Fatin Hamama: Saya bukan perantara Denny JA

Senin, 10 Februari 2014 01:01 Reporter : Laurencius Simanjuntak
Fatin Hamama: Saya bukan perantara Denny JA Fatin Hamama dan Denny JA. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Fatin Hamama membantah bahwa dirinya adalah perantara Denny JA, sebagaimana disebut sejumlah sastrawan yang mundur dari proyek penulisan antologi puisi esai. Beberapa sastrawan bahkan sudah mengembalikan uang honor yang diberikan Fatin, yang diduga berasal dari Denny JA.

"Saya bukan perantara. Saya penyair yang hampir 40 tahun menjalaninya dengan segala suka-duka, bahagia dan sedih. Saya terpanggil untuk ikut berkontribusi positif dalam derap langkah Sastra Indonesia," tulis Fatin di forum situs perpustakaan online milik Denny JA, Jumat 7 Februari lalu.

Untuk diketahui, Tim 8, juri sekaligus penulis, memasukkan nama Denny JA ke dalam buku '33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh' karena konsultan politik itu dianggap merintis genre sastra baru: puisi-esai. Setelah buku itu terbit awal Januari lalu dan menimbulkan polemik, tidak lama lagi akan segera terbit buku antologi puisi esai karya 23 penyair.

Empat dari 23 penyair yang terlibat dalam proyek buku puisi-esai itu belakangan sadar karyanya hanya akan dijadikan alat legitimasi pengaruh Denny JA, setelah buku '33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh' terbit dan menjadi polemik. Pasalnya, saat menyetorkan karyanya, para penyair itu tidak tahu menahu bahwa akan terbit buku yang kini bikin heboh publik sastra Indonesia itu.

Fatin sebelumnya sudah mengklarifikasi tudingan para sastrawan yang mundur itu kepada merdeka.com. Dia kemudian melengkapi jawabannya lewat tulisan diberi judul 'Menjawab Riuh Sastra' yang di-posting di forum situs perpustakaan online milik Denny JA itu.

Berikut klarifikasi lengkap Fatin Hamama:

Menjawab Riuh Sastra

Fatin Hamama R. Syam

Saya bukan perantara. Saya penyair yang hampir 40 tahun menjalaninya dengan segala suka-duka, bahagia dan sedih. Saya terpanggil untuk ikut berkontribusi positif dalam derap langkah Sastra Indonesia. Dalam arus yang demikian purba saya dicincang dalam riuh huru-hara sastra yang berkembang saat ini. Sejauh mana tuduhan yang dialamatkan kepada saya tentang ‘memperdaya’ kawan-kawan sastrawan besar dalam carut-marut dunia sastra saat ini, perlu diluruskan. Dan untuk memperjelas wawancara dengan merdeka.com kemarin, 7/2. Mohon maaf karena wawancara berlangsung via telepon seluler di tengah kondisi jalan yang macet dan sinyal yang tidak mendukung.

Barangkali karena keterbatasan ruang maka beberapa bagian dari wawancara itu tidak disampaikan secara utuh. Dan tentu saja respon para pembaca bervariasi. Ada respon baik, ada respon buruk, ada pula caci-maki.

Ketika ditanyakan kepada saya apakah saya memperalat Ahamdun YS, Sihar RS, Chavchay S., dan Kurnia Efendi dalam proyek buku Antologi Puisi Esai 23 Penyair?. Saya jawab siapalah saya Fatin hamama yang bisa memperalat penyair dan sastrawan besar seperti Ahmadun YS, Sihar RS, Chavchay S., dan Kurnia Efendi? Mereka orang orang dewasa dan berpendidikan. Saya sangat menghargai kedudukan mereka sebagai sastrawan besar dan budayawan. Dalam pandangan saya, tidaklah etis even sekedar berasumsi bahwa mereka bisa diperalat atau bahkan dibeli dengan harga paling mahal sekalipun apalagi dengan Rp. 3 juta. Dapat dibayangkan betapa remuknya Indonesia jika para sastrawan dan budayawannya bisa dibeli. Jika kemudian mereka terlibat berpartisipasi dalam lahirnya buku Antologi Puisi Esai 23 Penyair, itu karena gagasan yang saya tawarkan untuk menulis puisi esai menyangkut isu-isu yang berhubungan dengan masalah sosial dan diskriminasi dalam masyarakat. Sebagai sastrawan, jelas mereka punya kepekaan terhadap itu. Kemudian dengan senang hati menyambut niat baik saya.

Saya rasa tidak perlu lagi menyinggung masalah honor. Ahmadun sudah menyampaikannya kepada publik dan saya pun sudah menjelaskannya.

Kontroversi buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh menimbulkan kekhawatiran di kalangan sebagian kawan-kawan sastrawan yang ikut berparitisipasi dalam buku Antologi Puisi Esai 23 Penyair, bahwa Antologi Puisi Esai ini bisa dijadikan ‘penyanggah’ bagi ketokohan Denny JA. Menurut hemat saya, Antologi Puisi Esai tidak bisa dijadikan ‘penyanggah’ karena dua alasan: pertama, buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh sudah terlebih dahulu diluncurkan; kedua, dengan membaca karya-karya dalam Antologi Puisi Esai tersebut tampak betul keseriusan para penulisnya dan tidak ada kesan sedikitpun bahwa mereka menulis atas pesanan. Dengan segala kebebasannya mereka menuangkan apa yang seharusnya mereka sampaikan dalam bentuk puisi esai.

Walaupun demikian, Ahmadun YH, dan Sihar RS menyatakan hendak mencabut tulisannya. Alasannya, karena merasa diperdaya dan merasa dibeli. Bagaimana ini bisa terjadi? Sedangkan sejak penyampaian gagasan, dan proses penulisan hingga karya lahir, tidak pernah ada keraguan sedikitpun atau kekhawatiran bahwa karya tersebut ditulis atas pesanan atau pembelian. Sudah barang tentu kawan-kawan sastrawan punya integritas, dignity, confidence yang kuat, bertanggung jawab dan tahu benar apa yang mereka lalukan dengan sadar dan dapat memilih dan memilah dengan benar. Kawan-kawan pasti tahu bahwa ketika telah terjadi deal dan kesepakatan, tidak boleh membatalkan sepihak. Tapi ini bukan bisnis dan jual-beli. Mereka bukan pelaku bisnis melainkan pelaku kearifan. Tapi kenapa seperti terjebak dalam dunia bisnis? Mereka tahu persis apa yang mereka tulis tanpa paksaan. Mereka memilih sendiri apa yang ingin mereka tulis dengan bebas dalam rangka mengangkat tema terkait masalah sosial dan diskriminasi. Tapi terlepas dari semua itu tema-tema yang diangkat dalam puisi-puisi esai ini memang begitu signifikan untuk diangkat dan dibaca banyak orang. Ini keterpanggilan nurani untuk menulisnya. Saya dalam hal ini menyediakan media untuk penyampaian catatan-catatan dan interaksi kawan-kawan sastrawan dalam bentuk puisi esai.

Jika direnungkan lebih seksama, terutama dengan berdasarkan pandangan bahwa dunia sastra adalah dunia kreatifitas, dunia yang begitu lapang terbuka untuk menerima setiap karya, maka kesan yang muncul bahwa “5 buku Antologi Puisi Esai menjadi ‘penyanggah’ ketokohan Denny JA” sesungguhnya terlampau dangkal. Apakah karena seseorang menulis puisi esai kemudian langsung menjadi pengikut Denny JA hanya karena Dennya JA yang lebih awal menulis puisi esai? Jika demikian halnya, berarti setiap penulis belakangan hanya sekedar perpangajangan penulis sebelumnya? Ini sungguh absurd. Saya percaya kawan-kawan lebih besar dari pada keterpengaruhan itu. Lebih besar dan lebih kreatif serta memiliki karakternya sendiri-sendiri. Karena sesungguhnya ini bukan bentuk dari kemasan keterpengaruhan seseorang pada karya yang dilihat, melainkan pada inti dan pesan yang ingin di sampaikan. Kita sama sama tau masalah sosial dan diskriminasi mengendap seperi api dalam sekam dalam masyarakat baik dulu juga kini. Yang belum sepenuhnya terungkap dan tersampaikan tapi ada dan hidup dalam keseharian kita. Dan kawan-kawan adalah orang yang konsen terhadap itu.

Denny JA dalam Atas Nama Cinta mengangkat masalah-masalah sosial dan diskriminasi yang menjadi pusat perhatiannya, dalam puisi esai dengan larik dan catatan kaki penyanggah fakta untuk menyampaikan hal yang paling tabu dan berdarah-darah. Akapakah sebagai sastrawan dan budayawan, bahkan bagi banyak orang terpelajar dalam membangun respon terhadap isu-isu diskriminasi dan masalah-masalah sosial kita hanya melihat kemasannya? Pastilah tidak. Jelas ada pesan nurani di sana. Dan kita tahu bukan hanya lima kasus sosial diskriminasi yang terdapat dalam buku Denny JA yang terjadi di tengah masyarakat kita. Masih banyak cerita dan derita serta tragedi anak-anak bangsa yang tidak terbaca dan malah terlupakan. Kemudian ketika kawan-kawan menerima tawaran untuk menulis persoalan itu dalam puisi esai, jelas bukan karena dipaksa dan dibeli tapi keterpanggilan hati nurani untuk memahami hal yang sama dan menuliskannya untuk diungkapkan ke khalayak.

Apa kah ada yang salah jika kita diingatkan kembali kepada kasus-kasus dan tragedi-tragedi berdarah dan kemudian menulisnya dalam kemasasan yang sama. Kita tahu sepanjang sejarah kepenulisan dimana saja interaksi dan interteks antar karya adalah wajar sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan masyarakat sekitar.

Semua tulisan itu sudah terkumpul beberapa bulan lalu. Saya amat yakin kawan-kawan menulis dengan sangat serius dan apa yang mereka tulis begitu penting untuk dinikmati masyarakat. Nantikan bukunya dan bacalah terlebih dahulu, setelah itu silahkan dinilai sendiri. Apakah nilainya ada pada kemasan atau pada isinya. Apakah nilainya pada siapa yang mendanainya atau pesan sosial yang ingin disampaikanya? Saya berbaik sangka pada semua. Sebagai editor 5 buku Antologi Puisi tersebut tentu menjadi tanggung jawab saya.

Dalam buku 5 buku Antologi Puisi karya 23 Penyair tersebut terangkum catatan-catatan dan interaksi kawan-kawan penyair dengan persoalan sosial masyarakat dari Aceh sampai Nusa Tenggara. Amat disayangkan jika tulisan-tulisan itu tidak sampai dibukukan dan tidak dibaca khalayak. Adalah aneh dalam dunia orang-orang terpelajar mencabut buku tersebut sebelum melihat apalagi membacanya, hanya karena pemahanan yang berbeda.

Ada kerancuan dalam memahami apa yang terjadi dan menjadi riuh dalam huru-hara sastra saat ini yang ditimbulkan kontroversi buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh dan 5 buku Antologi Puisi Esai 23 Penyair.

Antologi Puisi Esai 23 Penyair bukanlah bagian dari buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Yang disebut terakhir ini ditulis oleh Tim 8 yang diketuai Jamal D Rahman dkk. Sedang 5 buku Antologi Puisi Esai 23 Penyair saya Fatin Hamama sebagai editornya.

Tidak benar ada 4 sastrawan penulis Antologi Puisi Esai mau mencabut tulisannya. Kenyataanya, hanya Ahmadun YH dan Sihar RS yang mengontak saya untuk tujuan tersebut. Sedangkan saudara Chavcay sampai saat saya menulis artikel ini belum menghubungi saya. Adapun Kurnia Efendi, sejatinya tidak menyatakan niat mau mencabut tulisan puisi esainya. Cermatilah pernyataan Kurnia Efendi. Beliau tidak mencabut tulisannya. Yang ditolaknya adalah saat saya menawarkan untuk menulis resensi buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.

Kalau boleh, saya ingin memperjelas tiga hal yang berbeda di sini:

Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Saya sama sekali tidak ada kaitannya, baik dalam gagasan maupun prosesnya; 5 Buku Antologi Puisi yang ditulis oleh 23 Penyair. Ini adalah gagasan saya dan berpartisipasi penuh dalam prosesnya. Karena itu saya sebagai editor mempertanggung-jawabkan; Kumpulan resensi buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.

Mengenai poin ketiga, resensi buku adalah keterpanggilan saya untuk mendokumentasikan pro-kontra buku ini. Saya ingin membukukan hasil pandangan masyarakat sastra terhadap buku ini, baik yang mendukung maupun yang menolak, tentu dengan alasannya masing-masing. Saya beranggapan bahwa masyarakat sastra adalah masyarakat yang cerdas begitu juga masyarakat luas yang akrab dengan buku. Mereka bisa menelaah dengan baik dari berbagai perspektif terlepas suka atau tidak suka. Saya yakin dunia sastra adalah dunia tulis. Dan dengan tulisan itu saya harapkan menjadi dokumentasi kelak ketika tua dan tiada. Generasi selanjutnya harus tau apa yang terjadi karena bagaimana pun ini adalah sejarah.

Saya berprasangka baik kepada semua orang yang akrab dengan buku dan dunia tulis. Maka dengan segala kerendahan hati saya mintalah kawan-kawan menulis resensi untuk meresponnya. Ada respon yang positif dan ada pula respon negatif. Saya menghormati beda pendapat dan pandangan. Ada yang menerima tawaran saya ada yang menolak. Saya menghormati semuanya. Tidak ada paksaan. Jika kemudian berkembang cerita yang hendak memberi ‘kesan’ adanya upaya dari saya untuk mencari ‘dukungan’ terutama dari pihak kawan-kawan yang kontra terbitnya buku 33 maka itu sebuah bentuk manipulasi yang tidak layak muncul dari seorang yang menamakan, dan mengatasnamakan dirinya memperjuangkan sastra Indonesia. Saya mohon kepada mereka agar bicaralah jujur dan ungkapkan maksud baik yang saya sampaikan sejak awal. Dan juga kepada kawan-kawan yang hanya mendengar sepotong-sepotong ataupun hanya pemandu sorak, hubungilah saya tanyakan apa yang sesungguhnya yang saya inginkan dari upaya mengumpulkan resensi tersebut. Mudah-mudahan dengan tulisan ini pertanyaan kawan-kawan sudah terjawab. Saya tetap memiliki kepercayaan tinggi bahwa betapapun sastrawan berbeda pendapat tetaplah merasa senasib dan sepenanggungan.

Saya bisa memahami sikap kawan-kawan yang mencincang saya membabi-buta karena mereka tidak tahu betapa saya sudah berjalan di dunia kepenyairan cukup lama semenjak kecil hingga kini. Karena itu, betapapun sikap mereka saya tetap menyebut mereka kawan-kawan baik saya. Panjang perjalanan telah kita lalui. Pertanyaan saya: siapa yang bertanggung jawab atas dunia sastra kita kawan? Bukankah itu tanggung jawab kita bersama dan semua orang Indonesia. Dengan apa kita membangun dan memperjuangkan dunia sastra ini? Pastilah dengan niat baik dan luhur. Bukan dengan caci-maki, fitnah, makar dan agitasi; bukan dengan bahasa yang tidak santun dan tanpa bermartabat. Dimana letak sastrawan sebagai jati diri insan yang berfikir arif. Karya yang bersih lahir dari jiwa yang bersih, mengapa itu gaib dan tiada saat ini. Dan kepada siapakah kita berpihak atas perjuangan ini ? Kepada caci-maki ataukah berkarya dengan arif, dan dapat menghormati karya orang lain seperti menghormati karya sendiri?

Setahu saya dunia sastra dunia kreatif yang berjalan melewati waktu. Selalu ada perubahan namun sejarah hanya menilai dan mengapresiasi karya yang kreatif dan bermanfaat bagi semua umat manusia. Karena itu, sejatinya sastra adalah lokomotif peradaban yang digerakakan nilai-nilau luhur yang universal dan melekat sepanjang zaman. Sastrawan ada pada gerbong pertama tentunya, sebagai inti dari nurani peradaban tersebut. Sudah barang tentu pandangan ini dimiliki oleh setiap sastrawan. Maka tidak logis jika carut-marut seperti ini mewarnai dan mendominasi dunia sastra kita. Haruslah selalu ada kelapangan untuk menerima karya sesama sastrawan. Toh pada akhirnya sejarah yang mampu memastikan karya itu bernilai apa tidak. So, apa yang akan kita tinggalkan kawan?

Bukankah selalu dikisahkan

kesatria adalah orang yang bertanggung jawab

atas apa yang dipilihnya.

bukan meninggalkan

medan ketika api berkobar dan lari berbalik pulang.

Sambil berteriak menangis menyesali pilihan

Kaki sudah dilangkahkan, pantang untuk surut

Kecuali berjalan terus dan menapaki

Salam Sastra.

[ren]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini