Gerayangi Penumpang, Driver Ojek Online di Surabaya Ternyata Residivis

Selasa, 13 Agustus 2019 19:01 Reporter : Erwin Yohanes
Gerayangi Penumpang, Driver Ojek Online di Surabaya Ternyata Residivis Driver ojek online di Surabaya ditangkap usai melakukan pelecehan kepada penumpang perempuan. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Seorang driver ojek online (ojol) yang melakukan pelecehan seksual terhadap penumpangnya, akhirnya ditangkap polisi. Pelaku bernama Ari Fatkhul Fauzi (27) warga Jalan Panjang Jiwa Lebar, Surabaya.

Dia sebelumnya diketahui telah menggerayangi penumpangnya di Surabaya. Bahkan akibat perbuatannya itu, sang penumpang sampai nekat menyelamatkan diri dengan cara melompat dari sepeda motor.

Korban yang notabene merupakan warga Malang, saat itu datang ke Terminal Bungurasih (Purabaya). Ia lantas memesan ojek online melalui aplikasi dengan tujuan Jalan Kupang, Krajan, Surabaya.

Setelah mendapatkan ojol yang dipesannya, ia lantas menuju alamat yang dituju. Namun, korban mulai mencurigai perilaku tersangka, lantaran saat menuju alamat yang dituju, sang driver Grab justru melewati jalanan sepi.

Hingga sampai di tempat kejadian perkara, di kawasan Lakarsantri, Surabaya, tersangka tiba-tiba menggerayangi paha sebelah kiri korban.

Korban yang ketakutan lalu spontan meloncat dari motor, sehingga tangannya terluka. Ia lantas meminta pertolongan warga setempat.

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Sudamiran mengatakan, sampai saat ini polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini. Sebab tersangka ternyata diketahui sebagai residivis dalam kasus pencurian celana dalam wanita 5 tahun lalu di Sidoarjo.

"Kita masih dalami motifnya. Namun kalau melihat catatannya, patut diduga tersangka memang sengaja melakukan hal tersebut. Soal kelainan (seksual), nanti kita periksakan ke psikiatri," katanya, Selasa (13/8).

Sementara itu, apakah motif Fauzi melakukan pelecehan seksual tersebut? Kepada awak media saat dirilis di Mapolrestabes Surabaya, Fauzi mengaku semua itu dilakukan lantaran khilaf.

Sejatinya Fauzi tidak tertarik dengan korban. "Saya nafsu. Itu semua saya lakukan spontan," ungkapnya sembari menunduk.

Fauzi berdalih aksinya ini baru ia lakukan sekali ini saja, selama setahun ia menjadi driver ojek online. "Saya khilaf pak, khilaf," imbuhnya.

Dari penangkapan Fauzi, polisi mengamankan barang bukti handphone yang ia gunakan untuk menerima order ojek online. Kemudian sebuah jaket warna hitam, dua buah helm, motor Yamaha Mio Soul nopol W 3415 YA warna merah berikut STNK-nya dan motor Yamaha Vixion nopol W 2625 OM.

Akibat perbuatannya, Fauzi terancam dijerat dengan pasal berlapis. Yakni tentang perbuatan tidak menyenangkan dan atau kejahatan terhadap kesusilaan, yaitu pasal 335 KUHP ayat (1), yang ancaman hukumannya 1 tahun penjara, dan atau pasal 281 ayat (1) ke 1e KUHP dengan ancaman hukuman pidana penjara dua tahun.

Maraknya kasus pelecehan seksual terhadap penumpang ojek online membuat Rika Rosvianti, pendiri perEMPUan, yaitu komunitas pemerhati pelecehan seksual di transportasi urban, menyerukan agar pengelola transportasi online menjalin kemitraan dengan LSM atau NGO dalam upaya membangun sistem yang lebih komprehensif terkait pencegahan dan penanganan kekerasan seksual.

"Jadi bukan hanya sekadar formalitas penyelenggaraan pelatihan. Ini penting setidaknya agar bisa memiliki dan membuat SOP pencegahan dan penanganan pelecehan seksual," ujarnya.

Sementara itu, Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan dalam Ketenagakerjaan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Rafail Walangitan kepada wartawan mengatakan pihaknya menyesali kasus seperti ini dapat terjadi.

"Ini tanggung jawab renteng, bukan tanggung jawab individu. Jadi perusahaan harus mengadakan pelatihan dan sertifikasi kepada driver-nya," tuturnya.

Kepada korban, lanjutnya, pihak Kementerian PPPA telah memiliki sarana pengaduan masyarakat yang dapat dimanfaatkan korban untuk mengadukan kasus-kasus pelecehan atau kekerasan yang dialami.

"Untuk itu, salah satu tujuan yang ingin dicapai KPPPA yakni menjalin kerja sama dengan stakeholder yang bersinggungan langsung terhadap upaya perlindungan anak dan perempuan, agar bisa tercipta suasana yang ramah bagi anak dan perempuan. Ini penting dilakukan untuk menumbuhkan citra bahwa industri transportasi online ini menjamin hak-hak perempuan," pungkasnya. [cob]

Topik berita Terkait:
  1. Pelecehan Seksual
  2. Ojek Online
  3. Surabaya
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini