Curhat Pengelola Wisata Batu di Tengah Dampak Larangan Mudik
Merdeka.com - Kendati dalam suasana Libur Lebaran Idul Fitri, pengelola Wisata di Kota Batu mengaku tidak memetik 'panen' seperti masa normal sebelumnya. Suasana pandemi dan larangan mudik dirasakan berdampak besar bagi tingkat kunjungan wisata di Kota Batu,
“Setahun itu ada tiga liburan, libur tahun baru, libur Lebaran dan libur sekolah. Kita sudah melewati itu semua. Jadi harapan kita di libur Lebaran mendapatkan pengunjung, pupus sudah harapan itu,” ungkap Titik A Riyanto, Marketing Manager Jatim Park Group di Batu, Minggu (16/5).
Seharusnya minggu-minggu seperti ini menjadi panennya tempat pariwisata di Batu dan sekitarnya. Bahkan puncaknya itu biasanya menjelang hari mulai aktif bekerja atau Senin. Semua itu tidak mungkin lagi terjadi di saat masa pandemi seperti sekarang ini.
“Karena ini situasi pandemi dan ada pembatasan wilayah, kita bisa lihat kondisinya seperti apa,” ungkapnya.
Jatim Park Group mengelola sejumlah tempat wisata besar di Kota Batu, yakni Jatim Park 3, Jatim Park 2 (Secret Zoo), Jatim Park 1 (Museum Tubuh), Museum Angkut dan Batu Love Garden (Baloga).
Titik mencontohkan, rata-rata kunjungan wisatawan saat H+1 tidak melebihi 1000 orang pengunjung. Padahal saat normal bisa mencapai 6 ribu per park atau 30 ribu untuk semua Jatim Park Grup.
Selama pandemi Jatim Park 2, hanya dikunjungi 600 orang, sementara Jatim Park 1 cuma 107 orang. Padahal biasanya melebihi 2 ribu orang pengunjun.
“Baloga yang agak lumayan cukup tinggi di hari pertama, sekitar 700-an orang. Itu paling tinggi, mungkin karena dipengaruhi faktor masih baru,” katanya.
Tidak dipungkiri pembatasan atau larangan mudik mempengaruhi tingkat kunjungan para wisatawan. Karena memang wisatawan di luar zona II (Malang Raya, Pasuruan dan Probolinggo) dilarang ke Kota Batu.
“Pasti berpengaruh, kedatangan tamu hotel juga berpengaruh,” tegasnya.
Walaupun sebenarnya juga sudah diantisipasi sebelumnya. Dua pekan sebelumnya, promosi digencarkan di segmen lokal Malang Raya, Probolinggo dan Pasuruan.
“Kami memaklumi kebijakan pemerintah, karena ini yang terbaik untuk kita semua. Memang memprihatinkan, wisatawan yang datang ke tempat kami orang-orang lokal Malang Raya, Pasuruan dan Probolinggo," urainya.
(mdk/ded)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya