Pemerintah Provinsi Bali secara aktif mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan penanaman pohon dan pembersihan sungai. Inisiatif ini digalakkan dalam rangka memperingati hari suci Tumpek Wariga, sebuah momen penting untuk memuliakan tumbuhan. “Kepada masyarakat diimbau ikut berpartisipasi dengan mendaftar, masyarakat dapat memilih lokasi kegiatan sesuai domisili atau daerah asal kota/kabupaten,” ucap Gubernur Bali Wayan Koster di Denpasar, Rabu.
Aksi serentak ini direncanakan berlangsung pada Minggu, 26 Oktober, di berbagai lokasi strategis di seluruh kabupaten/kota. Fokus utama kegiatan akan menyasar Daerah Aliran Sungai (DAS) seperti Tukad Ayung, Tukad Badung, dan Tukad Mati. Selain itu, wilayah DAS prioritas di Jembrana, Buleleng, Karangasem, Klungkung, dan Tabanan juga akan menjadi titik pelaksanaan.
Tujuan utama dari gerakan massal ini tidak hanya sekadar merayakan Tumpek Wariga, tetapi juga sebagai langkah antisipasi dini terhadap puncak musim hujan. Musim hujan diperkirakan terjadi antara November 2025 hingga Februari 2026, sehingga penanaman pohon diharapkan dapat mengurangi risiko bencana. Masyarakat diajak untuk mendaftar melalui formulir yang tersedia di media sosial Instagram Pemprov Bali.
Advertisement
Advertisement
Antusiasme Warga dan Lokasi Prioritas Aksi Lingkungan
Hingga saat ini, respons masyarakat terhadap ajakan Pemprov Bali sangat positif, menunjukkan tingginya kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan. Data terbaru mencatat bahwa sebanyak 20.453 orang telah mendaftar untuk aksi penanaman pohon. Sementara itu, 27.189 orang lainnya menyatakan kesediaan untuk bergabung dalam kegiatan bersih-bersih sungai.
Para peserta berasal dari berbagai latar belakang, termasuk pegawai pemerintah daerah, aparat desa, pelajar, komunitas lingkungan, hingga masyarakat umum. Gubernur Koster tetap mengajak masyarakat lainnya bergabung, sebab pemerintah sudah menyiapkan bibit pohon sekitar 34.047 pohon dengan luas tanam mencapai 314,08 ha. Bibit-bibit ini akan ditanam di lahan seluas 314,08 hektar.
Lokasi penanaman pohon dan pembersihan sungai difokuskan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) vital di Bali. DAS Tukad Ayung, yang membentang sepanjang 71,79 km, melintasi Kabupaten Bangli, Gianyar, Badung, dan Denpasar. Kemudian, Tukad Badung sepanjang 19,60 km dan Tukad Mati sepanjang 22,41 km menjadi target di wilayah Badung dan Denpasar.
Advertisement
Di tingkat kabupaten seperti Jembrana, Buleleng, Karangasem, Klungkung, dan Tabanan, kegiatan akan dilaksanakan di wilayah DAS prioritas masing-masing. Pemilihan lokasi ini dilakukan “Dengan mempertimbangkan tingkat kerawanan bencana,” ujar Gubernur Koster. Hal ini sejalan dengan upaya mitigasi risiko bencana alam yang mungkin terjadi.
Advertisement
Makna Tumpek Wariga dan Antisipasi Bencana Alam
Kegiatan ini tidak hanya sekadar aksi lingkungan, tetapi juga memiliki makna spiritual yang mendalam, bertepatan dengan hari suci Tumpek Wariga. Hari ini dikenal sebagai hari pemuliaan terhadap tumbuhan, di mana umat Hindu di Bali menghaturkan rasa syukur dan doa kepada alam. Pemprov Bali juga merancang kegiatan persembahyangan Tumpek Wariga pada Sabtu, 25 Oktober, di Pura Pengubengan Besakih.
Jenis pohon yang akan ditanam sangat beragam, mencakup tanaman upakara, sumber pangan, kesehatan, dan penyeimbang ekologis. Beberapa di antaranya adalah jepun, jempiring, sandar, pucuk merah, cempaka, durian, alpukat, nangka, kelapa genjah, klengkeng, sukun, dan mangga. Ada juga pule, cemara, badung, beringin, trembesi, mahoni, tabebuya, jati, ketapang kencana, ketapang laut, dan ketimus.
Koster menyampaikan aksi penanaman pohon dan membersihkan sungai selain memperingati Tumpek Wariga juga untuk mengantisipasi musim hujan yang puncaknya terjadi pada November 2025 hingga Februari 2026. Ia mengakui penanaman pohon kali ini belum menjadikan tutupan pohon di sepanjang DAS tercukupi, namun langkah ini merupakan awal penting.
Advertisement
Pemprov Bali berkomitmen untuk menjadikan penanaman pohon sebagai kegiatan rutin setiap bulan. Ia memastikan langkah ini menjadi awal untuk kegiatan rutin penanaman pohon setiap bulan. Ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mitigasi bencana di Pulau Dewata. Upaya berkelanjutan ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan tangguh terhadap perubahan iklim.
Sumber: AntaraNews