Elang Garuda 'Araga' dan 'Moris' Dilepasliarkan di Hutan TNBTS

Kamis, 19 Agustus 2021 21:04 Reporter : Darmadi Sasongko
Elang Garuda 'Araga' dan 'Moris' Dilepasliarkan di Hutan TNBTS Elang Garuda Dilepasliarkan di Hutan TNBTS. ©2021 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

Merdeka.com - Seekor Elang Jawa (Nisaetus Bartelsi) dilepasliarkan di hutan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Burung Garuda yang mendapat nama 'Araga' itu dilepasliarkan setelah sebelumnya menjalani rehabilitasi selama 13 bulan.

Plt Kepala Balai Besar TNBTS, Novita Kusuma Wardani, menjelaskan Araga berjenis kelamin betina dengan ukuran tubuh sekitar 70 Cm, rentang sayap mencapai 100 Cm dan warna bulu keseluruhan coklat.

Araga hasil penyerahan masyarakat kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat. Araga diserahkan ke Pusat Suaka Satwa Elang Jawa (PSSEJ) Loji, Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (BTNGHS) guna menjalani rehabilitasi.

"Kriteria yang menentukan kelayakan pelepasliaran Elang Jawa dilakukan dengan penilaian perilaku dan pemeriksaan kesehatan, meliputi perilaku terbang, bertengger, berburu, dan interaksi dengan manusia," terang Novita dalam keterangan tertulisnya, Kamis (19/8).

elang garuda dilepasliarkan di hutan tnbts

Elang Jawa, jelas Novita, memiliki ciri khas jambul di bagian kepala. Umumnya dapat dijumpai di kawasan hutan dataran rendah dengan ketinggian 600-2.000 Mdpl. Elang Jawa sendiri diidentikan dengan lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Garuda.

Novita juga menyampaikan, sampai dengan 2021, estimasi populasi Elang Jawa di kawasan TNBTS sejumlah 35 ekor.

Selain Araga juga dilepasliarkan Elang Ular Bido berjenis kelamin jantan bernama Moris yang juga hasil penyerahan masyarakat Bogor ke PSSEJ Loji, BTNGHS. Moris juga telah menjalani rehabilitasi selama 5 (lima) bulan.

Moris memiliki ciri khas kulit kuning tanpa bulu di antara mata dan paruh, kakinya berwarna kuning, memiliki sayap lebar dan membulat, tubuhnya berwarna gelap dan memiliki ekor pendek.

"Kondisi saat ini sehat, mampu terbang dan bertengger serta berburu mangsa sehingga dinyatakan siap untuk dilepasliarkan," kata Novita.

Habitat Elang Ular Bido sering melintasi hutan, perkebunan dan padang rumput, umumnya dijumpai pada ketinggian 700-2.000 Mdpl.

Berdasarkan kajian, habitat TNBTS merupakan habitat ideal untuk perkembangbiakan Elang Jawa dan Elang Ular Bido tersebut. Selain Elang Jawa, TNBTS juga merupakan habitat dari Macan Tutul, Lutung Jawa dan rumah dari ratusan jenis anggrek.

elang garuda dilepasliarkan di hutan tnbts

Pelepasliaran dua jenis satwa jenis aves (burung) yang dilindungi itu merupakan rangkaian memperingati Hari Konservasi Alam Nasional Tahun 2021 sekaligus memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-76. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat luas.

Selain pelepasan satwa acara juga diisi penanaman tumbuhan langka TNBTS yaitu Pinang Jawa (Pinanga javana Blume). Acara berlangsung di Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah IV, Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Lumajang, Rabu (18/8).

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Komunitas Peduli Lingkungan Burungnesia, masyarakat desa penyangga TNBTS dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Lumajang.

Baca juga:
Gajah Mati Tanpa Kepala Ditemukan di Aceh Timur, 5 Orang Pelaku Ditangkap
Gerombolan Monyet Liar Resahkan Warga Depok
Satwa Endemik Sumut, Ini Fakta Menarik Beo Nias yang Dilindungi

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Satwa Indonesia
  3. Hewan Langka
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini