Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Di Hollywood, kisah maling dan pelacur bisa difilmkan

Di Hollywood, kisah maling dan pelacur bisa difilmkan Leonardo DiCaprio. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Materi dan konsep merupakan kunci sukses dan hal terpenting dalam suatu proses produksi sebuah film. Para produsen film biasanya akan mencari kisah yang tepat untuk mereka angkat.

Salah satu bentuk sinematografi yang kerap diangkat industri perfilman Hollywood adalah biopik atau film biografi, yang isi ceritanya tidak lain diambil dari kisah nyata seseorang.

Sudah banyak kisah-kisah dari tokoh besar dan terkenal yang dijadikan film biografi di industri Hollywood, yang menjadi magnet perfilman dunia. Sebut saja film yang mengangkat tokoh musisi legendaris Ray Charles dalam film Ray (2004) dan diperankan oleh aktor Jamie Foxx. Lalu ada film Ali (2001) yang mengisahkan perjalanan petinju dunia Muhammad Ali yang diperankan oleh Will Smith.

Di Indonesia sendiri, film-film biografi lebih mengangkat sosok-sosok para pahlawan, tokoh yang menjadi bagian sejarah di Tanah Air, tokoh agama, dan sosok lainnya. Namun, untuk di Hollywood, sosok seperti pelacur dan maling ternyata juga menjadi pilihan produsen untuk diangkat menjadi sebuah kemasan film.

Sebut saja film Monster (2003) yang bercerita tentang seorang mantan pelacur bernama Aileen Wuornos. Film yang dibintangi aktris Charlize Theron dengan genre drama ini menceritakan pembunuhan berantai dilakukan Wuornos pada akhir 1980-an sampai awal 1990-an. Wuornos akhirnya dihukum mati pada 2002, setahun sebelum film yang mengisahkan dirinya itu dirilis.

Charlize Theron sendiri mendapat tujuh belas penghargaan, termasuk di Academy Award untuk kategori Aktris Terbaik, di Golden Globe Award untuk kategori Aktris Terbaik dan di the Screen Actors Guild Awards untuk kategori Pemeran Utama Perempuan Terbaik.

Monster mendapat kritikan baik dari beberapa situs penyedia informasi tentang film. Situs Rotten Tomatoes memberikan nilai 7,2 dari sepuluh poin, sementara situs the Internet Movie Database (IMDb) memberikan nilai hampir sama, yakni 7,3 dari sepuluh poin. Film ini juga mendapat penghasilan kotor dari pemutaran di Amerika Serikat sekitar Rp 336,9 miliar.

Sementara untuk film yang mengangkat kisah seorang maling di industri perfilman Hollywood pernah dibuat dalam film Catch Me If You Can pada 2002 lalu. Film yang mengambil genre drama komedi ini dibuat berdasarkan biografi Frank Abagnale Junior, di mana sebelum ulang tahun ke-19 dia telah berhasil menggelapkan uang senilai jutaan dolar Amerika dengan menyamar sebagai pilot Pan American World Airways, dokter, dan pengacara.

Kejahatan utamanya adalah penipuan cek, dan karena dia begitu terampil maka agen Biro Penyelidik Federal (FBI) akhirnya meminta bantuannya dalam menangkap pelaku penipuan cek lainnya. Film ini disutradarai oleh Steven Spielberg dan diperankan beberapa aktor kawakan Amerika, seperti Leonardo DiCaprio yang memerankan tokoh utama Abagnale dan Tom Hanks sebagai Hanratty (Agen FBI).

Film ini juga mendapat sambutan baik, di mana situs IMDb dan Rotten Tomatoes sama-sama memberikan nilai 7,9 dari sepuluh poin. Rotten Tomatoes menulis film ini masuk dalam jajaran Box Office dengan pendapatan sekitar Rp 1,6 triliun.

Memang industri perfilman Hollywood kerap mengambil beberapa tokoh besar yang dijadikan film biografi. Namun, dua contoh film di atas seperti Monster dan Catch If You Can dengan mengambil sosok dari tokoh yang kurang baik di mata masyarakat, tapi ternyata film-film itu masih bisa diterima oleh para penikmat sinematografi. (mdk/hhw)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP