Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Detik-detik masjid megah dibangun sejak 1922 di Payakumbuh roboh

Detik-detik masjid megah dibangun sejak 1922 di Payakumbuh roboh masjid baiturrahman di payakumbuh. ©2018 Merdeka.com/ER Chania

Merdeka.com - Dua orang tukang bangunan, Deni (40) dan Rengga, nyaris tertimpa bangunan masjid yang roboh, sekitar pukul 17.20 Wib, Sabtu(27/1). Beruntung dalam waktu hitungan detik sebelum peristiwa, kedua orang tukang bangunan berhasil lari keluar masjid.

"Bunyi aneh seperti bangunan bergerak menjadi pertanda sesaat sebelum masjid Baiturrahman roboh. Diteriaki seorang anak, dua tukang bangunan yang tengah mengganti keramik dalam masjid berhasil menyelamatkan diri," kisah Ketua Pengurus Masjid, Riswandi, menceritakan kembali penuturan dua orang tukang bangunan, Sabtu malam.

Kesaksian lainnya disampaikan Sukardi, salah seorang warga yang tinggal persis di samping masjid Baiturrahman. Baru baru selesai mandi di pemandian tepat di belakang masjid, baru beberapa langkah dari pemandian, berjarak sekitar 4 meter dari dinding samping masjid. Tiba-tiba dalam hitungan detik suara dentuman keras sebanyak tiga kali, kepulan debu menyelimuti runtuhan bangunan masjid, sementara kubah sudah ambruk hingga ke tanah.

Sukardi kaget, karena bangunan masjid yang hanya berjarak 5 meter darinya ambruk. "Suaranya seperti mobil dam truk membongkar muatan batu kali," terang Sukardi mengawali kesaksiannya.

Dikatakan, bagian pertama yang roboh adalah kubah utama yang persis berada di tengah-tengah masjid. Lalu diikuti dengan bagian bangunan di sekitar kubah itu. Seketika bangunan masjid ditutupi kabut putih, bekas reruntuhan bangunan, tak tampak apapun kecuali debu menyelimuti reruntuhan, ujar Sukardi.

Saksi lainnya yang menyaksikan runtuhnya Masjid Baiturrahman, Hendrinaldi. Pria yang berprofesi sebagai penyuluh agama di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Payakumbuh Timur ini saat kejadian mengaku menyaksikan langsung detik-detik robohnya bangunan masjid.

"Awalnya saya berada dalam lokal MDA Masjid Baiturrahman, mengajar anak-anak mengaji. Kemudian dari arah masjid terdengar suara tukang memanggil nama saya setengah berteriak. Ketika saya songsong, tukang sudah berada di luar pintu masjid. Lalu tiba-tiba terdengar bunyi gemuruh sebanyak tiga kali dari arah atap masjid, seketika kubah dan bangunan masjid roboh," kata Hendrinaldi.

masjid baiturrahman di payakumbuh

masjid baiturrahman di payakumbuh sebelum roboh ©2018 Merdeka.com/ER Chania

Dikatakan, kabut tebal langsung menyelimuti bangunan masjid yang roboh. "Saya kaget bercampur panik, seketika saya kontak ketua masjid, lurah, camat. Saya bilang kepada ketua, ke sinilah bapak, ke sinilah, masjid awak dak ado lai (masjid kita enggak ada lagi)," cerita ustaz Endi, panggilan sehari hari Hendrinaldi.

Ustaz Endi merupakan orang pertama yang mendokumentasikan keadaan bangunan pasca roboh dan menyampaikannya melalui media sosial, sehingga kejadian robohnya Masjid Baiturrahman viral dan diketahui masyarakat banyak.

Ratusan orang langsung menyambangi halaman Masjid Baiturrahman Kelurahan Payobasung. Semuanya kaget, tak menyangka masjid yang begitu megah dan indah, telah roboh. Walikota Payakumbuh, Riza Falepi langsung datang melihat. Tak ketinggalan Sekda, Benny Warlis, sejumlah Asisten Sekretariat Pemko, dan beberapa kepala OPD Kota Payakumbuh.

Bukan akibat geologi, tapi masalah konstruksi

Tidak ada gerakan pada lapisan bumi akibat gempa, longsor atau pergerakan tanah tercatat saat menjelang ambruknya masjid Baiturrahman, Payobasuang Payakumbuh. Sehingga pakar geologi Sumbar, Ade Edward menyimpulkan peristiwa berkaitan dengan konstruksi bangunan.

"Sepertinya penyebab robohnya Masjid Baiturrahman, Payobasuang, Payakumbuh tidak ada kaitannya dengan gejala geologi. Sebab tidak ada pergeseran tanah, longsor atau gempa meski dalam skala kecil sekalipun. Kita menyimpulkan ini masalah konstruksi," terang Ade Edward, Sabtu(27/1) malam.

masjid baiturrahman di payakumbuh

masjid baiturrahman di payakumbuh ©2018 Merdeka.com/ER Chania

Sebelumnya pengurus Masjid Baiturahman, Riswandi menyebutkan, masjid dibangun tahun 1922 silam dengan pembangunan yang berkesinambungan secara terus menerus. Sementara tiang penyangga bagian tengah masjid yang dibangun saat itu, masih menggunakan material pasir, bukan semen.

"Pembangunan masjid awalnya tahun 1922, tiang penyangga bagian tengah masjid belum pernah diganti. Dulu kan belum ada semen, baru pasir dan kapur saja. Kemudian beberapa tahun lalu saat renovasi masjid, tiang penyangga hanya dilapisi keramik, tiang tetap menggunakan tiang lama, tidak diganti," terang Riswandi.

Ambruknya masjid terbaik di Kota Payakumbuh tahun 2014 dan pernah menyandang prestasi penyelenggara terbaik didikan shubuh tingkat Provinsi Sumbar ini, membuat jamaah dan warga Payakumbuh bersedih. Masyarakat berharal kedepannya akan segera kembali dilakukan pembangunannya.

(mdk/rnd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP