah seperlima selamanya. Dan tidak satu suasana pun yang lebih menyakitkan hatiku seperti suasana sekarang ini,” kata Rasulullah. (mdk/lia)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya