Dadiah, yogurt khas minang dari susu kerbau

Jumat, 27 Juni 2014 15:04 Reporter : Eda Ervina
Dadiah, yogurt khas minang dari susu kerbau ampiang dadiah. ©flickr.com

Merdeka.com - Tak ada yang memungkiri nusantara kaya akan kuliner yang memicu gejolak menelan air liur. Tak terkecuali dengan Sumatera Barat. Salah satu daya tarik pelancong saat menyinggahi ranah minang adalah kulinernya. Bicara rendangnya yang mendunia sudah biasa, satenya bukan hal yang baru lagi, teh talua pun sudah banyak dikenal, namun bicara ampiang dadiah mungkin masih asing.

Ampiang dadiah, dua jenis makanan yang tak dapat dipisahkan satu sama lain. Ampiang jika dalam bahasa Indonesia berarti emping beras yang biasanya terbuat dari beras ketan merah, sedangkan dadiah dalam serapan bahasa modern sering diperkenalkan sebagai yogurtnya orang minang, karena berasal dari fermentasi susu, tapi yang digunakan susu kerbau.

Baiklah, lebih jauh kita mengenal dadiah terlebih dahulu. Dalam proses pengolahannya, dadiah berasal dari susu kerbau segar yang kemudian dibekukan di dalam bambu yang sudah di potong-potong. Biasanya bambu tersebut berukuran 15-30 centi meter. Bambu tersebut lalu ditutup, biasanya ditutup dengan daun pisang.

Proses fermentasi dadiah sendiri akan mencapai hasil maksimal setelah didiamkan selama 2 malam di dalam tabung bambu. Dadiah masih layak dan sehat untuk dikonsumsi sampai rentang waktu satu minggu sejak mulai difermentasikan.

Melihat sejarahnya, Dadiah kuliner berasal dari daerah darek di ranah Minang, seperti Bukit Tinggi, Tanah Datar, dan Padang Panjang. Dahulunya dadiah merupakan makanan favorite pengganti lauk. Tidak itu saja, dadiah juga sebagai makanan sampingan. Bentuknya yang mirip agar-agar, selain disantap dengan nasi, biasanya juga disantap bersama potongan cabe muda. Hal ini hampir mirip dengan kebiasaan orang Persia yang memakan susu fermentasi dengan bawang merah dan mentimun.

Dadiah masih menjadi favorite bagi orang tua. Tak heran, Indah (25), perantau asal Bukit Tinggi menyebutkan bahwa ampiang dadiah adalah makanan orang-orang sepuh.

"Dadiah tuh makanan inyiak-inyiak (Ampiang dadiah itu makanan nenek-nenek)," ujar Indah saat ditanyai merdeka.com, Jumat (27/6).

Namun dewasa ini, sajian dadiah tak dapat dilepaskan dengan ampiang atau emping beras. Campuran ampiang, dadiah, kuah gula merah cair, serutan kelapa, dan serutan es terasa segar dan nikmat disantap.

Berdasarkan keyakinan turun temurun, dadiah dipercaya berkhasiat untuk menurunkan kadar kolesterol, memacu kesehatan dan cara kerja jantung, serta makanan yang baik untuk menambah stamina dan daya tahan tubuh. Tidak itu saja, sebagian meyakini bahwa dadiah juga berkhasiat untuk menambah vitalitas dan gairah seksual kaum pria.

Namun demikian, dadiah yang jika dikonsumsi secara berlebihan dari takaran standar antara 1 sampai 2 kali dalam 5 hari, juga dikhawatirkan akan mengakibatkan si konsumen rentan terserang hypertensi dan tekanan darah tinggi.

Ada baiknya ketika menginjakkan kaki di Ranah Minang, hal yang biasanya wajib dikunjungi adalah Bukit Tinggi. Ketika terlalu bosan dengan nasi kapau, mencicipi dadiah yang lebih dikenal dengan sebutan ampiang dadiah menjadi alternatif. Sebab mencari kuliner ini sulit-sulit gampang. Kota yang biasa menyediakan kuliner ini adalah Bukit Tinggi. Namun, di Padang Panjang, Bofet Gumarang yang terkenal dengan es kampiunnya juga menyediakan menu dadiah.

Dadiah, yogurt tradisional ini biasa juga menjadi buah tangan bagi para pelancong akan dibawa ke luar Pulau Sumatera bahkan hingga ke negara tetangga Malaysia. [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Kuliner Indonesia
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini