Di Balik Senyum Soeharto Ada Amarah yang Tersembunyi
Merdeka.com - Dalam pidato-pidatonya, Presiden kedua Soeharto adakalanya juga tidak dapat menyembunyikan amarahnya. Ketika marah, Soeharto biasanya berbicara di luar teks pidato yang ada di tangannya.
Istilah-istilah bahasa Jawa pun meluncur dari mulutnya secara spontan. Walau ia berusaha memperlihatkan senyumnya saat itu, namun orang yang melihat dapat mengetahui bahwa senyumnya itu menunjukkan 'senyum marah'.
Tidak heran, orang Jawa memang mampu melemparkan senyum ketika ia melontarkan kata-kata umpatan atau sedang marah sekalipun. Soeharto, tentu, tidak pernah luput dari sikap ethok-ethok atau berpura-pura dalam komunikasi politiknya. Sekali pun ia melontarkan kata-kata keras terhadap lawan politiknya, ia tetap berusaha menutupi perasaan hatinya yang sejati ketika itu.
Jelas, ketika Soeharto marah, semua diam, Tidak ada yang berani membuka mulut. Apa yang dititahkannya, itulah yang harus secepatnya dilaksanakan oleh para pembantunya.
Ketika Soeharto tidak sedang marah pun, para pembantunya takut. Demikian dikisahkan dalam buku 'Dari Soekarno Sampai SBY, Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa' karya Tjipta Lesmana.
Tapi, tidak banyak menteri yang mempunyai pengalaman melihat Pak Harto marah. Mantan Menteri Soeharto, Juwono Sudarsono mengemukakan bahwa komunikasinya dengan Pak Harto biasa-biasa saja dan baik.
"Tapi dialog umumnya bersifat basa-basi, kecuali jika menyangkut masalah tertentu, seperti ekonomi dam pertanian. Beliau kuat dengan fakta dan data," kata Juwono.
Para pembantu Soeharto mengetahui betul bahwa jika Pak Harto Marah, atau tidak senang dengan pembantunya, tidak selalu kemarahan itu dilampiaskan secara verbal. Sebagai pemimpin yang kerap komunikasi dengan menggunakan bahasa konteks tinggi, rasa tidak senangnya pada seseorang bisa dimanifeskan dalam bentuk penyingkiran atau pemecatan pejabat yang bersangkutan.
Komunikasi politik Soeharto juga ditandai oleh pameo silence is golden. Ia sedikit bicara, banyak senyum dan banyak action. Budaya Jawa mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus tenang dan mengendalikan diri, apapun situasi yang dihadapi.
Namun, di balik pancaran muka Soeharto yang tenang sesungguhnya bertahta sifat pendendam dan gampang 'digosok' oleh orang-orang kepercayaannya. Otak Soeharto rupanya tidak pernah berhenti bekerja, meski komunikasi verbal bisa berhenti. Ia tergolong cepat dalam mengambil keputusan. Dan sekali keputusan sudah diambil, Soeharto sulit mencabutnya.
(mdk/eko)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya