Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Eva Peron, ibu negara paling dicintai rakyat Argentina

Eva Peron, ibu negara paling dicintai rakyat Argentina Eva Peron. ©wikipedia

Merdeka.com - Didampingi suaminya, Juan Peron, Maria Eva Duarte de Peron atau yang lebih dikenal dengan Evita Peron, berdiri di sebuah balkon. Dari atas balkon, dia melihat ribuan rakyat Argentina yang sudah menanti kehadirannya. Saat Evita muncul, seluruh rakyat mengelu-elukan namanya, mereka bersorak gembira. Evita meminta mereka tenang. Lalu dia mulai menyanyi. "Don't cry for me Argentina.."

Itulah sepenggal cerita dari film berjudul Evita yang terkenal pada 1996. Film itu mengangkat sosok Eva Peron, ibu negara Argentina saat suaminya Juan Peron menjabat sebagai Presiden untuk masa jabatan 4 Juni 1946 hingga 26 juli 1952. Sepak terjang ibu negara yang dilahirkan pada 7 Mei 1919 di dekat kota terpencil Los Toldos, Argentina atau sekitar 150 mil sebelah barat ibukota negara, Buenos Aires ini selalu dikenang. Salah satunya karena Eva dikenal sebagai figur yang dekat dengan rakyatnya.

Eva bukan berasal dari keluarga birokrat. Dia juga bukan seorang politisi. Bahkan, sejak lahir dia tidak pernah mengenal ayahnya lantaran Eva lahir dari hubungan di luar nikah. Dengan masa silamnya yang gelap, tidak ada yang menyangka jika akhirnya Eva menjadi sosok perempuan paling berpengaruh di Argentina. Kuatnya kharisma dan kepedulian Eva membuat rakyat Argentina sangat mencintainya.

Perempuan yang awalnya berprofesi sebagai bintang film ini mulai dekat dan terlibat dalam dunia politik sejak membantu suaminya, Juan Peron berkampanye dan merintis jalan menuju kursi Presiden Argentina. Eva aktif berkampanye, berkeliling ke pelosok negeri tango.

Melalui radio-radio, Eva mengajak kaum muda dan kaum miskin bergabung dalam gerakan Peron. Pidato dan retorikanya sangat menyentuh perasaan kaum miskin dan kaum buruh. Agar rakyat argentina menjatuhkan pilihan pada suaminya, Eva selalu menampilkan perjuangan dan kisah masa kecilnya yang penuh penderitaan. Alhasil, Juan Peron memenangkan Pemilu Presiden 1946 dan otomatis menempatkan Eva sebagai first lady Argentina.

Sebagai ibu negara, dia aktif menggalang dukungan sebagai kekuatan penopang pemerintahan suaminya. Eva juga mulai aktif dalam pelbagai kegiatan sosial. Dia menyapa rakyat miskin, kaum buruh, dengan menggunakan yayasan Eva Peron. Mereka itulah yang kemudian menjadi kekuatan besar bagi Eva dan pemerintahan suaminya. Apa yang dilakukannya sejalan dengan arah kebijakan pemerintahan suaminya yang pro buruh dan kaum miskin.

Karena selalu melibatkan diri bersama masyarakat, Eva menjadi sangat populer di kalangan rakyat Argentina. Dia juga yang membidani Partai Peronis Perempuan yang merupakan partai politik wanita pertama terbesar di Argentina. Eva juga didaulat sebagai pemimpin spiritual Argentina untuk periode yang terbilang singkat yakni 7 Mei–26 Juli 1952. Dia juga pernah menjabat sebagai Menteri Kesehatan pada periode 4 Juni 1946–26 Juli 1952.

Aktivitas politiknya membuka peluang bagi Eva untuk mencalonkan diri sebagai wakil presiden. Rakyat Argentina meminta Eva mengumumkan secara resmi pencalonannya sebagai wakil presiden. Namun, dia menyadari kalangan militer dan kelas atas Argentina tidak menghendaki pencalonannya. Akhirnya dia memutuskan menolak maju sebagai calon wakil presiden.

Kondisi kesehatannya pun semakin memburuk. Eva mengidap kanker serviks stadium lanjut. Dia beberapa kali pingsan di hadapan publik. Eva menjadi wanita Argentina pertama yang menjalani pengobatan semacam kemoterapi. Namun itu semua tidak berhasil. Hari itu, 26 Juli 1952 sekitar pukul 20.25 waktu setempat, Eva menghembuskan napas terakhir. First lady Argentina meninggal di usia yang masih sangat muda yakni usia 33 tahun. Seluruh Argentina berkabung karena pemimpin spiritual bangsa telah meninggal. Aktivitas pemerintahan dihentikan selama dua hari, bendera setengah tiang dikibarkan di seluruh Argentina selama 10 hari sebagai tanda berkabung.

Eva Peron tidak dimakamkan. Suaminya, Juan Peron meminta profesor Pedro Ara untuk mengawetkan jenazah Eva Peron. Ketika kekuasaan Juan Peron diambil alih militer, jenazah Eva Peron menghilang hingga akhirnya pada 1971 jenazah Eva dibawa ke rumah Juan Peron di Spanyol.

Dalam buku Eva Peron: The Myths of a Woman, budaya antropolog Julie M. Taylor melihat Eva sebagai figur penting bagi Argentina karena kombinasi tiga faktor yang unik yakni feminitas, mistis atau kekuasaan spiritualitas, dan kepemimpinan revolusioner. (dari berbagai sumber) (mdk/bal)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP