Fakta Unik: DLH Makassar Optimalkan 9 TPS3R, Sampah ke TPA Berkurang 200 Ton Sehari! Ini Strategi Pengelolaan Sampah Makassar

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Makassar gencar optimalkan sembilan TPS3R untuk mengurangi volume sampah ke TPA Antang. Simak bagaimana strategi Pengelolaan Sampah Makassar ini berhasil menekan angka hingga 200 ton per hari dan menciptakan nilai ekonomi baru

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Unik: DLH Makassar Optimalkan 9 TPS3R, Sampah ke TPA Berkurang 200 Ton Sehari! Ini Strategi Pengelolaan Sampah Makassar
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Makassar gencar optimalkan sembilan TPS3R untuk mengurangi volume sampah ke TPA Antang. Simak bagaimana strategi Pengelolaan Sampah Makassar ini berhasil menekan angka hingga 200 ton per hari dan menciptakan nilai ekonomi baru (Merdeka.com)

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar secara aktif mengoptimalkan sembilan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R). Langkah ini bertujuan untuk secara signifikan mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang. Inisiatif strategis ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan pemerintah kota dalam mengatasi permasalahan sampah.

Kepala Bidang Persampahan Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas DLH Makassar, Bau Asseng, menjelaskan bahwa dari sembilan TPS3R yang ada, dua di antaranya telah beroperasi di pulau-pulau terpencil. TPS3R ini berlokasi di Pulau Kodingareng dan Pulau Barang Lompo, dengan rencana penambahan di Pulau Lae-Lae pada tahun mendatang. Program ini menunjukkan komitmen DLH Makassar dalam menjangkau seluruh wilayah.

Melalui diskusi publik bertema "Mau diapakan ini sampah?", Bau Asseng menekankan pentingnya pemilahan sampah dari skala rumah tangga. Sampah yang telah dipilah kemudian akan dikelola secara komunal atau mandiri, mengubahnya menjadi produk bernilai ekonomi. Pendekatan ini diharapkan dapat mengurangi beban TPA sekaligus memberdayakan masyarakat.

Optimalisasi TPS3R dan Dampaknya pada Pengelolaan Sampah Makassar

Implementasi TPS3R oleh DLH Makassar berfokus pada pemilahan sampah sejak dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Konsep ini mendorong masyarakat untuk aktif memilah sampah organik dan anorganik sebelum dikumpulkan. Pengelolaan sampah yang terintegrasi ini menjadi kunci utama dalam efektivitas program.

Dukungan pendanaan untuk pengelolaan TPS3R datang dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, komunitas lokal, dan pengembang. Sinergi ini memastikan keberlanjutan operasional TPS3R dan pengembangan fasilitas yang lebih baik. Model pendanaan kolaboratif ini memperkuat program pengelolaan sampah Makassar.

Hasil dari pengolahan sampah di TPS3R sangat beragam dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Produk seperti kompos, maggot, dan ecoenzym dapat dihasilkan, yang kemudian bisa diolah menjadi kebutuhan rumah tangga. Sabun cuci piring, pembersih lantai, atau pembersih kaca adalah contoh produk yang bisa diciptakan.

Bau Asseng mengungkapkan bahwa inisiatif ini berpotensi menciptakan pendapatan baru bagi rumah tangga atau kelompok masyarakat. Lebih jauh, program ini berhasil mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA Antang secara signifikan. Dari sekitar 1.000 ton per hari, kini volume sampah turun menjadi sekitar 800 ton per hari, menunjukkan keberhasilan pengelolaan sampah Makassar.

Inovasi Pengelolaan Sampah di Sektor Perhotelan: Studi Kasus MaxOne

Tidak hanya pemerintah, sektor swasta juga menunjukkan komitmen dalam upaya pengelolaan sampah, seperti yang dilakukan oleh Hotel MaxOne. General Manager Hotel MaxOne dan Resto, M. Yusuf Sandy, menyatakan bahwa hotelnya telah meraih penghargaan berkat pengelolaan sampah dan limbah B3 yang baik. MaxOne menjadi contoh bagaimana bisnis dapat berkontribusi pada lingkungan.

Yusuf Sandy, yang juga penulis buku "Mengubah Sampah Menjadi Uang," menerapkan praktik memilah dan mengelola sampah di seluruh lingkungan hotel dan restoran. Sosialisasi melalui "papan bicara" juga diterapkan di lokasi strategis seperti restoran, lobi, dan kamar. Tujuannya adalah mengedukasi pengunjung agar mengambil makanan sesuai porsi dan tidak menyisakan sampah.

Untuk meningkatkan kedisiplinan, Hotel MaxOne memberlakukan denda sebesar Rp50 ribu per 100 gram bagi pengunjung atau karyawan yang membuang sampah sembarangan. Kebijakan ini bertujuan untuk mengedukasi pentingnya menjaga kebersihan dan mengurangi sampah. Langkah tegas ini menunjukkan keseriusan dalam program pengelolaan sampah Makassar.

Sampah organik dari hotel diolah menjadi kompos dan ecoenzym yang kemudian dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman kebun di sekitar hotel. Yusuf Sandy menjelaskan, "Kami sudah ujicobakan pupuk kompos dan ecoenzym itu untuk tanaman jagung, sawi, dan tanaman lainnya, Alhamdulillah tanaman kami tumbuh subur." Inovasi ini tidak hanya mengurangi sampah tetapi juga menciptakan manfaat ekologis.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi