Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Demo tolak kompensasi murah lahan garapan, petani Cilacap bawa keranda

Demo tolak kompensasi murah lahan garapan, petani Cilacap bawa keranda Demo petani kangkung di Cilacap. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Menolak kompensasi lahan garapan yang dinilai terlalu murah, ratusan petani asal Desa Bantarsari, Kecamatan Bantarsari, Kabupaten Cilacap, kembali berdemonstrasi, Senin (25/9). Kali ini para petani mengusung keranda berisi jerami terbungkus kain mori perumpamaan sesosok mayat.

Jerami itu dikubur di area urukan tanah perluasan Puskesmas Bantarsari. Area tersebut seluas 80 ubin atau 1.125 meter persegi jadi pangkal persoalan.

"Aksi penguburan mayat sebagai simbol bahwa keadilan untuk petani sudah mati," kata Koordinator Aksi Rajiman dalam orasinya.

Selain itu, petani juga memberikan puluhan ikat sayur kangkung kepada pejabat Kecamatan Bantarsari dan aparat Kepolisian. Petani juga menuntut agar Pemkab Cilacap segera menyelesaikan proses sertifikasi lahan yang menggantung selama 17 tahun.

"Pembagian sayur kangkung melambangkan bahwa tanah garapan petani yang diuruk untuk pembangunan Puskesmas, adalah satu-satunya lahan untuk jaminan hidup. Tanah hanya satu-satunya yang dimiliki petani di sini," ujarnya.

Tuntutan petani meminta Pemkab Cilacap memberikan kompensasi Rp 200 ribu per ubin. Tetapi pengembang hanya bersedia memberi ganti rugi sebesar Rp 100 ribu per ubin. Para petani menegaskan pemerintah jangan asal main gusur, dan tidak mengkriminalisasi petani.

Sedang 80 ubin tanah yang jadi persoalan, dimiliki lima petani, yakni Nisem, Siti Purwaningsih, Surip, Wasirah dan Suliyo. Tanah itu merupakan warisan dari para orang tua penggarap. Penghargaan terhadap petani yang telah membuka lahan dan merawat tanah itu sejak tahun 1960-an itu, nampak disepelekan Pemkab Cilacap.

Rajiman dan petani lain menjadi khawatir, kasus yang sama bakal menimpa ratusan hektare tanah petani penggarap lainnya di Bantarsari. Itu sebabnya, ratusan petani yang merupakan anggota Peguyuban Tani Sri Rejeki (PTSR) meminta Pemda bersikap adil, dan menyelesaikan status tanah yang kini masih menggantung atau tanpa pemilik.

Berdialog dengan para petani, Camat Bantarsari, Budi Narimo berjanji akan mendampingi petani menuntut kompensasi yang memadai. Ia pun mengaku siap menyampaikan permintaan petani itu kepada pengembang dan Pemda Cilacap.

"Saya akan menyampaikan aspirasi panjenengan semua. Perlu dipahami, saya bukan pihak yang bisa mengambil keputusan," kata Budi. (mdk/cob)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP