Dampak Alih Fungsi Hutan, Gajah di Sumsel Tersisa 200 Ekor

Senin, 6 Juli 2020 22:04 Reporter : Irwanto
Dampak Alih Fungsi Hutan, Gajah di Sumsel Tersisa 200 Ekor Gajah mudik di Thailand. ©Lillian Suwanrumpha/AFP

Merdeka.com - Alih fungsi hutan dan pembalakan liar di wilayah Sumatera Selatan berpengaruh terhadap habitat gajah. Populasi gajah di Sumsel semakin berkurang yang kini hanya berjumlah 200 ekor.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel, Genman Suhefti Hasibuan mengatakan, alih fungsi lahan dan pembalakan liar menjadi ancaman utama bagi kelangsungan hewan dilindungi undang-undang. Setiap tahun jumlah gajah semakin berkurang seiring banyaknya hutan yang sebelumnya menjadi habitat sudah menjadi lahan perkebunan.

"Sampai bulan ini populasi gaji jinak maupun liar tersisa 190 ekor sampai 200 ekor saja. Penyebabnya karena alih fungsi hutan dan pembalakan liar," ungkap Genman, Senin (6/7).

Tak hanya populasi berkurang, alih fungsi hutan dan pembalakan liar menyebabkan konflik gajah dengan manusia. Sepanjang tahun ini saja terjadi empat kasus konflik yang menyebabkan korban jiwa, yakni di Ogan Komering Ilir dan Musi Rawas Utara.

"Gajah semakin terdesak karena habitatnya terganggu dan berkurang, karena itulah terjadi konflik dengan masyarakat sekitar," ujarnya.

Dia menambahkan, 200 ekor gajah mayoritas tersebar di Air Sugihan yang berada di perbatasan Ogan Komering Ilir dan Banyuasin. Di sana pakan gajah masih mencukupi dan lokasinya cukup jauh dari pemukiman.

"Sejauh ini belum ada kasus gajah mati akibat kebakaran hutan dan lahan. Karena itu habitatnya harus dijaga untuk mencegah ancaman bagi mereka," tutupnya. [fik]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini