Fakta-Fakta Tragedi Kanjuruhan Berdasarkan Temuan Kompolnas

Rabu, 5 Oktober 2022 12:03 Reporter : Merdeka
Fakta-Fakta Tragedi Kanjuruhan Berdasarkan Temuan Kompolnas Pintu 13 dan saksi bisu tragedi maut di Stadion Kanjuruhan. ©Juni Kriswanto/AFP

Merdeka.com - Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) temukan beberapa fakta dalam melakukan proses investigasi terkait tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada Sabtu (1/10). Hal tersebut diungkapkan oleh Komisioner Kompolnas Albertus Wahyurudhanto dalam keterangannya kepada wartawan pada Selasa (4/10) di Malang.

Dalam insiden kelam tersebut, total korban meninggal sebanyak 131 orang. Jumlah ini bertambah dari angka sebelumnya yaitu 125 orang. Kepolisian menjelaskan bahwa penambahan jumlah tersebut diperoleh setelah dilakukan verifikasi dan pengecekan bersama Dinas Kesehatan, Tim DVI dan direktur rumah sakit.

Terjadinya selisih data korban meninggal karena Tim DVI bersama Dinas Kesehatan awalnya mendata korban yang dibawa ke rumah sakit saja. Setelah dilakukan pencocokan data, diketahui ada 12 korban meninggal tidak di fasilitas kesehatan.

Berikut beberapa temuan fakta tragedi Kanjuruhan menurut Kompolnas:

2 dari 6 halaman

Kapolres Malang Tidak Perintahkan Tembak Gas Air Mata

Kompolnas memastikan tidak mendapati adanya instruksi penembakan gas air mata ke arah tribun dari Kapolres Malang, AKBP Ferli Hidayat, yang menimbulkan kepanikan para penonton sehingga mereka berhamburan keluar meninggalkan area tribun.

"Tidak ada perintah dari Kapolres untuk melakukan penguraian massa dengan tindakan represif. Yaitu dengan peluru gas air mata. Tidak ada. Itu disampaikan saat apel lima jam sebelumnya (pertandingan)," ungkap Albertus.

Albertus juga mengungkapkan dirinya melihat langkah preventif telah disiapkan pihak Kepolisian dengan disediakannya dua unit Baracuda.

"Jadi baracuda yang biasanya untuk pengamanan ini disiapkan dua untuk membawa pemain sehingga desainnya perancangan nya begitu pertandingan selesai pemain dimasukan ke baracuda untuk langsung dibawa keluar demi pengamanan. Ini pertimbangannya adalah pengamanan memang itu tidak lazim dalam pertandingan sepak bola di seluruh dunia. Tidak lazim karena yang namanya pemain selalu harus menggunakan bus miliknya," sebutnya.

3 dari 6 halaman

Intelijen sudah Ingatkan Risiko Pertandingan Arema FC-Persebaya

Albertus juga mengakui bahwa intelijen Kepolisian sebelumnya telah mengingatkan risiko adanya jadwal pertandingan anatara Arema FC melawan Persebaya Surabaya.

"Dapat konfirmasi kepastian, dari Polres sudah mengantisipasi jauh-jauh hari sudah ngotot main sore hari. Ada surat yang dikirimkan ke kami tertanggal 13 September, itu sudah ada analisa dari Intel Polres pertandingan ini punya potensi yang diwaspadai, berkirim surat ke Panpel tembusan ke Kapolda dan LJB diajukan siang hari, karena (menurut) intelijen (jika) dipaksa akan beresiko," katanya.

Albertus menyatakan bahwa surat yang dikirimkan tidak mendapat respons dari Panpel. Namun pada tanggal 19 September 2022, pihaknya mendapat kabar jika pertandingan tetap dilaksanakan sesuai jadwal dan dicetak tebal.

"Pertimbangan bahwa sudah ada kontrak hak siar, ini menjadi pelajaran kita semua. Dan melihat secara objektif sudah ada langkah-langkah preventif," lanjutnya.

4 dari 6 halaman

Panpel Cetak Tiket Melebihi Kapasitas Stadion

Berdasar pada penelusuran dari Kompolnas kepada Bupati Malang, terdapat dugaan bahwa tiket pertandingan Arema FC lawan Persebaya dicetak melebihi kapasitas daya tampung stadion yaitu 30 ribu orang.

"Kemarin kami ketemu Bupati, kapasitas stadion hanya 30 ribu tapi yang dicetak panpel (panitia pelaksana) itu lebih dari itu," tutur Albertus.

Dari temuan tersebut, Kompolnas mengatakan jika di lapangan terdapat aparat yang tidak menjalankan instruksi. "Itulah sementara Kapolri mencopot Kapolres yang bertanggung jawab dan Danton sekarang sedang diperiksa Bareskrim, Propam. Kalau ada pelanggaran pidana wilayah Reskrim, kode etik (ditangani) Propam," lanjutnya.

5 dari 6 halaman

Aturan Larangan Gas Air Mata Tidak Tersosialisasikan

Albertus menilai polisi yang bertugas di dalam Stadion Kanjuruhan belum mendapat sosialisasi terkait aturan larangan penggunaan gas air mata saat pengamanan pertandingan.

Larangan itu diatur dalam (FIFA Stadium Safety and Security Regulations), pada pasal 19 b yang berbunyi, 'Tidak boleh ada senjata api atau "gas pengendali massa" yang boleh dibawa atau digunakan (No firearms or 'crowd control gas' shall be carried or used).

"Nah ini menurut kami yang tidak tersosialisasi, karena pertandingan bola itu, dari tingkat kelurahan sampai internasional selalu melibatkan polisi," kata Albertus kepada wartawan.

Menurutnya, PSSI sebagai induk sepak bola nasional memiliki tanggung jawab untuk mensosialisasikan aturan-aturan itu kepada aparat keamanan.

"Sehingga, harusnya. Dari pihak PSSI pun yang punya kewajiban mulai tingkat pusat sampai yang tingkat kota menjelaskan aturan-aturan pertandingan. Saya kira pertandingan olahraga ini punya spesifikasi aturan," tambahnya.

Walaupun Polri tidak berada di bawah naungan FIFA, namun aturan tersebut lanjut Albertus, harus tetap disosialisasikan. Sebab, selama jalannya suatu pertandingan sepak bola selalu melibatkan pihak keamanan untuk melakukan pengamanan selama pertandingan.

6 dari 6 halaman

Kapolres Malang sedang Amankan Pemain saat Gas Air Mata Ditembakkan

Menurut temuan Kompolnas, Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat tengah mengamankan pemain Persebaya saat gas air mata ditembakkan ke arah tribun penonton.

"Ini kami teliti. Karena saat itu Kapolres Malang sedang di luar akan mengamankan pemain (Persebaya) yang akan keluar," jelas Albertus.

Dirinya juga menambahkan, informasi tentang kericuhan yang diterimanya terjadi saat Eks Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat berada di luar Stadion Kanjuruhan. Saat Ferli masih berada di luar, beberapa saat kemudian terdengar ledakan gas air mata yang digunakan petugas untuk membubarkan masa.

Dari informasi yang diperoleh, Albertus menduga terjabat pejabat yang berada di dalam lapangan memerintahkan anggota keamanan untuk menembakkan gas air mata tersebut.

"Kejadian itu di dalam, berarti ada pejabat di dalam yang memerintahkan. Siapa orangnya, sedang disidik. Tapi sembilan orang sudah dicopot. Tim sedang bekerja," sambung dia.

Terlebih dia juga mendapatkan kabar jika Ferli kala itu telah mengambil langkah antisipasi dengan memberikan arahan langsung kepada personel.

Reporter: Putri Oktafiana

[cob]

Baca juga:
Beda Pendapat Kompolnas dan Arema FC soal Tiket Pertandingan
Ribuan Suporter di Yogyakarta Gelar Doa Bersama untuk Korban Tragedi Kanjuruhan
Kapolri Diminta Copot Kapolda Jatim Butut Tragedi Kanjuruhan, Ini Tanggapan Polri
Cerita Aremania Soal Penonton Laga Arema FC Tanpa Tiket Sering Terjadi
Kompolnas Sebut Eks Kapolres Malang Sedang Amankan Pemain Saat Tembakan Gas Air Mata
Saling Lempar soal Penggunaan Gas Air Mata di Stadion Kanjuruhan

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini