Densus 88 Geledah Pesantren di Sleman, Sita Laptop hingga Anak Panah

Selasa, 6 April 2021 07:36 Reporter : Purnomo Edi
Densus 88 Geledah Pesantren di Sleman, Sita Laptop hingga Anak Panah Ilustrasi penangkapan terduga teroris oleh Densus 88. ©2021 Merdeka.com/tribratanews.polri.go.id

Merdeka.com - Densus 88 menggeledah Pondok Pesantren Putri Ibnu Qoyyil di Dusun Gandu, Desa Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, DIY, Jumat (2/4) malam. Komputer, buku, busur dan anak panah disita dari lokasi itu.

Pengasuh sekaligus anak pendiri Ponpes Ibnu Qoyyil, M Najib Hisyam, mengakui adanya penggeledahan yang dilakukan Densus 88. Hanya saja Najib mengaku tak tahu banyak tentang kejadian itu.

"Saya di luar tadi. Tapi tadi ruangan direktur dan rumah dinasnya digeledah (rumah di depan Ponpes). Kebetulan direkturnya adik saya," kata Najib.

Najib menjelaskan adiknya berada di lokasi saat penggeledahan berlangsung. Sementara suaminya yang berinisial RAS tidak nampak. Najib menuturkan terakhir kali bertemu iparnya itu saat salat asar.

"Tadi waktu saya mengimami salat asar masih ada (RAS). Setelah itu saya mengimami salat magrib sudah nggak ada," tutur Najib.

Najib menerangkan jika RAS aslinya adalah warga Bantul. Dia mengajar di Ponpes Ibnu Qoyyil dan aktif menjadi pembicara di forum pengajian.

"Ini pertama kalinya pesantren ini digerebek sama polisi. Sebelumnya belum pernah ada. Pesantren sudah berdiri sejak tahun 1983," tutur Najib.

Terpisah, Ketua RT 04 Agus Purwanto mengatakan, dirinya sempat diminta menjadi saksi penggeledahan oleh Densus 88. Agus menyebut bahwa semua ruangan di pesantren itu diperiksa kecuali asrama santri.

"Penggeledahan dilakukan habis isya. Selesai sekitar jam 21.30 WIB. Semua ruangan digeledah, ruangan direktur, tata usaha, dan rumah direktur. Yang tidak digeledah asramanya," kata Agus.

Agus menjabarkan ada sejumlah barang dibawa Densus 88, seperti buku dan barang lainnya. "Yang dibawa laptop, CPU sama komputer. Buku-buku yang banyak dibawa. Ada buku tabungan. Ada juga busur panah dan anak panah jumlahnya 2," ungkapnya.

Dia juga mengakui pesantren itu baru kali ini digeledah Densus 88. Menurutnya, aktivitas pesantren biasa saja. "Gak ada yang mencolok. Aktivitasnya biasa saja kok," pungkas Agus.

Sementara itu, Sekretaris Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu'ti menegaskan, Pondok Pesantren Ibnul Qayyim Yogyakarta tak ada hubungan struktural dengan pihaknya.

Hal ini menyusul seruan dari pihak yang mengatasnamakan Himpunan Aktivis Muda Muhammadiyah untuk menggelar aksi merespons penggeledahan Pondok Pesantren Ibnul Qayyim yang dilakukan Detasemen Khusus (Densus) 88.

"Informasi yang saya terima dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Yogyakarta dan LP2M PP. Muhammadiyah, Pondok Pesantren Ibnul Qayyim tidak ada hubungan organisasi dan kepemilikan dengan Muhammadiyah," terang Mu'ti dalam akun Instagram pribadinya, dikutip pada Selasa (6/4).

"Dalam struktur Muhammadiyah tidak dikenal organisasi Himpunan Aktivis Muda Muhammadiyah. Kalau ada ajakan aksi oleh himpunan tersebut jelas tidak ada hubungan dengan Muhammadiyah," sambungnya.

Ia pun meminta warga Muhammadiyah pada khususnya untuk waspada dengan upaya hasutan dan adu domba di tengah situasi seperti ini.

"Masyarakat dan khususnya warga Muhammadiyah hendaknya bersikap kritis dan arif terhadap berbagai hasutan dan upaya adu domba dari orang-orang yang berusaha memancing di air keruh," ujarnya.

Ia pun meminta Densus 88 agar tidak sembrono dalam mengusut dugaan tindak kejahatan terorisme.

"Jajaran Densus 88 seharusnya bekerja profesional, tidak gegabah, dan unjuk kekuasaan dengan melanggar aturan. Kepala Densus seharusnya menindak tegas apabila terdapat anggota yang melanggar aturan, prosedur, dan kode etik," pungkas Mu'ti. [yan]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini